عن السَّائب بن يزيد رضي الله عنه قال: لما قَدِم النبي صلى الله عليه وسلم من غَزْوة تَبُوك تَلَقَّاهُ الناس، فَتَلَقَّيتُه مع الصِّبْيَان على ثَنيَّةِ الوَدَاع.
ورواية البخاري قال: ذَهَبْنا نَتَلَقَّى رسول الله صلى الله عليه وسلم مع الصِّبْيَان إلى ثَنيَّةِ الوَدَاع.
Dari As-Sā'ib bin Yazīd -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Ketika Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- datang dari perang Tabuk, orang-orang menemuinya, lalu aku pun menemuinya bersama anak-anak di atas bukit Al-Wada'. Dalam riwayat Bukhari, As-Sī'ib berkata, "Kami pergi menemui Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersama anak-anak ke bukit Al-Wada'."
عن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه مرفوعاً: «ثلاثة لهم أجْرَان: رجُلٌ من أهل الكتاب آمن بِنَبِيِّه، وآمَن بمحمد، والعَبْد المملوك إذا أَدَّى حَقَّ الله، وحَقَّ مَوَالِيه، ورجل كانت له أمَة فأدَّبَها فأحسن تَأدِيبَها، وَعَلَّمَهَا فأحسن تَعْلِيمَهَا، ثم أعْتَقَها فتزوجها؛ فله أجران».
Dari Abu Musa Al-Asy'ari -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfu', "Ada tiga orang yang mendapatkan dua pahala: (1) seorang Ahli Kitab yang beriman kepada nabinya dan beriman kepada Muhammad. (2) budak apabila menunaikan hak Allah dan hak tuannya. (3) seseorang yang memiliki hamba sahaya wanita lalu ia mendidiknya dengan baik dan mengajarinya dengan sebaik-baik pengajaran, memerdekakannya kemudian menikahinya. Baginya dua pahala."
عن إبراهيم بن عبد الرحمن بن عوف، أن عبد الرحمن بن عوف رضي الله عنه أُتي بطعام وكان صائمًا، فقال: قُتِل مُصعب بن عمير رضي الله عنه وهو خيرٌ مني، فلم يوجد له ما يُكفَّن فيه إلا بُردة إن غُطِّيَ بها رأسه بَدَت رِجْلاه؛ وإن غُطِّيَ بها رجلاه بدا رأسه، ثم بُسِط لنا مِنَ الدنيا ما بُسِط، أو قال: أُعْطِينا من الدنيا ما أُعطِينا، قد خَشِينَا أن تكون حَسَنَاتُنا عُجِّلَت لنا، ثم جعل يبكي حتى ترك الطعام.
Dari Ibrahim bin Abdirrahman bin 'Auf, ia bercerita bahwa makanan dihidangkan kepada Abdurrahman bin 'Auf -raḍiyallāhu 'anhu-, tetapi waktu itu ia sedang berpuasa. Abdurrahman bin 'Auf berkata, "Muṣ'ab bin 'Umair -raḍiyallāhu 'anhu- terbunuh, padahal ia orang yang lebih baik dariku, tidak ada kain yang dapat digunakan untuk mengafaninya kecuali sepotong selimut yang terbuat dari bulu. Jika kepalanya ditutup, maka terbukalah kakinya. Jika kakinya ditutup, maka tampaklah kepalanya. Selanjutnya dunia dibentangkan kepada kita seluas-luasnya, atau dia mengatakan: Kami telah diberi kekayaan dunia yang sangat banyak, kami khawatir, jika kebaikan-kebaikan kami telah dipercepat pembalasannya (dengan kekayaan ini). Lantas ia menangis dan meninggalkan makanan itu."
عَنْ طَلْحَةَ بْنِ عُبَيْدِ اللهِ رضي الله عنه قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَهْلِ نَجْدٍ ثَائِرُ الرَّأْسِ، نَسْمَعُ دَوِيَّ صَوْتِهِ، وَلَا نَفْقَهُ مَا يَقُولُ حَتَّى دَنَا مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَإِذَا هُوَ يَسْأَلُ عَنِ الْإِسْلَامِ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «خَمْسُ صَلَوَاتٍ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ» فَقَالَ: هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهُنَّ؟ قَالَ: «لَا، إِلَّا أَنْ تَطَّوَّعَ، وَصِيَامُ شَهْرِ رَمَضَانَ»، فَقَالَ: هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهُ؟ فَقَالَ: «لَا، إِلَّا أَنْ تَطَّوَّعَ»، وَذَكَرَ لَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الزَّكَاةَ، فَقَالَ: هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهَا؟ قَالَ: «لَا، إِلَّا أَنْ تَطَّوَّعَ»، قَالَ: فَأَدْبَرَ الرَّجُلُ، وَهُوَ يَقُولُ: وَاللهِ، لَا أَزِيدُ عَلَى هَذَا، وَلَا أَنْقُصُ مِنْهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَفْلَحَ إِنْ صَدَقَ».
Ṭalḥah bin 'Ubaidillah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Seorang laki-laki dari penduduk Nejd dengan rambut acak-acakan datang kepada Rasulullah ﷺ. Kami mendengar kerasnya suaranya, tetapi tidak memahami apa yang dikatakannya, sampai dia mendekat kepada Rasulullah ﷺ. Ternyata dia bertanya tentang Islam. Maka Rasulullah ﷺ menjawab, "Yaitu salat lima waktu sehari semalam." Ia bertanya, "Apakah ada salat lainnya yang wajib atasku?" Beliau menjawab, "Tidak ada, kecuali jika kamu mengerjakan salat sunah." Beliau meneruskan, "Juga puasa pada bulan Ramadan." Ia bertanya, "Apakah ada puasa lainnya yang wajib atasku?" Beliau menjawab, "Tidak ada, kecuali jika kamu berpuasa sunah." Kemudian Rasulullah ﷺ menyebutkan zakat. Ia bertanya, "Apakah ada sedekah lainnya yang wajib atasku?" Beliau menjawab, "Tidak ada, kecuali jika kamu bersedekah sunah." Lantas laki laki itu pergi sambil berkata, "Demi Allah! Saya tidak akan melakukan lebih dari ini dan juga tidak akan menguranginya." Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Dia beruntung jika jujur.”
1- Kemudahan syariat Islam dan keringanan yang diberikannya kepada para hamba.
2- Keindahan muamalah Nabi ﷺ kepada laki-laki tersebut, yaitu beliau memperkenankannya untuk mendekat dan bertanya kepada beliau.
3- Memulai dari yang paling penting kemudian yang penting di dalam berdakwah kepada Allah Ta'ala.
4- Islam adalah akidah dan amal; tidak berguna suatu amal tanpa iman dan tidak berguna iman tanpa amal.
5- Urgensi amal-amal tersebut dan semuanya merupakan rukun Islam.
6- Salat Jumat masuk dalam salat fardu yang lima karena merupakan pengganti dari salat Zuhur pada hari Jumat bagi orang yang wajib atasnya.
7- Nabi ﷺ memulai pengajarannya dengan kewajiban Islam yang paling penting, yaitu rukun-rukun Islam setelah dua kalimat syahadat, karena dia telah muslim. Beliau tidak menyebutkan ibadah haji karena peristiwa ini terjadi sebelum haji diwajibkan atau karena waktunya belum tiba.
8- Apabila seseorang mencukupkan pada yang wajib dalam syariat, maka ia beruntung. Akan tetapi, ini tidak berarti bahwa ia tidak dianjurkan melakukan amalan sunah karena amalan sunah dapat menyempurnakan amalan fardu pada hari Kiamat.
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنهما عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ».
Abu Sa'īd Al-Khudriy dan Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Nabi ﷺ bersabda, "Tidaklah seorang muslim ditimpa kepayahan, penyakit, kegelisahan, kesedihan, gangguan, dan kesusahan hingga duri yang menusuknya melainkan Allah akan menghapus dosa-dosanya dengan sebab itu."
1- Menjelaskan karunia Allah pada hamba-hamba-Nya yang beriman serta kasih sayang-Nya pada mereka berupa pengampunan dosa dengan sebab adanya keburukan yang sangat minim yang menimpa mereka.
2- Semestinya seorang muslim mengharapkan pahala di sisi Allah atas apa yang menimpanya serta bersabar atas semua musibah yang kecil maupun yang besar agar menjadi pengangkat derajat dan penghapus kesalahannya.
عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: «حُجِبَتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ، وَحُجِبَتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Neraka itu dikelilingi dengan syahwat (sesuatu yang disukai) dan surga dikelilingi dengan sesuatu yang tidak disukai."
1- Di antara sebab terjerumusnya seseorang dalam syahwat ialah perbuatan setan yang menghias kemungkaran dan keburukan sehingga terlihat indah oleh jiwa, lalu cenderung kepadanya.
2- Perintah untuk menjauhi kesenangan-kesenangan yang diharamkan, karena merupakan jalan menuju neraka, serta bersabar atas hal-hal yang tidak disukai karena itu merupakan jalan menuju surga.
3- Keutamaan melawan hawa nafsu dan bersungguh-sungguh dalam ibadah, bersabar menghadapi perkara-perkara yang tidak disukai dan sulit yang menyertai ketaatan.
عَنْ حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَعْطَانِي، ثُمَّ سَأَلْتُهُ فَأَعْطَانِي، ثُمَّ قَالَ لِي: «يَا حَكِيمُ، إِنَّ هَذَا المَالَ خَضِرٌ حُلْوٌ، فَمَنْ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ، بُورِكَ لَهُ فِيهِ، وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ، وَكَانَ كَالَّذِي يَأْكُلُ وَلاَ يَشْبَعُ، وَاليَدُ العُلْيَا خَيْرٌ مِنَ اليَدِ السُّفْلَى»، قَالَ حَكِيمٌ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالحَقِّ لاَ أَرْزَأُ أَحَدًا بَعْدَكَ شَيْئًا حَتَّى أُفَارِقَ الدُّنْيَا، فَكَانَ أَبُو بَكْرٍ يَدْعُو حَكِيمًا لِيُعْطِيَهُ العَطَاءَ، فَيَأْبَى أَنْ يَقْبَلَ مِنْهُ شَيْئًا، ثُمَّ إِنَّ عُمَرَ دَعَاهُ لِيُعْطِيَهُ، فَيَأْبَى أَنْ يَقْبَلَهُ، فَقَالَ: يَا مَعْشَرَ المُسْلِمِينَ، إِنِّي أَعْرِضُ عَلَيْهِ حَقَّهُ الَّذِي قَسَمَ اللَّهُ لَهُ مِنْ هَذَا الفَيْءِ، فَيَأْبَى أَنْ يَأْخُذَهُ. فَلَمْ يَرْزَأْ حَكِيمٌ أَحَدًا مِنَ النَّاسِ بَعْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى تُوُفِّيَ رَحِمَهُ اللَّهُ.
Ḥakīm bin Ḥizām -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Aku pernah meminta kepada Rasulullah ﷺ, lalu beliau memberiku. Aku minta lagi, beliau pun memberiku. Selanjutnya beliau bersabda, "Wahai Ḥakīm, sesungguhnya harta itu sesuatu yang hijau dan manis. Siapa mengambilnya dengan jiwa dermawan, ia akan diberi keberkahan padanya. Sebaliknya, siapa yang mengambilnya dengan jiwa tamak, niscaya ia tidak akan diberi keberkahan padanya. Ia seperti orang yang makan tetapi tidak kenyang. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah." Ḥakīm berkata, "Wahai Rasulullah, demi Tuhan yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak akan minta apa pun kepada seseorang lagi setelahmu sampai aku berpisah dengan dunia." Lalu Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu- mengundang Ḥakīm untuk memberinya pemberian, tapi Ḥakīm menolak untuk menerima pemberian apa pun darinya. Kemudian Umar -raḍiyallāhu 'anhu- juga mengundangnya untuk memberinya pemberian, tapi ia juga enggan menerimanya. Lantas Umar berkata, "Wahai kaum Muslimin, aku telah menawarinya hak yang telah Allah bagikan kepadanya dari harta fai, namun ia menolak untuk mengambil haknya." Ḥakīm memang tidak pernah meminta kepada siapa pun setelah Nabi ﷺ hingga ia meninggal dunia.
1- Mengambil dan mengumpulkan harta dengan cara-cara yang disyariatkan tidak bertentangan dengan sikap zuhud terhadap dunia karena hakikat zuhud itu adalah jiwa dermawan dan tidak menggantungkan hati pada harta.
2- Menjelaskan tingginya kedermawanan Nabi ﷺ, yaitu beliau memberi pemberian layaknya orang yang tidak takut miskin selamanya.
3- Berusaha memberikan nasihat serta gigih berbagi manfaat kepada sesama saudara saat memberikan pertolongan karena jiwa selalu terbuka menerima nasihat melalui kata-kata baik.
4- Menjaga kehormatan diri agar tidak meminta-minta kepada orang dan menjauhkan diri darinya, apalagi tanpa ada keperluan.
5- Celaan terhadap sikap tamak untuk memiliki harta dan suka minta-minta.
6- Ketika orang yang meminta berulang-ulang meminta, tidak mengapa ia ditolak dan tidak diberikan, kemudian dinasihati, serta diajak untuk menjaga kehormatan diri dan tidak tamak untuk mendapat harta.
7- Tidak ada yang berhak mengambil apa pun dari baitulmal kecuali setelah ia diberikan oleh pemerintah. Adapun sebelum ganimah dibagi, hal itu tidak menjadi haknya.
8- Boleh meminta ketika butuh.
9- Ibnu Ḥajar berkata, "Di dalam hadis ini terkandung pelajaran agar seorang pemimpin tidak menerangkan kepada orang yang meminta tentang keburukan perbuatan meminta itu kecuali setelah keperluannya ditunaikan supaya pesannya dapat menyentuh hatinya dan ia tidak mengira hal tersebut adalah karena keperluannya tidak diberikan."
10- Keutamaan Ḥakīm -raḍiyallāhu 'anhu- serta sikapnya yang menepati janjinya kepada Allah dan Rasulullah ﷺ.
11- Isḥāk bin Rāhawaih -raḥimahullāh- berkata, "Ketika Ḥakīm -raḍiyallāhu 'anhu- meninggal dunia, ia termasuk salah satu kaum Quraisy yang paling banyak harta."
عن أبي موسى رضي الله عنه قال: خرجنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم فِي غَزَاة ونحن سِتَّةُ نَفَرٍ بَيننا بعيرٌ نَعْتَقِبُهُ، فَنَقِبَتْ أقدامُنا وَنَقِبَت قَدَمِي، وسَقطت أَظْفَارِي، فكنَّا نَلُفُّ على أَرْجُلِنَا الْخِرَقَ ، فَسُمِّيَت غَزْوَة ذَاتُ الرِّقَاع لما كنَّا نَعْصِب على أرجُلنا من الخِرق، قال أبو بردة: فحدث أبو موسى بهذا الحديث، ثم كره ذلك، وقال: ما كنت أصنع بأن أَذْكُرَه! قال: كأنه كره أن يكون شيئا من عمله أفْشَاه.
Dari Abu Musa Al-Asy'ari -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Kami keluar bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam suatu peperangan. Kami berjumlah enam orang. Di antara kami terdapat seekor unta yang ditumpangi secara bergantian. Kaki-kaki kami berlubang dan kakiku pun berlubang serta kuku-kukuku rontok. Kami pun membungkus kaki-kaki kami dengan sobekan kain sehingga perang ini dinamakan perang Żātu Ar-Riqā' karena kami membalut kaki-kaki kami dengan sobekan kain." Abu Burdah berkata, "Abu Musa memberitahu tentang hadis ini lalu ia tidak menyukainya dan berkata, "Aku melakukan hal itu bukan supaya aku mengingatnya." Abu Burdah meneruskan, "Tampaknya Abu Musa tidak mau suatu amalnya disebar-luaskan."
عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ المؤْمنينَ رَضيَ اللهُ عنها قَالَت: قُلْتُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: حَسْبُكَ مِنْ صَفِيَّةَ كَذَا وَكَذَا، -قَالَ أَحدُ الرُّوَاةِ: تَعْنِي قَصِيرَةً- فَقَالَ: «لَقَدْ قُلْتِ كَلِمَةً لَوْ مُزِجَتْ بِمَاءِ الْبَحْرِ لَمَزَجَتْهُ» قَالَتْ: وَحَكَيْتُ لَهُ إِنْسَانًا، فَقَالَ: «مَا أُحِبُّ أَنِّي حَكَيْتُ إِنْسَانًا وَأَنَّ لِي كَذَا وَكَذَا».
Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan, Aku pernah berkata kepada Nabi ﷺ, "Cukuplah bagimu pada Ṣafiyyah itu begini dan begini." Salah satu perawi mengatakan: Maksudnya ia pendek. Nabi ﷺ bersabda, "Engkau telah mengucapkan satu perkataan, andai perkataan itu dicampur (muzija) dengan air laut, niscaya ia akan mencemarinya." Aisyah juga meriwayatkan, Aku pernah menirukan pada beliau perihal seseorang, maka beliau bersabda, "Aku tidak mau menirukan seseorang walaupun aku mendapatkan begini dan begini."
1- Peringatan dan ancaman dari perbuatan gibah.
2- Memperagakan cara dan menirukan orang lain dalam rangka mencela dan merendahkannya termasuk gibah yang diharamkan.
3- Menyebutkan aib fisik bagian dari gibah.
4- Al-Qāḍī berkata, "Al-Mazj ialah mencampur dan mengubah dengan menambahkan sesuatu yang lain ke dalamnya. Artinya, andaikan gibah ini dicampurkan ke laut, maka ia akan mengubah keadaannya sekalipun air laut banyak dan melimpah. Lalu bagaimana dengan amalan yang sedikit dicampur dengan gibah?!
5- Menjelaskan sebagian bentuk kecemburuan yang terjadi di antara istri.
6- Nabi ﷺ tidak membiarkan kemungkaran.
7- Mengecilkan kedudukan dunia dan isinya jika dibandingkan dengan rida Allah Ta'ala dan ketidakmurkaan-Nya.
8- Islam adalah agama akhlak baik; ia mengajak untuk menjaga kehormatan, jangan sampai dirusak dengan perkataan maupun perbuatan karena dapat mewariskan permusuhan dan saling benci di antara umat Islam.
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: «حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ خَمْسٌ: رَدُّ السَّلَامِ، وَعِيَادَةُ الْمَرِيضِ، وَاتِّبَاعُ الْجَنَائِزِ، وَإِجَابَةُ الدَّعْوَةِ، وَتَشْمِيتُ الْعَاطِسِ».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Hak seorang muslim terhadap muslim yang lain ada lima: menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, menghadiri undangan, dan mendoakan orang yang bersin."
Keagungan agama Islam yang memastikan hak-hak di antara kaum muslimin serta mempererat persaudaraan dan cinta di antara mereka.