عن جابر رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: «أَفْضَلُ الذِّكْرِ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَفْضَلُ الدُّعَاءِ: الْحَمْدُ لِلهِ».
Jābir -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Zikir yang paling utama ialah lā ilāha illallāh, dan doa paling utama ialah kalimat alḥamdulillāh."
Anjuran untuk memperbanyak zikir kepada Allah dengan kalimat tauhid dan memperbanyak doa dengan kalimat pujian.
عن أبي أمامة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «أفضل الصَّدَقَات ظِلُّ فُسْطَاطٍ في سَبِيل الله ومَنِيحَةُ خَادِم في سَبِيل الله، أو طَرُوقَةُ فَحْلٍ في سَبِيل الله».
Dari Abu Umāmah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-bersabda, "Sedekah yang paling utama adalah memberikan naungan kemah di jalan Allah, memberikan pelayan di jalan Allah, atau memberikan unta betina yang sudah layak dibuahi pejantan di jalan Allah."
وعن جابر رضي الله عنه قال: سُئِل رسول الله صلى الله عليه وسلم أي الصلاة أفضل؟ قال: «طُول القُنُوتِ».
Dari Jabir -raḍiyallāhu 'anhu-, dia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah ditanya, "Salat apa yang paling utama?" Beliau menjawab, "Salat yang berdirinya lama."
عن البراء رضي الله عنه قال: أتَى النبي صلى الله عليه وسلم رَجُلٌ مُقَنَّعٌ بالحَديد، فقال: يا رسول الله، أُقَاتِلُ أَوْ أُسْلِمُ؟ قال: «أَسْلِم، ثم قَاتل»، فأسْلَم ثم قاتل فَقُتِل. فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «عَمِل قليلاً وأُجر كثيراً».
Dari Al-Barā` -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Ada seorang lelaki yang mengenakan topeng besi datang kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu berkata, "Wahai Rasulullah! Aku berperang atau masuk Islam (terlebih dahulu)?" Beliau menjawab, "Masuklah Islam (terlebih dahulu) kemudian berperanglah." Laki-laki itu masuk Islam lalu berperang dan terbunuh. Lantas Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Ia beramal sedikit, tapi diberi pahala banyak."
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضيَ اللهُ عنهُ قَالَ: قَالَ لِي النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «اقْرَأْ عَلَيَّ»، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَأَقْرَأُ عَلَيْكَ، وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ؟ قَالَ: «نَعَمْ» فَقَرَأْتُ سُورَةَ النِّسَاءِ حَتَّى أَتَيْتُ إِلَى هَذِهِ الآيَةِ: {فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ، وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلاَءِ شَهِيدًا} [النساء: 41]، قَالَ: «حَسْبُكَ الآنَ» فَالْتَفَتُّ إِلَيْهِ، فَإِذَا عَيْنَاهُ تَذْرِفَانِ.
Abdullah bin Mas'ud -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Nabi ﷺ bersabda kepadaku, "Bacakanlah (Al-Qur`an) untukku." Aku berkata, "Wahai Rasulullah, apakah aku membaca kepada Anda, sementara ia diturunkan kepada Anda?" Beliau menjawab, "Iya". Maka aku membacakannya surah An-Nisā` sampai pada ayat berikut: "Dan bagaimanakah (keadaan orang kafir nanti), jika Kami mendatangkan seorang saksi (Rasul) dari setiap umat dan Kami mendatangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka." [QS. An-Nisā`: 41] Beliau bersabda, "Berhentilah sekarang!" Aku menoleh kepada beliau, ternyata kedua matanya telah bercucuran air mata."
1- An-Nawawi berkata, "Anjuran menyimak bacaan (Al-Qur`an), mendengarkannya secara seksama, menangis, dan merenungi ayat-ayatnya, serta anjuran meminta orang lain membaca untuk disimak. Hal itu lebih mengena dalam proses memahami dan tadabur, daripada membaca sendiri."
2- Menyimak Al-Qur`an mendatangkan pahala tersendiri sebagaimana membacanya.
3- Keutamaan Abdullah bin Mas'ud -raḍiyallāhu 'anhu-; yaitu Rasul ﷺ ingin mendengar Al-Qur`an dari bacaannya. Hal ini menunjukkan semangat Ibnu Mas'ud -raḍiyallāhu 'anhu- dalam berusaha mempelajari Al-Qur`an, menghafal, dan menguatkannya.
4- Keutamaan menangis karena takut kepada Allah ﷻ saat menyimak ayat-ayat-Nya dengan tetap tenang, diam, dan tidak berteriak-teriak.
عن أنس رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «أكْثَرْتُ عليكم في السِّوَاك».
Dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Aku perbanyak (anjuran) untuk kalian tentang bersiwak."
عَنْ حَارِثَةَ بْنِ وَهْبٍ الخُزَاعِيِّ رضي الله عنه قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ الجَنَّةِ؟ كُلُّ ضَعِيفٍ مُتَضَعِّفٍ، لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ، أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ: كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ».
Ḥāriṡah bin Wahb Al-Khuzā'iy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Maukah kalian aku kabari mengenai penghuni surga? Mereka adalah setiap orang lemah yang rendah hati, seandainya ia bersumpah kepada Allah niscaya Allah wujudkan untuknya. Maukah kalian aku kabari mengenai penghuni neraka? Mereka adalah setiap orang yang keras, rakus, gemar mengumpulkan harta, dan sombong."
1- Anjuran untuk mengamalkan sifat-sifat penghuni surga dan mewaspadai sifat-sifat penghuni neraka.
2- Merendahkan hati ditujukan kepada Allah ﷻ, perintah-Nya, dan larangan-Nya serta tunduk pada keduanya. Juga ditujukan kepada makhluk dengan tidak menyombongkan diri terhadap mereka.
3- Ibnu Ḥajar berkata, "Maksud hadis ini adalah bahwa kebanyakan penghuni surga ialah mereka itu. Sebagaimana kebanyakan penghuni neraka adalah kelompok yang lain. Bukan bermaksud bahwa keseluruhan penghuni keduanya bersifat seperti itu."
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللهُ بِهِ الْخَطَايَا، وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟» قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: «إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ، وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Apakah kalian mau aku tunjukkan amalan yang dapat menghapus dosa dan mengangkat derajat?" Mereka menjawab, "Tentu, wahai Rasulullah." Rasulullah bersabda, "Menyempurnakan wudu pada saat-saat yang tidak disukai, memperbanyak langkah kaki menuju masjid, dan menunggu salat berikutnya setelah selesai salat. Yang demikian itu adalah ribāṭ (berjaga-jaga di jalan Allah)."
1- Urgensi memelihara salat berjemaah di masjid, memperhatikan salat, dan tidak menyibukkan diri darinya.
2- Bagusnya pemaparan dan cara Nabi ﷺ dalam menarik perhatian sahabat-sahabatnya, yaitu beliau memulai dengan menyebutkan pahala besar dengan cara bertanya. Hal ini merupakan salah satu metode pengajaran.
3- Faedah memaparkan permasalahan dengan sistem tanya jawab ialah penjelasannya menjadi lebih mengena dalam hati karena ada penyamaran dan penjelasan.
4- An-Nawawi -rahimahullah- berkata, "Makna: 'Yang demikian itu adalah ribāṭ', yakni ribāṭ yang dianjurkan. Makna dasar ribāṭ ialah menahan diri pada sesuatu. Seolah-olah ia menahan diri pada ketaatan tersebut. Dikatakan juga, maksudnya: itu adalah sebaik-baik ribāṭ, sebagaimana jika dikatakan: Jihad itu adalah jihad melawan diri. Juga ada kemungkinan bermakna: itu adalah ribāṭ yang mudah dan memungkinkan, lantaran itu termasuk salah satu jenis ribāṭ."
5- Tujuan pengulangan kata 'ar-ribāṭ' yang diawali dengan alif lam takrif adalah sebagai pengagungan terhadap kedudukan amalan-amalan ini.
عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ، وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيكِكُمْ، وَأَرْفَعِهَا فِي دَرَجَاتِكُمْ وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالوَرِقِ، وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوا أَعْنَاقَكُمْ؟» قَالُوا: بَلَى. قَالَ: «ذِكْرُ اللهِ تَعَالَى».
Abu Ad-Dardā` -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Nabi ﷺ bersabda, "Maukah kalian aku beritahukan tentang amalan kalian yang paling baik dan paling suci di sisi Tuhan kalian, paling tinggi derajatnya untuk kalian, lebih baik bagi kalian daripada menginfakkan emas dan perak, dan lebih baik bagi kalian daripada bertemu dengan musuh lalu kalian menebas batang leher mereka dan mereka pun menebas leher kalian?" Para sahabat menjawab, "Tentu saja." Beliau bersabda, "Berzikir kepada Allah Ta'ala."
1- Berzikir kepada Allah Ta'ala secara terus-menerus, secara lahir dan batin, termasuk ibadah paling agung dan paling bermanfaat di sisi Allah Ta'ala.
2- Seluruh amalan disyariatkan untuk menegakkan zikir kepada Allah Ta'ala. Allah Ta'ala berfirman, "Laksanakanlah salat untuk mengingat-Ku." Nabi ﷺ bersabda, "Sesungguhnya tawaf di Baitullah, sai antara Safa dan Marwa, dan melontar jamrah disyariatkan untuk menegakkan zikir kepada Allah." (HR. Abu Daud dan Tirmizi)
3- Al-'Izz bin Abdussalām berkata di dalam buku Qawā'id-nya, "Hadis ini menunjukkan bahwa besarnya pahala tidak selamanya diberikan sesuai kadar rasa lelah dalam semua ibadah. Tetapi, Allah Ta'ala kadang memberi pahala pada amal yang sedikit lebih banyak daripada pahala yang diberikan pada amal yang banyak. Jadi, pahala itu sesuai dengan perbedaan tingkat keagungan amalan."
4- Al-Munāwiy berkata dalam Faiḍul-Qadīr, "Hadis ini dibawa pada pemahaman bahwa zikir adalah amalan yang paling afdal bagi orang yang hadis ini ditujukan padanya. Sekiranya yang diajak bicara adalah seorang pemberani nan perkasa yang akan berguna bagi Islam dalam peperangan, niscaya akan dikatakan padanya bahwa amalan paling utama adalah jihad. Sekiranya ia orang kaya yang akan berguna bagi orang-orang fakir dengan hartanya maka akan dikatakan padanya bahwa amalan paling utama adalah sedekah. Sekiranya ia orang yang mampu berhaji maka akan dikatakan padanya bahwa amalan paling utama adalah haji. Sekiranya ia orang yang memiliki kedua orang tua maka akan dikatakan padanya bahwa amalan paling utama adalah berbakti pada keduanya. Dengan pemahaman seperti itu, hadis-hadis semisal ini dapat dikompromikan."
5- Zikir yang paling sempurna adalah yang dilafalkan oleh lisan disertai tadabur hati, kemudian yang dilakukan dengan hati saja seperti tafakur, kemudian yang dilakukan dengan lisan saja. Akan tetapi, pada masing-masing terdapat pahala, insya Allah.
6- Konsistensi seorang muslim dengan berbagai zikir sesuai kondisinya akan membuat dirinya termasuk golongan orang yang banyak berzikir kepada Allah, seperti konsisten dengan zikir pagi dan petang, keluar masuk masjid, rumah, toilet, dan lain sebagainya.
عن أنس رضي الله عنه أن أم الرُّبيع بنت البراء وهي أم حارثة بن سُراقة، أتَت النبي صلى الله عليه وسلم فقالت: يا رسول الله، ألا تُحَدِّثُنِي عن حارثة -وكان قُتِل يوم بَدْرٍ- فإن كان في الجنَّة صَبَرْت، وإن كان غير ذلك اجْتَهَدْتُ عليه في البُكَاء، فقال: «يا أم حارثة، إنها جِنَان في الجنة، وإن ابْنَك أصَاب الفِردَوْس الأعلى».
Dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Ummu Ar-Rubayyi' binti Al-Barā`, yaitu ibunda Ḥāriṡah bin Surāqah datang kepada Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan berkata, "Wahai Rasulullah! Maukah engkau menceritakan kepadaku tentang Ḥāriṡah (ia telah terbunuh dalam perang Badar)? Jika ia berada di surga, aku pasti bersabar. Jika ia tidak di sana, aku pasti bersungguh-sungguh menangisinya." Beliau bersabda, "Wahai Ummu Ḥāriṡah! Sesungguhnya di surga itu ada beberapa surga dan sesungguhnya putramu mendapatkan surga Firdaus yang paling tinggi."