عن ثوبان رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «من تَكَفَّلَ لي أن لا يسأل الناس شيئًا، وأَتَكَفَّلُ له بالجنة؟» فقلت: أنا، فكان لا يَسأل أحدًا شيئًا.
Dari Ṡaubān -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Siapakah yang mau memberikan jaminan padaku bahwa ia tidak akan meminta apapun kepada manusia maka aku memberikan jaminan surga baginya? Aku menjawab, "Saya." Sejak saat itu, Ṡaubān tidak pernah meminta apapun kepada orang lain."
عن أنس رضي الله عنه مرفوعاً: «من خَرج في طلب العلم فهو في سَبِيلِ الله حتى يرجع».
Anas -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan secara marfū': "Siapa yang keluar dalam rangka mencari ilmu, maka dia berada di jalan Allah sampai ia kembali."
Menuntut ilmu adalah jihad fi sabilillah.
Penuntut ilmu mendapatkan pahala seperti pahala orang yang berjihad di medan tempur karena masing-masing mereka sedang memperkuat agama Allah serta menghalau apa yang bukan dari agama-Nya.
Di dalam hadis ini ada pelajaran bahwa orang yang keluar menuntut ilmu mendapatkan pahala berjalan pergi dan pulang hingga dia kembali ke keluarganya.
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «من رآني في المنام فَسَيَرَانِي في اليَقظة -أو كأنما رآني في الْيَقَظَةِ- لا يَتَمَثَّلُ الشيطان بي».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Siapa melihatku dalam tidurnya, niscaya ia akan melihatku dalam sadarnya - atau seakan-akan ia melihatku dalam sadarnya - karena setan tidak bisa menyerupaiku."
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضيَ اللهُ عنهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «يَا أَبَا سَعِيدٍ، مَنْ رَضِيَ بِاللهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا، وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ»، فَعَجِبَ لَهَا أَبُو سَعِيدٍ، فَقَالَ: أَعِدْهَا عَلَيَّ يَا رَسُولَ اللهِ، فَفَعَلَ، ثُمَّ قَالَ: «وَأُخْرَى يُرْفَعُ بِهَا الْعَبْدُ مِائَةَ دَرَجَةٍ فِي الْجَنَّةِ، مَا بَيْنَ كُلِّ دَرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ»، قَالَ: وَمَا هِيَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: «الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ، الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ».
Abu Sa‘īd al-Khudriy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Wahai Abu Sa'īd! Siapa yang rida Allah sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai rasulnya, maka ditetapkan baginya surga." Abu Sa'īd merasa takjub dengan hal itu, ia berkata, "Ulangi hal itu untukku, wahai Rasulullah!" Beliau pun mengulanginya lalu bersabda, "Ada amalan yang lain, Allah mengangkat hamba dengannya seratus derajat di surga. Jarak antara dua derajat seperti jarak antara langit dan bumi." Abu Sa'īd bertanya, "Apakah itu, wahai Rasulullah?" Beliau bersabda, "Jihad di jalan Allah. Jihad di jalan Allah."
1- Di antara sebab masuk surga ialah meridai Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Muhammad ﷺ sebagai nabi.
2- Mengagungkan perkara jihad di jalan Allah Ta'ala.
3- Tingginya kedudukan seorang mujahid di dalam surga.
4- Di dalam surga terdapat tingkatan yang tidak terhitung jumlahnya dan kedudukan yang tidak terhingga, seratus derajat di antaranya diperuntukkan bagi seorang mujahid.
5- Kecintaan para sahabat Rasulullah ﷺ untuk mengetahui kebaikan, pintu kebaikan, dan sebab-sebabnya.
عن عمرو بن عَبَسَة رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: «من رمى بسهم في سبيل الله فهو له عِدْلُ مُحَرَّرَةٍ».
Dari Amru bin Abasah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Siapa yang memanah satu anak panah di jalan Allah, maka pahalanya sebanding dengan membebaskan hamba sahaya."
عَنْ أَبَي قَتَادَةَ رضي الله عنه أنَّهُ طَلَبَ غَرِيمًا لَهُ، فَتَوَارَى عَنْهُ ثُمَّ وَجَدَهُ، فَقَالَ: إِنِّي مُعْسِرٌ، فَقَالَ: آللَّهِ؟ قَالَ: آللَّهِ؟ قَالَ: فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُنْجِيَهُ اللهُ مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلْيُنَفِّسْ عَنْ مُعْسِرٍ أَوْ يَضَعْ عَنْهُ».
Abu Qatādah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa dia pernah mencari orang yang memiliki hutang padanya, tetapi ia bersembunyi hingga dia menemukannya, maka ia menjawab, "Sungguh aku sedang kesulitan." Abu Qatādah bertanya, "Demi Allah?" Ia menjawab, "Demi Allah." Dia berkata, Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang ingin diselamatkan oleh Allah dari kesulitan hari Kiamat, hendaklah dia memberi kelonggaran pada orang yang kesulitan (membayar hutang) atau membebaskan hutangnya."
1- Anjuran memberi tempo kepada orang yang mengalami kesulitan hingga mendapatkan kemudahan atau membebaskannya dari utang tersebut, baik seluruhnya ataupun sebagiannya.
2- Orang yang memberikan kemudahan bagi seorang mukmin dari kesusahan dunia, Allah akan memberinya kemudahan dari kesulitan hari Kiamat, karena balasan itu setimpal dengan perbuatan.
3- Ada kaidah: Perkara wajib lebih utama dari perkara sunah. Namun di sebagian waktu, perkara yang sunah lebih utama dari perkara wajib. Membebaskan utang dari orang yang mengalami kesulitan hukumnya sunah, sedangkan sabar menghadapi orang yang mengalami kesulitan, memberinya tempo dan tidak menagihnya hukumnya wajib, tetapi di sini yang sunah lebih utama dari yang wajib.
4- Hadis ini berlaku pada orang yang mengalami kesulitan. Orang yang seperti itu diberikan uzur. Adapun orang yang sengaja menunda pelunasan padahal ia memiliki harta, maka terdapat hadis dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Penundaan (membayar hutang) oleh orang yang mampu adalah kezaliman."
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ»
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, “Siapa yang berpuasa karena iman dan mengharapkan pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
Keutamaan dan urgensi keikhlasan dalam melaksanakan puasa Ramadan dan amal saleh lainnya.
عن أَبِي مُوسَى الأَشْعَرِيِّ رضي الله عنه: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «مَنْ صَلَّى الْبَرْدَيْنِ دَخَلَ الْجَنَّةَ»
Abu Musa Al-Asy'ariy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang melaksanakan salat al-bardain (Subuh dan Asar) niscaya dia masuk surga."
1- Keutamaan memelihara salat Subuh dan Asar karena salat Subuh ada di saat enak tidur, sedangkan salat Asar ada di saat manusia sibuk dengan pekerjaannya. Siapa yang memelihara keduanya, pastinya akan lebih memelihara salat-salat yang lain.
2- Salat Subuh dan Asar dinamakan al-bardain (dua waktu dingin) karena waktu salat Subuh di saat dinginnya malam dan waktu salat Asar di saat dinginnya siang, walaupun itu di waktu panas, hanya saja ia lebih ringan dari waktu sebelumnya. Atau penamaannya demikian secara dominasi, sebagaimana dikatakan "dua rembulan" untuk matahari dan bulan.
عن معاذ رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «مَنْ قاتل في سَبِيل الله من رَجُل مُسْلم فُوَاقَ نَاقَة، وجَبَتْ له الجنة، ومن جُرح جُرْحًا في سَبِيل الله أو نُكِبَ نَكْبَةً فإنها تَجِيء يوم القيامة كَأَغزَرِ ما كانت: لونُها الزَّعْفَرَانُ، وريُحها كالمِسك».
Dari Mu’āż -raḍiyallāhu 'anhu-, dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, ia bersabda, “Lelaki Muslim mana saja yang berperang di jalan Allah meskipun sejenak, maka wajib baginya mendapatkan surga, dan siapa yang terluka di jalan Allah atau dia mendapatkan suatu musibah, maka luka tersebut akan datang kepadanya pada hari kiamat dengan mengeluarkan darah yang banyak: warnanya seperti warna za’farān dan wanginya seperti wangi minyak kasturi."
عَنْ جَابِرٍ رَضيَ اللهُ عنهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ قَالَ: سُبْحَانَ اللهِ العَظِيمِ وَبِحَمْدِهِ، غُرِسَتْ لَهُ نَخْلَةٌ فِي الجَنَّةِ».
Jābir -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi Muhammad ﷺ, bahwa beliau bersabda, "Siapa yang mengucapkan: subḥānallāh wa biḥamdih (Mahasuci Allah dan aku memuji-Nya), maka akan ditanamkan untuknya satu pohon kurma di surga."
1- Motivasi untuk memperbanyak zikir kepada Allah Ta'ala, di antaranya: bertasbih dan bertahmid.
2- Surga itu luas dan penumbuh pepohonannya ialah bacaan tasbih dan tahmid, sebagai pemberian dan karunia dari Allah Ta'ala.
3- Alasan penyebutan pohon kurma secara khusus dalam hadis ini, bukan pepohonan lainnya, adalah karena pohon kurma memiliki banyak manfaat dan buah yang bagus. Oleh karena itu, Allah Ta'ala membuat perumpamaan orang mukmin dan keimanannya dengan pohon kurma di dalam Al-Qur`an.