أنَّ عَائِذَ بن عَمْرو رضي الله عنه دَخَل على عُبَيد الله بن زياد، فقال: أي بُنَيَّ، إِنِّي سَمِعت رَسُول الله صلى الله عليه وسلم يقول: «إِنَّ شَرَّ الرِّعَاءِ الحُطَمَةُ» فَإِيَّاك أَن تَكُون مِنهُم، فقال له: اجْلِس فَإِنَّما أَنْت مِن نُخَالَةِ أَصحَاب محمَّد صلى الله عليه وسلم فقال: وهل كَانَت لَهُم نُخَالَة؟! إِنَّمَا كَانَت النُخَالَة بَعدَهُم وَفِي غَيرِهِم.
Āiż bin Amru -raḍiyallāhu 'anhu- masuk menemui 'Ubaidullah bin Ziyad. Lantas Ia berkata, "Wahai anakku! Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya sejelek-jelek penggembala itu adalah yang kejam." Maka jangan sampai engkau menjadi salah seorang dari mereka." 'Ubaidullah berkata, "Duduklah, engkau hanya satu di antara kalangan rendahan sahabat Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-." Ia berkata, "Adakah pada generasi sahabat orang-orang rendahan? Sesungguhnya orang rendahan hanyalah ada di kalangan orang-orang setelah mereka atau di selain mereka."
عن أبي هريرة رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ: ((إِذَا جَلَسَ بين شُعَبِهَا الأَربع، ثم جَهَدَهَا، فَقَد وَجَبَ الغُسْلُ)) .
وفي لفظ ((وإن لم يُنْزِل)).
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwasanya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Jika seseorang sudah duduk di antara empat cabang seorang wanita lalu dia menggaulinya, maka dia wajib mandi." Dalam redaksi lain disebutkan, "Meskipun tidak keluar (mani)."
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «لَا يَقْبَلُ اللهُ صَلَاةَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Allah tidak akan menerima salat salah seorang kalian jika berhadas hingga ia berwudu."
1- Salat orang yang berhadas tidak akan diterima hingga ia bersuci dengan cara mandi ketika dia mengalami hadas besar, dan berwudu ketika dia berhadas kecil.
2- Wudu ialah mengambil air lalu berkumur-kumur dengannya di dalam mulut dan mengeluarkannya, lalu menghirup air ke dalam hidung dengan napas kemudian menyemburkannya, lalu membasuh muka tiga kali, membasuh kedua tangan bersama siku tiga kali, mengusap semua kepala satu kali, lalu membasuh kedua kaki bersama dua mata kaki tiga kali.
عن أبي هريرة وعبد الله بن عمرو وعائشة رضي الله عنهم عن رسول الله صلى الله عليه وسلم : أنه قال: (ويلٌ للأعْقَاب من النَّار).
Dari Abu Hurairah, Abdullah bin 'Amru, dan Aisyah -radhiyallahu 'anhum- dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahwasannya beliau bersabda, "Celakalah (Neraka Wail) bagi tumit-tumit (yang tidak terkena air wudu)."
عن عَبْد اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قال: «أّعْتَمَ النَبِيُّ -صلَّى الله عليه وسلَّم- بِالعِشَاء، فَخَرَج عُمَر فقال: الصَّلاةَ يا رسول الله، رَقَد النِسَاءُ والصِّبيَان. فَخَرَجَ ورَأسُهُ يَقطُر يقول: لَولاَ أن أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي -أو على النَّاس- لَأَمَرتُهُم بهذه الصَّلاة هذه السَّاعَة».
Dari Abdullah bin 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā-, ia berkata, "Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- terlambat salat Isya. Lantas Umar keluar lalu berkata, "Salat, wahai Rasulullah. Para perempuan dan anak-anak sudah tidur." Beliau pun keluar dalam keadaan kepala meneteskan air (bekas wudu) seraya bersabda, "Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku pasti memerintahkan mereka melaksanakan salat (Isya) pada waktu seperti ini."
عن عَلِي بن أبي طالب رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ يَوْمَ الْخَنْدَقِ: «مَلَأ اللهُ قُبُورَهم وبُيُوتَهُم نَارًا، كَمَا شَغَلُونَا عن الصَّلاَة الوُسْطَى حَتَّى غَابَت الشَّمس».
وفي لفظ لمسلم: «شَغَلُونَا عن الصَّلاَة الوُسْطَى -صلاة العصر-»، ثم صَلاَّهَا بين المغرب والعشاء».
وله عن عبد الله بن مسعود قال: «حَبَسَ المُشرِكُون رسول الله صلى الله عليه وسلم عن العصر، حَتَّى احْمَرَّت الشَّمسُ أو اصْفَرَّت، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : شَغَلُونَا عن الصَّلاَة الوُسْطَى -صلاة العصر-، مَلَأَ الله أَجْوَافَهُم وقُبُورَهم نَارًا (أَو حَشَا الله أَجْوَافَهُم وَقُبُورَهُم نَارًا)».
Dari Ali bin Abu Ṭālib -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwasanya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda pada waktu perang Khandaq, "Semoga Allah memenuhi kubur dan rumah mereka dengan api, sebagaimana mereka telah menyibukkan kita dari salat Wusṭa hingga matahari terbenam." Dalam redaksi riwayat Muslim, "Mereka telah menyibukkan kita dari salat Wusṭa -(Asar)-". Kemudian beliau mengerjakannya di waktu antara Magrib dan Isya." Masih riwayat Muslim dari Abdullah bin Mas'ud, ia berkata, "Orang-orang musyrik menghalangi Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dari mengerjakan salat Asar, hingga matahari memerah atau menguning. Maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Mereka telah menyibukkan kita dari salat Wusṭa (Asar). Semoga Allah memenuhi perut dan rumah mereka dengan api (atau semoga Allah mengisi perut dan kubur mereka dengan api)."
عن عَائِشَة رضي الله عنها قالت: (لقد كان رسولُ الله صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي الفَجر، فَيَشهَدُ معه نِسَاء مِن المُؤمِنَات، مُتَلَفِّعَاتٍ بِمُرُوطِهِنَّ، ثم يَرجِعْن إلى بُيُوتِهِنَّ مَا يُعْرِفُهُنَّ أحدٌ من الغَلَس).
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- ia berkata, "Sungguh Rasulullah -șallāhu 'alaihi wa sallam- pernah melaksanakan salat Fajar dan para wanita Mukminah turut salat bersama beliau, mereka mengenakan murūṭ (pakaian dari wol), lalu mereka kembali ke rumahnya tanpa ada seorang pun yang mengenali mereka karena gelap."
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «قَالَ اللَّهُ: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ، إِلَّا الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ، وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ، فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ، وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ المِسْكِ، لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا: إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ، وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Allah -'Azza wa Jalla- berfirman, 'Semua amal anak Adam ialah miliknya selain puasa. Sesungguhnya puasa itu milik-Ku dan Aku sendirilah yang akan memberikan ganjarannya.' Puasa adalah perisai. Sebab itu, bila salah seorang dari kalian sedang berpuasa, janganlah ia berbicara kotor dan jangan berteriak-teriak (memancing keributan). Jika seseorang mencacinya atau memusuhinya, hendaknya ia mengatakan, 'Aku sedang puasa.' Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya! Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah dibandingkan aroma kasturi. Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan yang ia rasakan: apabila ia berbuka puasa, ia bahagia dengan berbukanya, dan apabila ia bertemu Tuhannya, ia bahagia dengan puasanya."
1- Keutamaan puasa, yaitu puasa menjaga pelakunya di dunia dari syahwat dan di akhirat dari azab neraka.
2- Di antara adab puasa ialah meninggalkan perkataan keji dan dosa, sabar terhadap gangguan orang lain, dan membalas perbuatan buruk mereka dengan sikap sabar dan perbuatan baik.
3- Apabila orang yang berpuasa atau yang beribadah merasa bahagia lantaran telah menyempurnakan dan menyelesaikan ibadahnya, hal itu tidak akan mengurangi pahalanya di akhirat.
4- Kebahagiaan yang sempurna terwujud lewat pertemuan dengan Allah Ta'ala, ketika orang-orang yang bersabar dan berpuasa diberikan pahala secara sempurna tanpa batas.
5- Memberitahukan ketaatan kepada orang lain ketika ada kebutuhan dan kemaslahatan tidak termasuk riya; berdasarkan sabda beliau ﷺ: "Aku sedang puasa."
6- Orang yang berpuasa sempurna adalah yang anggota tubuhnya berpuasa dari dosa, lisannya berpuasa dari dusta, kata keji, dan kesaksian palsu, serta perutnya berpuasa dari makanan dan minuman.
7- Menekankan larangan berteriak dan bertengkar saat puasa, karena sebenarnya selain orang yang berpuasa juga dilarang dari hal itu.
8- Hadis ini termasuk yang diriwayatkan oleh Nabi ﷺ dari Allah. Hadis seperti ini disebut hadis qudsi atau hadis ilahi, yaitu hadis yang lafaz dan maknanya berasal dari Allah. Akan tetapi, ia tidak memiliki keistimewaan-keistimewaan Al-Qur`an yang membedakannya dari yang lain, seperti beribadah dengan membacanya, bersuci sebelum memegangnya, kemukjizatannya, dan lain sebagainya.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا لَقِيَ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيُسَلِّمْ عَلَيْهِ، فَإِنْ حَالَتْ بَيْنَهُمَا شَجَرَةٌ أَوْ جِدَارٌ أَوْ حَجَرٌ ثُمَّ لَقِيَهُ فَلْيُسَلِّمْ عَلَيْهِ أَيْضًا».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda, "Apabila salah seorang kalian bertemu dengan saudaranya, hendaknya dia mengucapkan salam kepadanya. Jika kemudian keduanya dipisahkan oleh pohon, tembok, atau batu kemudian bertemu lagi, hendaknya dia mengucapkan salam lagi kepadanya."
1- Anjuran menebarkan salam dan agar salam diulang setiap kali bertemu.
2- Kesungguhan dan tingginya semangat Nabi ﷺ untuk menebarkan salam karena dapat mengundang cinta dan keharmonisan di antara umat Islam.
3- Salam adalah ucapan "Assalāmu 'alaikum" atau "Assalāmu 'alaikum waraḥmatullāhi wabarakātuh" tanpa mesti berjabat tangan yang biasa dilakukan ketika berjumpa pertama kali.
4- Salam adalah doa, dan umat Islam butuh untuk saling mendoakan satu sama lain walaupun berulang kali.
عن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا».
Abu Mūsā Al-Asy'ari -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Apabila seorang hamba sakit atau sedang safar maka (amal ibadah yang ia tinggalkan) akan dicatat baginya seperti yang biasa ia lakukan ketika dalam keadaan mukim dan sehat."
1- Luasnya karunia Allah kepada hamba-hamba-Nya.
2- Anjuran untuk bersungguh-sungguh dalam ketaatan serta memaksimalkan waktu di saat sehat dan kosong.