عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ المؤْمِنينَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مَا لَا يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ.
Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan, "Rasulullah ﷺ sangat giat beribadah di sepuluh malam terakhir Ramadan lebih daripada waktu lainnya."
1- Anjuran memperbanyak kebajikan dan aneka macam ketaatan sepanjang bulan Ramadan secara umum, khususnya sepuluh malam terakhir.
2- Sepuluh malam terakhir Ramadan dimulai dari malam ke-21 sampai akhir bulan.
3- Anjuran memanfaatkan waktu-waktu mulia dengan ketaatan.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا المُجَاهِرِينَ، وَإِنَّ مِنَ المُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ، فَيَقُولَ: يَا فُلاَنُ، عَمِلْتُ البَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Semua umatku dimaafkan kecuali yang berbuat dosa terang-terangan. Sungguh, termasuk berbuat dosa terang-terangan ialah seseorang berbuat dosa di malam hari, sementara Allah telah menutupinya, namun keesokan harinya ia malah bercerita, 'Wahai fulan, tadi malam aku melakukan ini dan itu.' Padahal, Tuhannya telah menutupinya di malam harinya, tetapi pada pagi harinya ia justru membuka apa yang telah Allah tutup."
1- Buruknya perilaku menampakkan kemaksiatan setelah Allah Ta'ala menutupinya.
2- Melakukan maksiat secara terang-terangan mengandung tindakan menyebarkan kekejian di tengah orang-orang beriman.
3- Orang yang ditutupi oleh Allah di dunia akan ditutupi di akhirat, dan ini termasuk bentuk keluasan rahmat Allah Ta'ala pada hamba-Nya.
4- Orang yang terjerumus dalam suatu kemaksiatan harus menutupi dirinya dan bertobat kepada Allah.
5- Besarnya dosa pelaku maksiat secara terang-terangan yang sengaja menampakkan kemaksiatan, dan mereka telah menyia-nyiakan kesempatan untuk memperoleh ampunan.
عن المِقْدَادُ رضي الله عنه في حديثه الطويل: كنا نَرَفَعُ للنبي صلى الله عليه وسلم نَصِيبَهُ من اللَّبَنِ ، فَيَجِيءُ من الليل، فَيُسَلِّمُ تسليما لا يُوقِظُ نائما، ويُسْمِعُ اليَقْظَانَ، فجاء النبي صلى الله عليه وسلم فَسَلَّمَ كما كان يُسَلِّمُ.
Dari Al-Miqdād -raḍiyallāhu 'anhu- dalam hadisnya yang panjang, ia berkata, “Dahulu kami pernah mengkhususkan untuk Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bagian tertentu dari susu. Lalu beliau datang di waktu malam, kemudian memberikan salam tanpa membangunkan yang tidur, namun terdengar oleh yang masih terjaga. Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- datang, lalu mengucapkan salam sebagaimana beliau biasa mengucapkan salam.”
عن عائشة رضي الله عنها ، قالت: كُنَّا نُعِدُّ لرسول الله صلى الله عليه وسلم سِوَاكَهُ وَطَهُورَهُ، فَيَبْعَثُهُ الله ما شاء أن يَبْعَثَهُ من الليل، فَيَتَسَوَّكُ، ويتوضَّأ ويُصلي.
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- ia berkata, "Kami biasa menyiapkan untuk Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- siwaknya dan air untuk bersuci. Lantas Allah membangunkannya sesuai kehendak-Nya di sebagian malam lalu beliau bersiwak, wudu dan salat."
عَنْ سَعْدِ بنِ أبي وَقَّاصٍ رَضيَ اللهُ عنه قَالَ: كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: «أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَكْسِبَ، كُلَّ يَوْمٍ أَلْفَ حَسَنَةٍ؟» فَسَأَلَهُ سَائِلٌ مِنْ جُلَسَائِهِ: كَيْفَ يَكْسِبُ أَحَدُنَا أَلْفَ حَسَنَةٍ؟ قَالَ: «يُسَبِّحُ مِائَةَ تَسْبِيحَةٍ، فَيُكْتَبُ لَهُ أَلْفُ حَسَنَةٍ، أَوْ يُحَطُّ عَنْهُ أَلْفُ خَطِيئَةٍ».
Sa'ad bin Abi Waqqāṣ -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Kami pernah bersama Nabi ﷺ. Beliau bertanya: "Apakah kalian tidak mampu mengumpulkan seribu kebaikan setiap hari?!" Lalu di antara rekan duduknya bertanya, "Bagaimana caranya salah seorang dari kami bekerja menghasilkan seribu kebaikan?" Beliau menjawab, "Ia bertasbih 100 kali, sehingga ia akan diberikan seribu kebaikan atau digugurkan darinya seribu keburukan."
1- Anjuran melakukan amal-amal yang utama karena merupakan tangga menuju ketaatan.
2- Keutamaan bertasbih dan berzikir. Amalan yang ringan ini serta tidak membebani sedikit pun akan mendatangkan pahala yang besar ini.
3- Kecepatan para sahabat untuk mengerjakan kebaikan tanpa penundaan.
4- Pelipatgandaan kebaikan hingga sepuluh kali lipat. Hal ini sejalan dengan firman Allah Ta'ala, "Siapa yang berbuat kebaikan, maka baginya sepuluh kali lipatnya." [QS. Al-An'ām: 160] Ini adalah tingkat pelipatgandaan yang paling kecil, sebab disebutkan dalam hadis hingga tujuh ratus kali lipat.
5- Di sebagian riwayat menggunakan kata "waw" sebagai ganti "aw" (artinya: atau) pada kalimat "aw yaḥuṭṭu 'anhu ..." Al-Qāriy berkata, "Huruf "waw" kadang berarti "aw" (atau) sehingga tidak ada pertentangan antara kedua riwayat tersebut. Sebab itu, maknanya: siapa yang membacanya, akan dituliskan baginya seribu kebaikan jika ia tidak memiliki dosa, atau dihapuskan sebagian dan didapatkan sebagian. Bisa juga huruf "aw" menunjukkan makna "waw" (artinya: dan) atau menunjukkan makna "bal" (artinya: melainkan). Ketika seperti itu, maka keduanya digabungkan untuknya. Sungguh, karunia Allah lebih luas dari itu." Artinya: Dituliskan untuknya seribu kebaikan serta dihapuskan darinya seribu keburukan.
عن عمرو بن عوف الأنصاري رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم بعث أبا عبيدة بن الجراح رضي الله عنه إلى البحرين يأتي بِجِزْيَتِهَا، فَقدِم بمالٍ من البحرين، فسمعت الأنصار بقدوم أبي عبيدة، فَوَافَوْا صلاة الفجر مع رسول الله صلى الله عليه وسلم فلما صلى رسول الله صلى الله عليه وسلم انصرف، فَتَعَرَّضُوا له، فتَبسَّم رسول الله صلى الله عليه وسلم حين رآهم، ثم قال: «أَظُنُّكُمْ سَمِعتم أن أبا عبيدة قَدِم بشيءٍ من البحرين؟» فقالوا: أجل، يا رسول الله، فقال: «أبشروا وأمِّلوا ما يَسُرُّكُم، فوالله ما الفَقرَ أخشى عليكم، ولكني أخَشى أن تُبْسَط الدنيا عليكم كما بُسِطَت على من كان قبلكم، فتَنَافسوها كما تَنَافسوها، فَتُهْلِكَكُم كما أهْلَكَتْهُمْ».
Dari Amru bin Auf Al-Anṣāri -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa sesungguhnya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengutus Abu Ubaidah bin Al-Jarrāh -raḍiyallāhu 'anhu- ke Bahrain untuk mengambil jizyah (upeti). Ia pulang dengan membawa harta dari Bahrain. Lantas orang-orang Ansar mendengar kedatangan Abu Ubaidah, mereka pun melaksanakan salat Fajar bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Usai salat, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- beranjak pergi. Ternyata orang-orang Ansar menghadang beliau. Beliau tersenyum saat melihat mereka, lalu bersabda, "Aku kira kalian sudah mendengar kedatangan Abu Ubaidah dari Bahrain dengan membawa sesuatu?" Mereka menjawab, "Tentu saja, wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "Bergembiralah dan berharaplah dengan sesuatu yang menyenangkan kalian. Demi Allah, bukan kefakiran yang aku khawatirkan menimpa kalian, tetapi yang aku khawatirkan ialah terbentangnya dunia pada kalian sebagaimana dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian, sehingga kalian berlomba-lomba sebagaimana mereka berkompetisi, lalu dunia membinasakan kalian sebagaimana membinasakan mereka."
عن أنس رضي الله عنه قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يُفْطِرُ من الشهر حتى نظن أن لا يصوم منه، ويصوم حتى نظن أن لا يُفْطِرَ منه شيئا، وكان لا تَشَاءُ أن تراه من الليل مُصَلِيًا إلا رأيتَه، ولا نائما إلا رأيتَه.
Dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- biasa berbuka (tidak berpuasa sunah) dalam satu bulan hingga kami mengira bahwa beliau tidak berpuasa sedikitpun selama bulan itu. Dan beliau juga pernah berpuasa (sunah) terus hingga kami mengira bahwa beliau tidak pernah berbuka sama sekali dalam bulan itu. Dan tidaklah engkau ingin melihat beliau pada suatu malam dalam keadaan salat, melainkan engkau melihatnya. Sebaliknya, tidaklah engkau ingin melihat beliau dalam keadaan tidur, melainkan engkau melihatnya juga."
عن أبي جُرَيٍّ الْهُجَيْمِيِّ رضي الله عنه قال: أتيت رسول الله صلى الله عليه وسلم فقلت: عليك السلام يا رسول الله. قال: «لا تَقُلْ عليك السلام؛ فإن عليك السلام تحيَّة المَوْتَى».
Dari Abu Jurayy Al-Hujaimi -raḍiyallāhu 'anhu-, seraya berkata, "Aku mendatangi Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu berkata, " 'alaikas salām", wahai Rasulullah!" Beliau bersabda, "Jangan kau ucapkan " 'alaikas salām" (salam untukmu), karena ucapan ini adalah sapaan bagi orang-orang yang sudah meninggal dunia!"
عن ابن مسعود رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «لا حَسَدَ إلا في اثنتين: رجل آتاه الله مالا، فسَلَّطَه على هَلَكَتِهِ في الحَقِّ، ورجل آتاه الله حِكْمَة، فهو يقضي بها ويُعَلِّمَها».
وعن ابن عمر رضي الله عنهما ، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «لا حسد إلا في اثنتين: رجل آتاه الله القرآن، فهو يقوم به آناء الليل وآناء النهار، ورجل آتاه الله مالا، فهو ينفقه آناء الليل وآناء النهار».
Dari Ibnu Mas’ud- raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Tidak boleh hasad (iri hati) kecuali pada dua orang: Orang yang Allah anugerahkan baginya harta, lalu ia infakkan di jalan kebenaran, dan orang yang Allah karuniakan hikmah (ilmu yang berdasarkan Al-Qur`ān dan Sunnah), lalu ia memutuskan perkara/mengadili dengannya dan mengajarkannya.” Dan dari Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā-, dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- beliau bersabda, “Tidak boleh hasad (iri hati) kecuali kepada dua orang; Orang yang Allah anugerahi hafalan Al-Qur`ān, lalu ia salat dengan membacanya malam dan siang, dan orang yang Allah karuniakan baginya harta, lalu ia menginfakkannya siang dan malam.”
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضيَ اللهُ عنه عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: «اللهُمَّ لَا عَيْشَ إِلَّا عَيْشُ الْآخِرَهْ، فَاغْفِرْ لِلْأَنْصَارِ وَالْمُهَاجِرَهْ».
Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ berdoa, Allāhumma lā ‘aisya illā ‘aisyul-ākhirah, fa-gfir lil-anṣāri wa al-muhājirah
Artinya: "Ya Allah, tidak ada kehidupan yang hakiki kecuali kehidupan akhirat. Sebab itu, ampunilah kaum Ansar dan Muhajirin."
1- Sikap zuhud Nabi ﷺ terhadap dunia dan kecenderungannya pada akhirat.
2- Nabi ﷺ mangajak umatnya untuk bersikap zuhud terhadap harta kenikmatan dunia yang fana.
3- Menjelaskan keutamaan Muhajirin dan Ansar, yaitu mereka mendapatkan doa Nabi ﷺ yang memohonkan ampunan untuk mereka.
4- Seorang hamba tidak boleh bahagia secara berlebihan lantaran dunia yang diperolehnya, karena dunia itu akan sirna secara cepat dengan segala kesusahan yang ada di dalamnya. Negeri abadi nan kekal itu adalah akhirat.