عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لاَ يَذْكُرُ رَبَّهُ، مَثَلُ الحَيِّ وَالمَيِّتِ»، ولفظ مسلم: «مَثَلُ الْبَيْتِ الَّذِي يُذْكَرُ اللهُ فِيهِ، وَالْبَيْتِ الَّذِي لَا يُذْكَرُ اللهُ فِيهِ، مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ».
Abu Musa -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Nabi ﷺ bersabda, "Perumpamaan orang yang mengingat Tuhannya dengan orang yang tidak mengingat-Nya, seperti perbandingan orang hidup dengan orang mati."
Dalam redaksi Muslim disebutkan: "Perumpamaan rumah yang di dalamnya ada zikir kepada Allah dan rumah yang di dalamnya tidak ada zikir kepada Allah, seperti perbandingan orang yang hidup dengan orang yang mati."
1- Motivasi untuk berzikir kepada Allah dan peringatan dari melalaikannya.
2- Zikir adalah sumber kehidupan roh, sebagaimana roh adalah sumber kehidupan badan.
3- Di antara petunjuk Nabi ﷺ ialah membuat perumpamaan agar membuat sesuatu yang abstrak lebih mudah dipahami.
4- An-Nawawiy berkata, "Di dalamnya terkandung anjuran untuk berzikir kepada Allah Ta'ala di rumah dan agar tidak dikosongkan dari zikir."
5- An-Nawawiy berkata, "Di dalamnya terkandung pelajaran bahwa panjang umur dalam ketaatan adalah sebuah keutamaan, meskipun dia mati, maka dia sedang berpindah menuju kebaikan. Hal itu karena orang yang hidup akan menyusul dan menambahnya dengan sebab ketaatan yang dikerjakannya."
عن جابر رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم مر بالسوق والناس كَنَفَتَيَهِ، فمر بِجَدْيٍ أَسَكَّ ميت، فتناوله فأخذ بأذنه، ثم قال: «أيكم يحب أن يكون هذا له بدرهم؟» فقالوا: ما نحب أنه لنا بشيء وما نصنع به؟ ثم قال: «أتحبون أنه لكم؟» قالوا: والله لو كان حيا ًكان عيباً، إنه أسك فكيف وهو ميت! فقال: «فو الله للدنيا أهون على الله من هذا عليكم».
Dari Jābir -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melewati pasar, dan orang-orang berada di kedua sisi beliau. Lantas beliau melintasi bangkai kambing kecil yang telinganya terpotong. Beliau memungut anak kambing itu dan memegang telinganya lalu bersabda, "Siapakah di antara kalian yang mau membeli bangkai anak kambing ini dengan satu dirham?" Mereka menjawab, "Kami tak sudi dengan berapa pun. Apa yang bisa kami perbuat dengannya?" Beliau bertanya, "Apakah kalian mau anak kambing ini untuk kalian (cuma-cuma)?" Mereka menjawab, "Seandainya ia masih hidup, kambing ini tetap cacat, telinganya putus. Apalagi sudah jadi bangkai." Lantas beliau bersabda, "Demi Allah, sungguh dunia ini lebih hina bagi Allah dari bangkai ini di mata kalian."
عن ابن عمر رضي الله عنهما قال: لما اشتد برسول الله صلى الله عليه وسلم وجعه، قيل له في الصلاة، فقال: «مروا أبا بكر فليُصَلِّ بالناس» فقالت عائشة رضي الله عنها : إن أبا بكر رجل رقيق، إذا قرأ القرآن غلبه البكاء، فقال: «مُرُوه فليُصَلِّ».
وفي رواية عن عائشة رضي الله عنها ، قالت: قلت: إن أبا بكر إذا قام مقامك لم يُسْمعِ الناس من البكاء.
Dari Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā-, ia berkata, Ketika Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sakit keras, ada seseorang yang menanyakan tentang imam salat. Beliau bersabda, "Suruhlah Abu Bakar untuk mengimami salat!" Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Sesungguhnya Abu Bakar itu orang yang sangat lembut hatinya (sensitif). Apabila ia membaca Al-Qur`ān, ia tidak dapat menahan tangisnya." Namun beliau bersabda, "Suruhlah ia (Abu Bakar) untuk menjadi imam!" Dalam satu riwayat dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, ia berkata, "Sesungguhnya Abu Bakar apabila menempati tempatmu (menjadi imam), orang-orang tidak dapat mendengar bacaan salatnya karena tangisnya."
عَنْ أَبٍي سَعِيدٍ الخُدْرِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَلَسَ ذَاتَ يَوْمٍ عَلَى المِنْبَرِ وَجَلَسْنَا حَوْلَهُ، فَقَالَ: «إِنِّي مِمَّا أَخَافُ عَلَيْكُمْ مِنْ بَعْدِي، مَا يُفْتَحُ عَلَيْكُمْ مِنْ زَهْرَةِ الدُّنْيَا وَزِينَتِهَا» فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَوَيَأْتِي الخَيْرُ بِالشَّرِّ؟ فَسَكَتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقِيلَ لَهُ: مَا شَأْنُكَ؟ تُكَلِّمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلاَ يُكَلِّمُكَ؟ فَرَأَيْنَا أَنَّهُ يُنْزَلُ عَلَيْهِ؟ قَالَ: فَمَسَحَ عَنْهُ الرُّحَضَاءَ، فَقَالَ: «أَيْنَ السَّائِلُ؟» وَكَأَنَّهُ حَمِدَهُ، فَقَالَ: «إِنَّهُ لاَ يَأْتِي الخَيْرُ بِالشَّرِّ، وَإِنَّ مِمَّا يُنْبِتُ الرَّبِيعُ يَقْتُلُ أَوْ يُلِمُّ، إِلَّا آكِلَةَ الخَضْرَاءِ، أَكَلَتْ حَتَّى إِذَا امْتَدَّتْ خَاصِرَتَاهَا اسْتَقْبَلَتْ عَيْنَ الشَّمْسِ، فَثَلَطَتْ وَبَالَتْ، وَرَتَعَتْ، وَإِنَّ هَذَا المَالَ خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ، فَنِعْمَ صَاحِبُ المُسْلِمِ مَا أَعْطَى مِنْهُ المِسْكِينَ وَاليَتِيمَ وَابْنَ السَّبِيلِ - أَوْ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - وَإِنَّهُ مَنْ يَأْخُذُهُ بِغَيْرِ حَقِّهِ، كَالَّذِي يَأْكُلُ وَلاَ يَشْبَعُ، وَيَكُونُ شَهِيدًا عَلَيْهِ يَوْمَ القِيَامَةِ».
Abu Sa'īd Al-Khudriy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Suatu hari, Nabi ﷺ duduk di atas mimbar sedangkan kami duduk di sekitarnya. Beliau bersabda, "Sungguh, di antara yang aku khawatirkan pada kalian sepeninggalku ialah perhiasan dan kenikmatan dunia yang dibukakan pada kalian." Lantas seseorang bertanya, "Wahai Rasulullah! Apakah kebaikan dapat mendatangkan keburukan?" Akan tetapi, Nabi ﷺ diam, sehingga dikatakan pada orang itu, "Ada apa denganmu? Engkau berbicara kepada Nabi ﷺ, tetapi beliau tidak menjawabmu?" Lalu kami melihat wahyu turun kepada beliau. Kemudian beliau menyeka keringatnya seraya bertanya, "Mana yang bertanya?" Seakan beliau menyanjungnya. Beliau bersabda, "Kebaikan hakiki itu tidak akan mendatangkan keburukan. Tetapi, sebagian tumbuhan yang tumbuh di musim semi dapat mematikan atau mendekatinya kecuali hewan pemakan rumput yang hijau. Ia makan, kemudian ketika kedua pinggulnya melebar (perutnya penuh), ia menghadap ke matahari lalu buang kotoran, kencing dan merumput. Sungguh, harta itu hijau dan manis. Maka, sebaik-baik harta yang dimiliki seorang muslim adalah yang ia berikan sebagiannya kepada orang miskin, anak yatim dan Ibnu sabil -atau sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi ﷺ-. Sungguh, orang yang mengambil harta dengan cara yang tidak benar seperti orang yang makan tetapi tidak kenyang, kelak di hari Kiamat harta itu akan menjadi saksi yang memberatkannya."
1- An-Nawawiy berkata, "Di dalamnya terdapat keutamaan harta bagi orang yang mendapatkannya dengan cara yang benar dan memanfaatkannya pada pos-pos kebaikan."
2- Berita dari Nabi ﷺ tentang kondisi umat beliau serta kenikmatan hidup dunia dan godaannya yang akan dibukakan pada mereka.
3- Di antara petunjuk Nabi ﷺ ialah membuat perumpamaan untuk membuat sesuatu yang abstrak lebih mudah dipahami.
4- Anjuran bersedekah dan memanfaatkan harta pada pos-pos kebaikan serta peringatan agar tidak pelit.
5- Dapat dipetik dari sabda beliau: "Sungguh kebaikan sejati tidak akan mendatangkan keburukan", bahwa rezeki itu, sekalipun banyak, masuk dalam kategori kebaikan. Tetapi, ia dihinggapi keburukan ketika disusupi oleh perbuatan bakhil dengan tidak memberikannya kepada orang yang berhak mendapatkannya serta perbuatan melampaui batas dalam penggunaannya pada sesuatu yang tidak disyariatkan. Sabda beliau ini juga menunjukkan bahwa segala sesuatu yang ditetapkan oleh Allah sebagai kebaikan tidak akan menjadi keburukan, demikian pula sebaliknya. Tetapi, dikhawatirkan pada orang yang diberikan kenikmatan, dalam memanfaatkannya, ia melakukan perbuatan yang mendatangkan keburukan.
6- Tidak terburu-buru dalam memberi jawaban jika jawabannya butuh perenungan.
7- Aṭ-Ṭībiy berkata, "Dari hadis ini dapat disimpulkan empat macam orang.
Pertama: Orang yang makan penuh nikmat dan berlebihan hingga mulutnya terbuka dan tidak berhenti hingga ditimpa kematian.
Kedua: Orang yang makan seperti itu, tetapi ia segera melakukan siasat untuk menghilangkan penyakitnya setelah penyakit itu menguasainya, namun penyakit itu menang dan membunuhnya.
Ketiga: Orang yang makan seperti itu juga, tetapi ia segera menghilangkan apa yang dapat mencelakakannya serta melakukan siasat untuk melawannya hingga hancur dan dia pun selamat.
Keempat: Orang yang mencukupkan diri seukuran menutupi rasa laparnya dan menopang hidupnya.
Orang pertama adalah permisalan orang kafir. Orang kedua permisalan pelaku maksiat yang tidak berhenti dan bertobat kecuali setelah waktunya habis. Orang ketiga permisalan untuk pelaku dosa yang segera bertobat selama waktu tobat masih diterima. Orang yang keempat adalah permisalan orang yang zuhud di dunia dan rindu akhirat."
8- Ibnu Al-Munayyir berkata, "Dalam hadis ini terdapat macam-macam perumpamaan yang indah.
Pertama: Mengumpamakan harta benda dan pertambahannya dengan tumbuhan dan perkembangannya.
Kedua: Mengumpamakan orang yang larut dalam mengumpulkan harta dan sarana-sarananya dengan hewan ternak yang berlebihan dalam memakan rumput.
Ketiga: Mengumpamakan perbuatan menimbun dan mengumpulkannya dengan perbuatan rakus dalam makan dan kenyang.
Keempat: Mengumpamakan keluarnya harta yang disertai kecintaan padanya dalam diri hingga mengakibatkannya sangat kikir dengan harta itu dengan kotoran yang dibuang oleh binatang. Di dalamnya ada isyarat indah tentang penilaian buruknya menurut syariat.
Kelima: Mengumpamakan orang yang tidak ikut mengumpulkan dan menimbunnya dengan kambing ketika istirahat dan merebahkan perutnya sambil menghadap matahari. Keadaan tersebut adalah keadaan yang paling indah pada kambing dari sisi ketenangan dan ketenteraman. Di dalamnya ada isyarat bahwa ia memahami kemaslahatan dirinya.
Keenam: Mengumpamakan kematian orang yang kikir dengan kematian binatang yang lupa membuang makanan yang mencelakakannya.
Ketujuh: Mengumpamakan harta dengan teman yang dikhawatirkan akan berubah menjadi musuh. Harta itu biasanya diamankan dan dikuatkan penjagaannya sebagai wujud mencintainya. Hal itu akan berujung pada perbuatan menahannya dari orang yang berhak mendapatkannya sehingga menjadi sebab siksaan bagi pemiliknya.
Kedelapan: Mengumpamakan orang yang mendapatkannya dengan cara yang tidak benar dengan orang yang makan dan tidak kenyang."
9- As-Sindiy berkata, "Ada dua hal yang harus ada dalam hadis ini.
Pertama: Mengumpulkan harta dengan cara yang benar.
Kedua: Menggunakannya pada tempatnya. Ketika salah satunya tidak terpenuhi, maka ia akan menjadi mudarat ... Dapat dikatakan, di dalamnya terdapat isyarat adanya keterikatan di antara kedua batasan itu. Seseorang tidak akan diberikan taufik untuk menempatkannya pada tempatnya kecuali jika ia mendapatkannya dengan cara yang benar."
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «مَنْ احْتَبَسَ فَرَسًا في سَبِيل الله، إيمانًا بالله، وتَصْدِيقًا بِوَعْدِه، فإن شِبَعَهُ وريَّه ورَوْثَهُ وبَوْلَه في مِيْزَانه يوم القيامة».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Siapa menyiapkan seekor kuda di jalan Allah karena iman kepada Allah dan membenarkan janji-Nya, maka makanan yang membuatnya kenyang, minum yang membuatnya puas, kotorannya dan kencingnya menjadi timbangan amal orang tersebut pada hari kiamat."
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: جاء رجل إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: يا رسول الله، مَنْ أحقُّ الناس بِحُسن صَحَابَتِي؟ قال: «أمك» قال: ثم مَنْ ؟ قال: «أمك»، قال: ثم مَنْ؟ قال: «أمك»، قال: ثم مَنْ؟ قال: «أبوك». متفق عليه. وفي رواية: يا رسول الله، مَنْ أحقُّ بحُسْنِ الصُّحْبَةِ؟ قال: «أمك، ثم أمك، ثم أمك، ثم أباك، ثم أدْنَاك أدْنَاك».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Seorang lelaki datang kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu berkata,"Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku pergauli dengan baik?" Beliau bersabda, "Ibumu." Orang itu bertanya lagi, "Lalu siapa?" Beliau menjawab, "Ibumu." Orang itu bertanya lagi, "Kemudian siapa?" Nabi bersabda, "Ibumu." Orang itu bertanya lagi, "Lalu siapa?" Beliau bersabda, "Bapakmu." Muttafaq 'alaih. Dalam riwayat lain disebutkan, "Wahai Rasulullah, siapakah orang yang lebih berhak aku pergauli dengan baik?" Beliau menjawab, "Ibumu, lalu ibumu, lalu ibumu, lalu bapakmu. Lalu orang yang terdekat denganmu, dan yang terdekat denganmu."
عن ابن مسعود رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «من أصابته فَاقَة فأنْزَلها بالناس لم تُسَدَّ فَاقَتُهُ، ومن أنْزَلها بالله، فَيُوشِكُ الله له بِرزق عاجل أو آجل».
Dari Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Siapa didera kefakiran, lalu mengadukannya kepada manusia, maka kefakirannya tidak akan terpenuhi. Dan siapa mengadukan kefakirannya kepada Allah, maka pasti Allah akan segera memberinya rezeki, cepat atau lambat."
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا، أَوْ وَضَعَ لَهُ، أَظَلَّهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تَحْتَ ظِلِّ عَرْشِهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang menangguhkan (pembayaran utang) orang yang kesulitan atau membebaskannya, kelak pada hari Kiamat Allah akan menaunginya di bawah naungan Arasy-Nya, yaitu pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya."
1- Keutamaan memberikan kemudahan kepada hamba-hamba Allah Ta'ala, yaitu termasuk sebab keselamatan dari petaka hari Kiamat.
2- Balasan itu sejenis dengan perbuatan.
عن أبي هريرة - رضي الله عنه- مرفوعاً: «من أنْفَق زوْجَيْن في سَبيل الله نُودِي من أبْوَاب الجنَّة، يا عبد الله هذا خَيْرٌ، فمن كان من أهل الصلاة دُعِي من باب الصلاة، ومن كان من أهل الجِهاد دُعِي من باب الجِهاد، ومن كان من أهل الصيام دُعِي من باب الرَّيَّانِ، ومن كان من أهل الصَّدَقة دُعِي من باب الصَّدَقة» قال أبو بكر رضي الله عنه : بأبي أنت وأمي يا رسول الله! ما على من دُعِي من تلك الأبواب من ضَرورة، فهل يُدْعَى أحَدٌ من تلك الأبواب كلِّها؟ فقال: «نعم، وأرْجُو أن تكون منهم».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, sesungguhnya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Siapa bersedakah dengan sepasang (hewan, dll) di jalan Allah, maka dia akan dipanggil dari pintu-pintu surga, wahai hamba Allah, ini adalah kebaikan. Siapa yang gemar salat, maka dia dipanggil dari pintu salat; siapa yang gemar berjihad, maka dia akan dipanggil dari pintu jihad; siapa yang gemar berpuasa, maka dia akan dipanggil dari pintu Rayyān; siapa yang gemar bersedekah, maka dia akan dipanggil dari pintu sedekah." Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Ku persembahkan ayah ibuku sebagai tebusan untukmu wahai Rasulullah, tidak penting bagiku orang yang dipanggil dari tiap-tiap pintu (untuk masuk surga). Apakah ada orang yang dipanggil dari seluruh pintu?" Beliau bersabda, "Ya, dan aku berharap, engkaulah salah satu orangnya."
عن أبي يحيى خُرَيْم بن فَاتِك رضي الله عنه مرفوعاً: «مَنْ أَنْفَقَ نَفَقَةً في سَبِيل الله كُتب له سَبْعُمِائَةِ ضِعْفٍ».
Dari Abu Yaḥya Khuraim bin Fātik -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Barangsiapa berinfak satu kali di jalan Allah, maka ditulis untuknya pahala tujuh ratus kali lipat."