عَنِ شُرَيْحٍ بنِ هانِئٍ قَالَ: سَأَلْتُ عَائِشَةَ، قُلْتُ: بِأَيِّ شَيْءٍ كَانَ يَبْدَأُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ بَيْتَهُ؟ قَالَتْ: بِالسِّوَاكِ.
Syuraiḥ bin Hāni` meriwayatkan, Aku pernah bertanya kepada Aisyah, "Apa yang pertama kali dilakukan oleh Nabi ﷺ ketika masuk rumahnya?" Aisyah menjawab, "Bersiwak."
1- Perintah bersiwak secara umum di semua waktu, dan semakin ditekankan pada waktu-waktu yang dianjurkan syariat. Di antaranya: ketika masuk rumah, ketika akan salat, ketika wudu, setelah bangun tidur, dan ketika aroma mulut berubah,
2- Menerangkan perhatian tabiin untuk menanyakan perilaku keseharian Nabi ﷺ dan Sunnah beliau untuk diikuti.
3- Mengambil ilmu dari ahlinya dan orang yang lebih mengetahuinya, seperti Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- ditanya tentang ihwal Nabi ﷺ saat masuk rumah.
4- Indahnya interaksi Nabi ﷺ dengan keluarganya, yaitu beliau membersihkan mulutnya saat masuk rumah.
عن ابن مسعود رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «أيُّكم مالُ وارثِه أحَبُّ إليه من مالَه؟» قالوا: يا رسول الله، ما منَّا أحد إلا مَالُه أحَبُّ إليه. قال: «فإن مالَه ما قدَّم، ومالُ وارثِه ما أخَّر».
Dari Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bertanya "Siapakah di antara kalian yang lebih mencintai harta untuk ahli warisnya daripada hartanya sendiri?" Para sahabat berkata, "Wahai Rasulullah, tidak ada seorang pun dari kami melainkan dia lebih mencintai hartanya sendiri." Beliau bersabda, "Sesungguhnya hartanya ialah yang telah dia gunakan dan harta ahli warisnya ialah yang dia tinggalkan."
عن ابن عمر رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «بادروا الصبح بالوتر».
Dari Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhuma- bahwa Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Bersegeralah kalian memasuki subuh dengan witir!"
عن ابن مسعود رضي الله عنه مرفوعاً: أن رجلاً أصاب من امرأةٍ قُبْلَةً، فأتى النبي صلى الله عليه وسلم فأخبره، فأنزل الله تعالى : (وأقم الصلاة طَرَفَيِ النَّهَار وزُلَفًا مِنَ اللَّيلِ إِنَّ الحَسَنَاتِ يُذْهِبنَ السَّيِئَات) [هود: 114] فقال الرجل: ألي هذا يا رسول الله؟ قال: «لِجَمِيعِ أُمَّتِي كُلِّهِم».
Dari Ibnu Mas‘ūd -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', bahwasanya ada seorang pria yang mencium seorang wanita, lalu ia datang menemui Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kemudian menyampaikan hal itu. Maka Allah -Ta'ālā- pun menurunkan ayat, “Dan tegakkanlah salat di kedua ujung siang (pagi dan petang), dan pada bagian permulaan malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan.” Maka pria itu berkata, “Apakah ini (khusus) untukku, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Untuk semua umatku secara keseluruhan.”
عن أنس رضي الله عنه مرفوعاً: جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال: يا رسول الله، أصَبْتُ حدًّا، فَأَقِمْه عليَّ، وحضرت الصلاة، فصلى مع رسول الله صلى الله عليه وسلم فلمَّا قضى الصلاة، قال: يا رسول الله، إني أصَبْتُ حَدًّا فأقم فيَّ كتاب الله. قال: «هل حَضَرْتَ مَعَنَا الصلاة»؟ قال: نعم. قال: «قد غُفِر لك».
Dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', Seorang lelaki mendatangi Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu berkata, "Wahai Rasulullah! Aku telah melanggar hukum, tegakkanlah hukum kepadaku!" Lantas waktu salat tiba dan ia pun salat bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Usai melaksanakan salat, orang itu berkata lagi, "Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku telah melanggar hukum, karena itu tegakkanlah kepadaku Kitabullah!" Beliau bertanya, "Apakah engkau ikut salat bersama kami." Orang itu menjawab, "Ya." Beliau bersabda, "Engkau sudah diampuni."
عن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه مرفوعاً: «إذا أراد الله تعالى رحمة أُمَّة، قَبض نبيَّها قبلها، فَجَعَلَهُ لها فَرَطًا وسَلفًا بين يديها، وإذا أراد هلَكَةً أُمَّة، عَذَّبَها ونَبِيُّهَا حَيٌّ ، فأهْلَكَها وهو حَيٌّ يَنظرُ، فأقرَّ عينَه بِهَلاَكِهَا حين كذَّبُوه وعَصَوا أمرَه».
Dari Abu Musa Al-Asy'ari -raḍiyallāhu 'anhu- dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bersabda, "Jika Allah menghendaki rahmat bagi satu umat, Dia mewafatkan Nabi umat itu sebelum mereka, lalu menjadikannya sebagai simpanan pahala dan pendahulu bagi umat tersebut. Jika Allah menghendaki kebinasaan suatu umat, Dia menyiksanya sedang Nabinya masih hidup. Selanjutnya Allah membinasakannya sedangkan Nabi itu hidup dan menyaksikan. Dengan demikian Allah menjadikan matanya sejuk dengan kebinasaan umat saat mereka mendustakan nabi tersebut dan mendurhakai perintahnya."
عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً، وَحَدِّثُوا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَا حَرَجَ، وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ».
Abdullah bin 'Amr -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat, dan ceritakanlah riwayat dari Bani Israil, tidak apa-apa. Siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka."
1. Anjuran untuk menyampaikan syariat Allah, dan seseorang berkewajiban menyampaikan apa yang ia hafal dan pahami walaupun sedikit.
2- Kewajiban menimba ilmu agama agar bisa beribadah kepada Allah dan menyampaikan syariat-Nya secara benar.
3- Kewajiban memastikan kesahihan hadis apa pun sebelum disampaikan atau disebarkan, sebagai antisipasi agar jangan sampai masuk dalam ancaman yang keras ini.
4- Anjuran untuk berkata jujur dan berbicara hati-hati agar tidak jatuh dalam dusta, khususnya terkait syariat Allah -'Azza wa Jalla-.
عن عائشة رضي الله عنها أن رجلًا استأذن على النبي صلى الله عليه وسلم فقال: «ائْذَنُوا له، بئس أخو العَشِيرَةِ؟».
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- bahwa seseorang meminta izin kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, maka beliau bersabda, "Izinkanlah dia, sejelek-jelek anak dari kabilahnya"
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَّ أَعْرَابِيًّا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلْتُهُ دَخَلْتُ الجَنَّةَ، قَالَ: «تَعْبُدُ اللَّهَ لاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا، وَتُقِيمُ الصَّلاَةَ المَكْتُوبَةَ، وَتُؤَدِّي الزَّكَاةَ المَفْرُوضَةَ، وَتَصُومُ رَمَضَانَ» قَالَ: وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لاَ أَزِيدُ عَلَى هَذَا، فَلَمَّا وَلَّى قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ، فَلْيَنْظُرْ إِلَى هَذَا».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Ada seorang Arab badui datang kepada Nabi ﷺ seraya berkata, "Tunjukilah aku suatu amalan, jika aku mengerjakannya maka aku masuk surga." Beliau bersabda, "Beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, mendirikan salat wajib, membayar zakat fardu, dan berpuasa di bulan Ramadan." Laki-laki itu berkata, "Demi Tuhan yang jiwaku ada di tangan-Nya, aku tidak akan menambah lebih dari hal itu." Tatkala ia pergi, Nabi ﷺ bersabda, "Siapa yang ingin melihat laki-laki penghuni surga, maka lihatlah orang itu."
1- Mengesakan Allah Ta'ala dalam ibadah adalah perkara pertama yang disampaikan dalam berdakwah.
2- Orang yang baru masuk Islam cukup diajarkan perkara-perkara yang wajib.
3- Berdakwah kepada Allah Ta'ala harus dilakukan secara bertahap.
4- Kegigihan orang tersebut untuk belajar urusan agamanya.
5- Apabila seorang muslim mencukupkan diri dengan perkara-perkara wajib, ia telah beruntung, tetapi itu bukan berarti menggampangkan perkara sunah, karena yang sunah menjadi penyempurna kekurangan pada yang wajib.
6- Beberapa ibadah yang disebutkan secara khusus menunjukkan statusnya yang sangat penting serta dianjurkan, dan tidak berarti yang lainnya tidak wajib.
عن سهل بن سعد الساعدي ـرضي الله عنه- قَالَ رَسُول اللَّه -صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم-: «لو كانت الدنيا تَعدل عند الله جَناح بَعوضة، ما سَقَى كافراً منها شَرْبَة ماء».
Dari Sahal bin Sa'ad As-Sā'idy -raḍiyallāhu 'anhu-, dia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Seandainya dunia di sisi Allah nilainya sebanding dengan sayap lalat, Dia tidak akan memberi minum orang kafir walau seteguk air."