عَن أَبِي سَعِيدٍ الخُدْرِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا وُضِعَتِ الجِنَازَةُ وَاحْتَمَلَهَا الرِّجَالُ عَلَى أَعْنَاقِهِمْ فَإِنْ كَانَتْ صَالِحَةً قَالَتْ: قَدِّمُونِي، وَإِنْ كَانَتْ غَيْرَ صَالِحَةٍ قَالَتْ: يَا وَيْلَهَا أَيْنَ يَذْهَبُونَ بِهَا؟ يَسْمَعُ صَوْتَهَا كُلُّ شَيْءٍ إِلَّا الإِنْسَانَ، وَلَوْ سَمِعَهُ صَعِقَ».
Abu Sa‘īd al-Khudriy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Apabila jenazah telah diletakkan dan dipikul oleh para laki-laki di pundak mereka; jika dia orang yang saleh, dia berkata, ‘Segerakanlah aku!’ Namun jika dia bukan orang yang saleh, dia berkata, ‘Duhai celakanya! Kemanakah kalian akan membawanya?’ Suaranya didengar oleh segala sesuatu kecuali manusia. Andai manusia mendengarnya, pasti dia akan pingsan.”
1- Orang saleh yang meninggal akan melihat hal-hal menggembirakan sebelum dikubur, sementara orang kafir akan takut sekali dan melihat kebalikannya.
2- Sebagian suara dapat didengar oleh selain manusia, sedangkan manusia tidak dapat mendengarnya.
3- Sunahnya memikul jenazah di atas pundak laki-laki, bukan perempuan, karena Nabi ﷺ melarang perempuan ikut mengantar jenazah.
عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «لما خلق الله آدم صلى الله عليه وسلم قال: اذهب فَسَلِّمْ على أولئك -نَفَرٍ من الملائكة جلوس- فاستمع ما يُحَيُّونَكَ؛ فإنها تَحِيَّتُكَ وتحية ذُرِّيتِكَ. فقال: السلام عليكم، فقالوا: السلام عليك ورحمة الله، فَزَادُوهُ: ورحمة الله».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, "Tatkala Allah menciptakan Adam -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, Dia berfirman, 'Pergilah dan ucapkan salam kepada mereka -beberapa malaikat yang sedang duduk- lalu dengarkanlah salam penghormatan mereka kepadamu; karena itu sebagai salam penghormatanmu dan keturunanmu!' Maka Adam berkata, “As-Salāmu ‘alaikum.” Mereka menjawab, “As-Salāmu ‘alaika wa rahmatullāh,” mereka menambah “wa rahmatullāh."
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضيَ اللهُ عنه قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَرَأَيْتَ إِنْ جَاءَ رَجُلٌ يُرِيدُ أَخْذَ مَالِي؟ قَالَ: «فَلَا تُعْطِهِ مَالَكَ» قَالَ: أَرَأَيْتَ إِنْ قَاتَلَنِي؟ قَالَ: «قَاتِلْهُ» قَالَ: أَرَأَيْتَ إِنْ قَتَلَنِي؟ قَالَ: «فَأَنْتَ شَهِيدٌ»، قَالَ: أَرَأَيْتَ إِنْ قَتَلْتُهُ؟ قَالَ: «هُوَ فِي النَّارِ».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Seorang lelaki pernah datang menemui Rasulullah ﷺ lalu bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana pandanganmu jika ada seseorang datang ingin mengambil hartaku?" Beliau menjawab, "Jangan kau berikan hartamu kepadanya!" Laki-laki tersebut berkata, "Bagaimana pendapatmu jika ia menyerangku?" Beliau menjawab, "Lawanlah dia!" Ia berkata, "Bagaimana menurutmu jika ia membunuhku?" Beliau menjawab, "Berarti engkau syahid." Ia berkata, "Bagaimana pendapatmu jika aku membunuhnya?" Beliau menjawab, "Dia di neraka."
1- An-Nawawi berkata, "Membela keselamatan keluarga hukumnya wajib tanpa ada ikhtilaf. Sedangkan membela diri hingga membunuh terdapat ikhtilaf dalam mazhab kita dan mazhab selain kita. Adapun mempertahankan harta hukumnya boleh, tidak wajib."
2- Hadis ini adalah dalil bahwa ilmu itu diperlukan sebelum beramal karena sahabat tersebut bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang kewajibannya sebelum ia mengamalkannya.
3- Harus bertahap di dalam melawan orang yang menyerang, yaitu dimulai dengan nasihat atau meminta pertolongan sebelum balas menyerangnya. Kendatipun ia menyerangnya agar tujuannya ialah menahannya, bukan membunuhnya.
4- Darah seorang muslim serta harta dan kehormatannya terlindungi.
5- An-Nawawi berkata, "Ketahuilah bahwa syahid itu ada tiga jenis:
- Pertama: Orang yang terbunuh dalam peperangan melawan orang kafir dengan sebab pertempuran. Orang ini mendapatkan hukum syahid terkait pahala di akhirat dan juga terkait hukum dunia, yaitu ia tidak dimandikan dan tidak disalatkan.
- Kedua: Syahid dalam hal pahala, tetapi tidak dalam hukum dunia, yaitu orang yang meninggal karena sakit perut, wabah taun, tertimpa reruntuhan, orang yang terbunuh saat mempertahankan hartanya, dan lainnya yang disebut syahid dalam hadis-hadis sahih. Orang ini tetap dimandikan dan disalatkan, dan ia mendapatkan pahala syahid di akhirat, namun tidak mesti sama seperti pahala jenis syahid yang pertama.
- Ketiga: Orang yang mengambil harta rampasan perang secara diam-diam, demikian pula semua yang dalam banyak hadis dinafikan penyebutannya sebagai syahid meskipun ia terbunuh dalam perang melawan orang kafir. Orang ini mendapatkan hukum syahid di dunia, yaitu tidak dimandikan dan tidak disalatkan, tetapi ia tidak mendapatkan pahala syahid yang sempurna di akhirat."
عن أبي محمد عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما ، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «أربعون خَصْلَة: أعلاها مَنيحةُ العَنز، ما من عامل يَعمل بِخَصْلة منها؛ رجاء ثوابها وتصديق مَوْعُودِها، إلا أدخله الله بها الجنة».
Dari Abu Muhammad Abdullah bin 'Amru bin Al-Āṣ - raḍiyallāhu 'anhumā-, ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Ada empat puluh macam perangai (kebaikan), dan yang paling utama adalah mendermakan seekor kambing (untuk diperah susunya). Tidaklah seseorang mengerjakan salah satu dari perangai-perangai tersebut dengan tujuan mengharap pahala dan membenarkan apa yang telah dijanjikannya, melainkan Allah akan memasukkan dia dengan amalannya itu ke dalam surga."
عن سَلَمَة بن الأكْوَع رضي الله عنه قال: مَرَّ النبي صلى الله عليه وسلم على نَفَرٍ يَنْتَضِلُون، فقال: «ارْمُوا بَنِي إسماعيل، فإن أبَاكُم كان رَامِياً».
Dari Salamah bin Al-Akwa' -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah melewati beberapa orang yang sedang menunjukkan keahlian mereka dalam bermain panah, lalu beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Memanahlah wahai Bani Ismail, karena leluhur kalian dahulunya adalah ahli memanah!"
عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ رَضيَ اللهُ عنه قَالَ: كَانَ رَجُلٌ لَا أَعْلَمُ رَجُلًا أَبْعَدَ مِنَ الْمَسْجِدِ مِنْهُ، وَكَانَ لَا تُخْطِئُهُ صَلَاةٌ، قَالَ: فَقِيلَ لَهُ: أَوْ قُلْتُ لَهُ: لَوْ اشْتَرَيْتَ حِمَارًا تَرْكَبُهُ فِي الظَّلْمَاءِ، وَفِي الرَّمْضَاءِ، قَالَ: مَا يَسُرُّنِي أَنَّ مَنْزِلِي إِلَى جَنْبِ الْمَسْجِدِ، إِنِّي أُرِيدُ أَنْ يُكْتَبَ لِي مَمْشَايَ إِلَى الْمَسْجِدِ، وَرُجُوعِي إِذَا رَجَعْتُ إِلَى أَهْلِي، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «قَدْ جَمَعَ اللهُ لَكَ ذَلِكَ كُلَّهُ».
Ubay bin Ka'ab -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Ada seorang laki-laki yang aku tidak tahu ada orang lain yang lebih jauh (rumahnya) dari masjid daripada dirinya, namun ia tidak pernah tertinggal satu salat sekalipun. Ada yang berkata -atau aku berkata- kepadanya, "Seandainya kamu membeli keledai yang dapat kamu kendarai pada waktu gelap dan pada waktu panas." Ia menjawab, "Aku tidak senang bila rumahku dekat dengan masjid. Sungguh aku menginginkan agar perjalananku menuju masjid dan ketika pulang ke rumahku, itu selalu dicatat untukku." Rasulullah ﷺ bersabda padanya, "Allah telah mengumpulkan semua itu bagimu."
1- Kegigihan para sahabat untuk mewujudkan kebaikan dan memperbanyaknya serta mendapatkan pahala.
2- An-Nawawi berkata, "Di dalam hadis ini terdapat dalil penetapan pahala dalam langkah pulang dari menunaikan salat sebagaimana ketika pergi."
3- Anjuran saling menasihati dan berwasiat di antara kaum muslimin untuk melakukan kebaikan dan kebajikan. Siapa yang melihat saudaranya mengalami kesulitan, hendaklah ia memberinya masukan dalam rangka menghilangkannya.
4- Jauhnya jarak rumah dari masjid tidak menjadi uzur untuk meninggalkan salat berjemaah selama ia mendengar azan.
عن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا أتاه طالب حاجة أقبل على جُلسائِه، فقال: «اشْفَعُوا تُؤجَرُوا، ويَقْضِي الله على لسانِ نَبِيِّه ما أحب». وفي رواية: «ما شاء».
Dari Abu Musa Al-Asy‘ari -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata: “Dahulu Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- jika didatangi oleh seorang yang berhajat, beliau menghadap kepada para sahabatnya lalu berkata: ‘Berilah syafaat, niscaya kalian akan diberi pahala. Dan Allah pasti akan menetapkan melalui lisan Nabi-Nya apa yang dicintai-Nya.” Dalam riwayat lain: “…apa yang dikehendaki-Nya."
عن أبي هريرة رضي الله عنه مرفوعاً: «إذا اقترب الزمان لم تَكَدْ رؤيا المؤمن تكذب، ورؤيا المؤمن جزء من ستة وأربعين جزءا من النبوة».
وفي رواية: «أصدقكم رؤيا، أصدقكم حديثا».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Apabila telah dekat waktunya (kiamat), hampir tidak ada mimpi seorang mukmin yang dusta. Mimpi seorang mukmin itu satu dari empat puluh enam bagian kenabian.
Dalam riwayat lain disebutkan, "Orang yang paling benar mimpinya adalah orang yang paling jujur bicaranya."
عن عائشة رضي الله عنها : أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يصلي صلاته بالليل، وهي مُعْتَرِضَةٌ بين يديه، فإذا بقي الوتر، أيقظها فأوترت. وفي رواية له: فإذا بقي الوتر، قال: «قومي فأوْتِري يا عائشة».
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- biasa melakukan salat malam dengan posisi Aisyah berbaring di hadapan beliau. Ketika tersisa witir, beliau membangunkannya lalu Aisyah melakukan witir." Dalam riwayat lain disebutkan, "Ketika tersisa witir, beliau bersabda, "Bangunlah, lalu lakukanlah witir wahai Aisyah!"
عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ: فَقَدْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً مِنَ الْفِرَاشِ فَالْتَمَسْتُهُ فَوَقَعَتْ يَدِي عَلَى بَطْنِ قَدَمَيْهِ وَهُوَ فِي الْمَسْجِدِ وَهُمَا مَنْصُوبَتَانِ، وَهُوَ يَقُولُ: «اللهُمَّ أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ».
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan, "Suatu malam, aku pernah kehilangan Nabi ﷺ dari tempat tidur. Aku pun mencari beliau, dan ternyata tanganku menyentuh telapak kaki beliau dalam keadaan tegak ketika beliau sedang bersujud di tempat salatnya. Beliau membaca: Allāhumma innī a'ūżu bi riḍāka min sakhaṭika, wa bi mu'āfātika min 'uqūbatika, wa a'ūżu bika minka, lā uḥṣī ṡanā`an 'alaika anta kamā aṡnaita 'alā nafsika (Ya Allah! Aku berlindung dengan keridaan-Mu dari kemurkaan-Mu, dengan pengampunan-Mu dari hukuman-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dari siksaan-Mu. Aku tidak mampu menghitung pujian dan sanjungan kepada-Mu, Engkau adalah sebagaimana yang Engkau sanjungkan kepada diri-Mu sendiri)."
1- Anjuran membaca doa-doa ini ketika sujud.
2- Mīrak berkata, "Pada salah satu riwayat An-Nasā`iy disebutkan: Beliau membaca doa ini setelah selesai salat dan pergi ke tempat tidur."
3- Anjuran memuji Allah dengan sifat-sifat-Nya serta berdoa kepada-Nya dengan nama-nama-Nya yang terdapat dalam Al-Qur`an dan Sunnah.
4- Di dalamnya terkandung pelajaran mengagungkan Allah Sang Pencipta ketika rukuk dan sujud.
5- Boleh meminta perlindungan dengan sifat-sifat Allah sebagaimana dibolehkan meminta perlindungan dengan zat Allah ﷻ.
6- Al-Khaṭṭābiy berkata, "Dalam doa ini terdapat faedah indah, yaitu beliau berlindung kepada Allah agar melindunginya dengan keridaan-Nya dari kemurkaan-Nya dan dengan pengampunan-Nya dari hukuman-Nya. Rida dan murka adalah dua hal yang bertolak belakang, demikian juga antara pengampunan dan hukuman. Ketika beliau menyebutkan zat yang tidak memiliki lawan, yaitu Allah ﷻ, maka beliau berlindung kepada-Nya dari-Nya, tidak kepada yang lain. Itu artinya memohon ampun dari kelalaian dalam melaksanakan yang wajib terkait hak ibadah kepada-Nya serta memuji-Nya. Ucapan beliau: lā uḥṣī ṡanā`an 'alaika, artinya: Aku tidak kuasa memberikan berbagai pujian dan tidak akan mampu menggapainya."