عن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه قال: ((أتَيتُ النبي صلى الله عليه وسلم وهو يَسْتَاكُ بِسِوَاك رَطْب، قال: وطَرَفُ السِّوَاك على لسانه، وهو يقول: أُعْ، أُعْ، والسِّوَاك في فِيه، كأنَّه يَتَهَوَّع)).
Dari Abu Musa Al-Asy'ari -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Aku datang kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- yang sedang bersiwak dengan siwak yang basah. Sementara itu ujung siwak ada di lidahnya dan beliau mengatakan, "a', a'," dan kayu siwak itu di dalam mulutnya. Seakan-akan beliau hendak muntah."
'Ammār bin Yāsir -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, "Rasulullah ﷺ pernah mengutusku untuk suatu keperluan, lalu aku mengalami junub dan tidak menemukan air. Aku pun berguling-guling di tanah layaknya seekor hewan yang berguling-guling. Setelah itu aku datang menemui Nabi ﷺ lalu menceritakan hal tersebut. Beliau bersabda, 'Sesungguhnya engkau cukup melakukan seperti ini dengan kedua tanganmu.' Kemudian beliau menepukkan kedua tangan ke tanah satu kali tepukan, lalu mengusapkan tangan kiri ke tangan kanan serta bagian luar kedua telapak tangannya dan wajahnya."
1- Kewajiban mencari air sebelum melakukan tayamum.
2- Tayamum disyariatkan juga bagi orang yang mengalami junub namun tidak menemukan air.
3- Tata cara tayamum untuk hadas besar sama seperti tayamum untuk hadas kecil.
عن جابر بن عبد الله رضي الله عنهما ، قال: لما حضرتْ أُحُدٌ دعاني أبي من الليل، فقال: ما أراني إلا مقتولا في أول من يُقتل من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم ، وإني لا أترك بعدي أعزَّ عليَّ منك غيرَ نَفْسِ رسول الله صلى الله عليه وسلم ، وإن عليَّ دَيْنًا فاقْضِ، واسْتَوْصِ بأَخَوَاتِكَ خيرًا، فأصبحنا، فكان أولَ قَتيل، ودَفَنْتُ معه آخرَ في قبره، ثم لم تَطِبْ نفسي أن أتركه مع آخر؛ فاستخرجتُه بعد ستة أشهر، فإذا هو كيوم وضعتُه غيرَ أُذنِهِ، فجعلته في قبر على حِدَةٍ.
Dari Jābir bin Abdullah -raḍiyallāhu 'anhumā- dia berkata, "Ketika perang Uhud akan dimulai, ayahku memanggilku di malam hari seraya berkata, "Aku tidak melihat diriku kecuali jadi orang pertama yang gugur di antara sahabat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Aku tiada meninggalkan apapun yang paling berharga dibanding dirimu setelah kematianku selain Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Sesungguhnya aku mempunyai hutang, maka lunasilah. Dan berbuat baiklah kepada saudari-saudarimu!" Keesokan harinya beliau benar-benar menjadi korban pertama dalam peperangan. Dan aku pun menguburnya bersama korban lainnya. Hatiku tidak tenteram membiarkannya dikubur bersama orang lain. Maka setelah enam bulan aku pun mengeluarkannya dan ternyata jasadnya masih utuh seperti awal aku kubur selain telinganya saja. Lalu aku menguburnya di tempat tersendiri."
عن أنس بن مالك رضي الله عنه أَنَّ النَبيَّ -صلَّى الله عليه وسلَّم- كَان إِذَا تَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ أَعَادَهَا ثَلاَثًا حَتَّى تُفْهَمَ عَنْهُ، وَإِذَا أَتَى عَلَى قَوْمٍ فَسَلَّمَ عَلَيهِم سَلَّمَ عَلَيهِم ثَلاَثًا.
Dari Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- "Bahwasanya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- apabila menuturkan satu kata, beliau mengulanginya tiga kali hingga dapat dipahami. Dan jika mendatangi suatu kaum lalu mengucapkan salam, beliau mengucapkan salam kepada mereka tiga kali."
عن زياد بن جبير قال: رَأَيتُ ابنَ عُمَرَ أَتَى عَلَى رجل قد أَنَاخَ بَدَنَتَهُ، فَنَحَرَهَا، فَقَالَ: ابْعَثْهَا قِيَاماً مُقَيَّدَةً، سُنَّةَ مُحَمَّدٍ -صلَّى الله عليه وسلَّم-.
Dari Ziyād bin Jubair, ia berkata, "Aku melihat Ibnu Umar mendatangi seorang lelaki yang telah menderumkan untanya lalu (hendak) menyembelihnya. Lantas Ibnu Umar berkata, "Sembelihlah dalam keadaan berdiri dan terikat. Itu merupakan sunah Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-."
عن أنس رضي الله عنه : أن رجلين من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم خرجا من عند النبي صلى الله عليه وسلم في ليلة مظلمة ومعهما مثلُ المصباحين بين أيديهما، فلما افترقا، صار مع كل واحد منهما واحد حتى أتى أهله.
Dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa ada dua orang sahabat Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- keluar dari tempat beliau pada suatu malam yang gelap gulita, bersama mereka seolah ada dua lampu di depan mereka. Ketika keduanya berpisah, setiap lampu itu menyertai mereka sampai tiba di keluarganya.
عن أبي ذر رضي الله عنه قال: قُلتُ: يَا رسُولَ الله، أَلاَ تَسْتَعْمِلُنِي؟ فَضَرَبَ بِيَدِهِ عَلَى مَنْكِبِي، ثُمَّ قَالَ: «يَا أَبَا ذَرٍّ، إِنَّكَ ضَعِيفٌ، وَإِنَّهَا أَمَانَةٌ، وَإِنَّهَا يَوْمَ القِيَامَةِ خِزيٌ وَنَدَامَةٌ، إِلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا، وَأَدَّى الَّذِي عَلَيهِ فِيهَا».
Dari Abu Żar -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Aku berkata, 'Wahai Rasulullah, mengapa engkau tidak memberiku kekuasaan (jabatan)?' Beliau memegang pundakku dengan tangannya lalu bersabda, 'Wahai Abu Żar, sesungguhnya engkau adalah orang yang lemah dan kekuasaan itu adalah amanah. Sesungguhnya kekuasaan itu pada hari kiamat menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mendapatkan kekuasaan tersebut dengan haknya dan melaksanakan kewajibannya pada kekuasaannya itu.'"
Hadis #3468Hadis hasanDiriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Nasā`i - Diriwayatkan oleh Ahmad
عن أبي شريح خويلد بن عمرو الخزاعي و أبي هريرة رضي الله عنهما عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: «اللَّهُمَّ إِنِّي أُحَرِّجُ حَقَّ الضَعِيفَين: اليَتِيم والمَرْأَة».
Dari Abu Syuraiḥ Khuwailid bin 'Amru Al-Khuzā'i - raḍiyallāhu 'anhu- dan Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- beliau bersabda, "Ya Allah, sesungguhnya aku menimpakan dosa terhadap orang yang menyia-nyiakan hak dua golongan yang lemah, yaitu anak yatim dan wanita."
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Berusahalah untuk mendekati kebenaran dan tetaplah dalam kebenaran. Ketahuilah, bahwasanya tidak ada seorang pun dari kalian yang selamat karena amalannya." Para sahabat bertanya, "Tidak pula Engkau, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Tidak pula aku, kecuali Allah meliputi diriku dengan rahmat dan karunia-Nya."
1- An-Nawawiy berkata, "Makna 'saddidū wa qāribū' adalah carilah yang benar lalu amalkanlah. Tetapi, jika kalian tidak mampu mendapatkannya, maka berusahalah mendekatinya. As-Sadād adalah kebenaran, yaitu pertengahan antara sikap berlebihan dan lalai sehingga kalian tidak boleh berlebihan maupun lalai."
2- Ibnu Bāz berkata, "Amal saleh merupakan sebab masuk surga sebagaimana amal buruk merupakan sebab masuk neraka. Hadis ini menjelaskan bahwa mereka masuk surga tidak murni dengan amal saja, tetapi harus ada ampunan dan rahmat Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-. Mereka masuk surga dengan sebab amalnya, tetapi yang menjadi sumber utamanya adalah rahmat Allah dan ampunan-Nya."
3- Seorang hamba tidak boleh teperdaya dan merasa takjub dengan amalnya sebanyak apa pun karena hak Allah lebih besar daripada amal yang dilakukannya sehingga ia harus selalu memiliki rasa takut dan harap sekaligus.
4- Karunia dan rahmat Allah kepada hamba-Nya lebih luas daripada amal mereka.
5- Amal saleh adalah sebab masuk surga, tetapi meraihnya adalah dengan karunia dan rahmat dari Allah.
6- Al-Kirmāniy berkata, "Apabila semua manusia tidak masuk surga kecuali dengan rahmat Allah maka alasan Rasulullah ﷺ disebutkan secara khusus adalah jika beliau yang telah dipastikan masuk surga tidak memasukinya kecuali dengan rahmat Allah, maka selain beliau dalam hal itu lebih pantas."
7- An-Nawawiy berkata, "Adapun firman Allah Ta'ala: 'Masuklah ke dalam surga karena apa yang telah kamu kerjakan' (QS. An-Naḥl: 32), serta firman-Nya: 'Itulah surga yang diwariskan kepada kamu karena perbuatan yang telah kamu kerjakan' (QS. Az-Zukhruf: 72), dan ayat-ayat semisal lainnya yang menunjukkan bahwa amal saleh menjadi sebab masuk surga, ia tidak bertentangan dengan hadis-hadis ini. Justru ayat-ayat tersebut menunjukkan masuk surga itu adalah dengan sebab amal, kemudian taufik untuk beramal dan hidayah untuk ikhlas di dalamnya, sedangkan pengabulannya adalah dengan rahmat dan karunia Allah Ta'ala. Sehingga dapat dikatakan bahwa masuk surga tidak hanya dengan amal saja, dan itu yang dimaksudkan oleh hadis-hadis ini. Demikian juga dapat dikatakan bahwa masuk surga itu dengan amal, maksudnya dengan sebab amal yang merupakan bagian dari rahmat."
8- Ibnul-Jauziy berkata, "Tentang hal itu terdapat empat jawaban:
- Pertama: taufik untuk beramal berasal dari rahmat Allah. Kalaulah bukan karena rahmat Allah yang telah tertulis, tidak akan ada keimanan maupun ketaatan yang menghasilkan keselamatan.
- Kedua: kebaikan yang dikumpulkan oleh hamba adalah milik majikannya, sehingga perbuatannya menjadi hak tuannya, maka seperti apa pun balasan yang diberikan kepadanya adalah berasal dari kebaikannya.
- Ketiga: disebutkan dalam sebagian hadis bahwa masuk surga itu sendiri adalah dengan rahmat Allah, sedangkan pembagian tingkatan di dalamnya adalah dengan amal.
- Keempat: amal ketaatan dilakukan pada masa yang pendek, sedangkan balasannya tidak berujung, sehingga kenikmatan yang tidak berujung sebagai balasan terhadap apa yang memiliki ujung adalah dengan rahmat, bukan sebagai imbalan amal.
9- Ar-Rāfi'iy berkata, "Orang yang beramal tidak boleh bertumpu pada amalnya untuk mencari keselamatan dan meraih kedudukan sebab ia beramal adalah murni dengan taufik dari Allah dan ia meninggalkan kemaksiatan adalah dengan penjagaan dari Allah sehingga semua itu adalah dengan karunia dan rahmat-Nya."
Hadis #3470SahihHR. Abu Daud, Tirmizi, Nasa`i di Sunan Kubra, Ibnu Majah, dan Ahmad
Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Wahai sekalian manusia! Sungguh kalian membaca ayat ini: 'Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudarat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk.' Sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, 'Sungguh, apabila manusia melihat orang yang berbuat kezaliman lalu mereka tidak berusaha mencegahnya, hampir pasti Allah akan menimpakan azab-Nya kepada mereka semua.'"
1- Kewajiban umat Islam agar saling menasihati serta melakukan amar makruf nahi mungkar.
2- Hukuman Allah bersifat umum; mencakup orang yang berbuat kezaliman lantaran kezalimannya dan yang tidak melakukan pengingkaran jika ia mampu mengingkari.
3- Mengajar masyarakat umum dan memahamkan mereka tentang makna nas-nas Al-Qur`an sesuai pemahaman yang benar.
4- Seseorang wajib memiliki perhatian untuk memahami Kitab Allah ﷻ, agar ia tidak memahaminya dengan makna yang tidak diinginkan oleh Allah Ta'ala.
5- Mengikuti petunjuk tidak dapat terwujud dengan meninggalkan amar makruf nahi mungkar.
6- Tafsir yang benar untuk ayat ini yaitu: Tetaplah jaga diri kalian dari kemaksiatan. Jika kalian menjaga diri dan sukses menjauhinya, maka kesesatan orang-orang yang tersesat lantaran melanggar larangan tidak akan memudaratkan kalian tatkala kalian tidak mampu melakukan amar makruf nahi mungkar.