عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «لاَ يَجْزِي ولدٌ والدًا إلا أن يجده مملوكًا، فَيَشْتَرِيَهُ فَيُعْتِقَهُ».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Seorang anak tidak akan bisa membalas (jasa) bapaknya kecuali jika ia menemukannya dalam sebagai budak lalu membelinya dan memerdekakannya."
عن أبي هريرة رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: «إنه لَيَأتي الرَّجلُ السَّمين العظيم يوم القيامة لا يَزِنُ عند الله جَناح بَعُوضة».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, ia bersabda, “Sesungguhnya kelak akan datang seseorang yang sangat besar dan gemuk pada hari kiamat, akan tetapi timbangannya di sisi Allah tidak seberat sayap nyamuk."
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَا يَسْتُرُ عَبْدٌ عَبْدًا فِي الدُّنْيَا إِلَّا سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Tidaklah seorang hamba menutupi aib hamba lainnya di dunia melainkan Allah akan menutupi aibnya pada hari Kiamat."
1- Perintah menutupi aib seorang muslim ketika ia melakukan suatu kemaksiatan disertai dengan mengingkari, menasihati dan mengingatkannya tentang Allah. Adapun jika ia termasuk pelaku keburukan dan kerusakan yang memamerkan kemaksiatan dan kefasikan, maka tidak sepatutnya ditutupi, karena menutupinya akan membuat mereka lebih berani melakukan kemaksiatan. Orang seperti itu hendaknya dilaporkan ke pihak penguasa, walaupun hal itu mengandung penyebutannya karena ia telah terang-terangan memperlihatkan kefasikan dan kemaksiatannya.
2- Anjuran untuk menutupi kesalahan orang lain.
3- Di antara faedah menutupi kesalahan adalah memberi kesempatan bagi pelaku dosa untuk introspeksi diri dan bertobat kepada Allah; karena menampakkan aib dan kekurangan termasuk menebar dosa, merusak suasana sosial, dan menggiurkan orang lain untuk melakukannya.
عن أبي هريرة ـ رضي الله عنه ـ قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «لا يَلِجُ النارَ رجُل بَكى من خشية الله حتى يَعود اللَّبنُ في الضَّرْع، ولا يَجتمع غُبَارٌ في سبيل الله وَدُخَانُ جهنم».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Tidak akan masuk neraka orang yang menangis karena takut kepada Allah hingga air susu kembali ke teteknya, dan tidak akan berkumpul debu di jalan Allah dengan asap Jahanam."
عَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ وَفَاتِهِ بِثَلَاثٍ يَقُولُ: «لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللهِ الظَّنَّ».
Jābir -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda pada waktu tiga hari sebelum beliau meninggal dunia, "Jangan sekali-kali kalian meninggal dunia kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah."
1- Perhatian Nabi ﷺ dalam membimbing umatnya serta besarnya kasih sayang beliau kepada mereka di semua keadaan. Bahkan pada saat sakit menjelang kematiannya, beliau masih menasihati umatnya dan menunjuki mereka jalan keselamatan.
2- Aṭ-Ṭībiy berkata, "Perbaikilah amal kalian sekarang supaya bagus prasangka kalian kepada Allah saat kematian. Orang yang amalnya buruk sebelum kematian, prasangkanya pun akan buruk ketika kematian."
3- Keadaan paling sempurna bagi seorang hamba ialah seimbang antara rasa harap dan takut serta adanya dominasi cinta. Cinta sebagai kendaraan, harap sebagai penunjuk jalan, dan rasa takut sebagai sopir, sedangkan Allah yang mengantarkan (ke tujuan) dengan karunia dan kebaikan-Nya.
4- Orang yang berada dekat dengan orang yang mengalami sekarat hendaknya mengedapankan sisi harapan dan baik sangka kepada Allah. Di dalam hadis ini diterangkan bahwa beliau ﷺ mengucapkannya tiga hari sebelum meninggal dunia.
عَنِ الزُّبَيْرِ بْنِ العَوَّامِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَأَنْ يَأْخُذَ أَحَدُكُمْ حَبْلَهُ، فَيَأْتِيَ بِحُزْمَةِ الحَطَبِ عَلَى ظَهْرِهِ، فَيَبِيعَهَا، فَيَكُفَّ اللَّهُ بِهَا وَجْهَهُ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ أَعْطَوْهُ أَوْ مَنَعُوهُ».
Zubair bin al-Awwām -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Nabi ﷺ bersabda, "Sungguh, seandainya salah seorang dari kalian mengambil seutas tali kemudian kembali dengan memikul seikat kayu bakar di atas punggungnya lalu menjualnya sehingga dengan hal itu Allah menjaga wajahnya, hal itu lebih baik baginya daripada dia meminta-minta kepada sesama manusia, baik mereka memberinya atau menolaknya."
1- Anjuran untuk menjaga dan menghindarkan diri dari perbuatan minta-minta.
2- Motivasi untuk bekerja guna menghasilkan rezeki sekali pun pekerjaan sederhana dan rendah dalam pandangan orang lain.
3- Islam memusuhi perbuatan minta-minta dan pengangguran. Oleh karena itu, Islam mewajibkan berusaha dan bekerja walaupun berat, seperti mengumpulkan kayu bakar.
4- Tidak halal meminta-minta saat mampu bekerja dan mencari rezeki.
5- Meminta kepada pemimpin ketika ada kebutuhan hukumnya boleh. Allah ﷻ berfirman, "Tidak ada (dosa) atas orang-orang yang datang kepadamu (Muhammad) agar engkau memberi kendaraan kepada mereka, lalu engkau berkata, 'Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu,' lalu mereka kembali sedang mata mereka bercucuran air mata karena sedih, disebabkan mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka infakkan (untuk ikut berperang)."
6- Orang yang terpaksa meminta karena tidak mampu bekerja termasuk mengumpulkan kayu bakar, ia diperbolehkan meminta, namun tidak boleh memaksa. Allah ﷻ berfirman, "Mereka tidak meminta secara paksa kepada orang lain." [QS. Al-Baqarah: 273]
7- An-Nawawi berkata, "Di dalam hadis ini terdapat anjuran untuk bersedekah, makan dari hasil kerja sendiri, dan mencari rezeki lewat cara-cara yang halal."
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضيَ اللهُ عنهُ سمعتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يقولُ: «أَلاَ إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ، مَلْعُونٌ مَا فِيهَا، إِلاَّ ذِكْرُ اللهِ وَمَا وَالاَهُ وَعَالِمٌ أَوْ مُتَعَلِّمٌ».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Aku telah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Ketahuilah bahwa dunia itu terlaknat, terlaknat pula apa yang ada di dalamnya, kecuali zikir kepada Allah Ta'ala dan apa yang mengikutinya, serta orang yang alim dan yang menuntut ilmu."
1- Tidak boleh melaknat dunia secara umum karena adanya hadis-hadis yang melarang hal itu, tetapi boleh melaknat perkara yang dapat menjauhkan dari Allah Ta'ala dan yang menyibukkan dari ketaatan kepada-Nya.
2- Semua yang ada di dunia adalah permainan dan hal yang sia-saia, kecuali zikir kepada Allah dan semua yang menjadi sebab dan sarana untuk itu.
3- Menjelaskan keutamaan ilmu, orang berilmu, dan orang-orang yang menuntutnya.
4- Ibnu Taimiyah berkata, "Kenikmatan dunia yang dicela adalah perkara haram yang tidak dibenarkan, atau perkara halal yang dilakukan dengan bermegah-megah dan bermewah-mewah serta yang dimiliki dengan tujuan berbangga dan menyombongkan diri. Itulah yang dibenci oleh orang yang berakal."
عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَقِيتُ إِبْرَاهِيمَ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، أَقْرِئْ أُمَّتَكَ مِنِّي السَّلاَمَ، وَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ الجَنَّةَ طَيِّبَةُ التُّرْبَةِ عَذْبَةُ الْمَاءِ، وَأَنَّهَا قِيعَانٌ، وَأَنَّ غِرَاسَهَا سُبْحَانَ اللهِ وَالحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ».
Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Aku bertemu Nabi Ibrahim pada malam aku diperjalankan (malam Isra Mikraj). Ia berkata, 'Wahai Muhammad! Sampaikanlah salamku untuk umatmu. Sampaikan kepada mereka bahwa tanah surga itu semerbak, airnya tawar, ia merupakan tempat yang luas dan tak berpohon, dan penumbuh pepohonannya adalah bacaan: Subḥānallāh wal-ḥamdulillāh wa lā ilāha illallāh wallāhu akbar.'"
1- Anjuran agar merutinkan zikir demi memperbanyak pepohonan surga.
2- Keutamaan umat Islam, yaitu dikirimi ucapan salam oleh Nabi Ibrahim -'alaihissalām-.
3- Ibrahim -'alaihissalām- memotivasi umat Nabi Muhammad ﷺ agar memperbanyak zikir kepada Allah Ta'ala.
4- Aṭ-Ṭībiy berkata, "Surga itu tanah luas nan kosong. Kemudian Allah Ta'ala dengan karunia-Nya menciptakan padanya pohon-pohon dan istana-istana sesuai amalan orang-orang yang beramal saleh. Setiap orang akan mendapatkan bagiannya dengan sebab amalnya. Kemudian setelah Allah Ta'ala memudahkannya pada amalan yang ditetapkan untuknya agar ia memperoleh pahala, Dia menjadikannya seperti orang yang menanam pohon-pohon tersebut.
عن أبي هريرة ـ رضي الله عنه ـ قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: «لم يبقَ من النُّبُوَّةِ إلا المُبَشِّرَاتُ» قالوا: وما المُبَشِّرَاتُ ؟ قال: «الرؤيا الصالحة».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Aku pernah mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Tidak ada yang tersisa dari kenabian selain Al-Mubasy-syirāt." Para sahabat bertanya, "Apa Al-Mubasy-syirāt itu?" Beliau bersabda, "Mimpi yang baik."
عن أبي هريرة رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: «لو كان لي مِثْلُ أحدٍ ذهبًا، لسرني أن لا تمر عليَّ ثلاث ليالٍ وعندي منه شيءٌ إلا شيء أرْصُدُهُ لِدَيْنٍ».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, "Seandainya aku mempunyai emas seperti gunung Uhud, tentu aku sangat senang sekali jika tidak berlalu tiga malam dalam keadaan aku masih memiliki sebagian harta itu kecuali sedikit yang aku sisihkan untuk (bayar) utang."