عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ -أَوْ: عَلَى أُمَّتِي- لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Andaikan tidak akan memberatkan orang-orang mukmin -atau: umatku-, niscaya aku akan menyuruh mereka bersiwak setiap hendak salat."
1- Sifat lembut Nabi ﷺ pada umatnya dan tidak mau memberatkan mereka.
2- Hukum asal perintah Nabi ﷺ ialah wajib, kecuali ada dalil yang menunjukkan bahwa ia hanya sunah.
3- Anjuran bersiwak dan keutamaannya di setiap salat.
4- Ibnu Daqīq Al-'Īd berkata, "Hikmah anjuran bersiwak ketika akan melaksanakan salat adalah karena salat merupakan kondisi pendekatan diri kepada Allah, sehingga salat menuntut kondisi sempurna dan bersih untuk menampakkan kemuliaan ibadah tersebut."
5- Keumuman anjuran dalam hadis ini mencakup siwak bagi orang yang berpuasa sekalipun setelah waktu zawal (tengah hari), seperti pada salat Zuhur dan Asar.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بِن مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ: سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ العَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ؟ قَالَ: «الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا»، قَالَ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: «ثُمَّ بِرُّ الوَالِدَيْنِ» قَالَ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: «الجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ» قَالَ: حَدَّثَنِي بِهِنَّ، وَلَوِ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِي.
Abdullah bin Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, "Amal apakah yang paling dicintai oleh Allah?" Beliau bersabda, "Salat pada waktunya." Dia bertanya, "Kemudian amal apa?" Beliau menjawab, "Kemudian berbakti kepada kedua orang tua." Dia bertanya lagi, "Kemudian amal apa?" Beliau menjawab, "Berjihad di jalan Allah." Ibnu Mas'ūd berkata, "Beliau menyampaikan itu kepadaku. Seandainya aku meminta tambahan, niscaya beliau akan tambahkan."
1- Adanya perbedaan keutamaan antar amalan sesuai dengan kecintaan Allah padanya.
2- Mendorong seorang muslim agar gigih melakukan amal-amal yang paling afdal lalu yang di bawahnya.
3- Jawaban Nabi ﷺ tentang amalan paling afdal berbeda-beda mengikuti perbedaan orang dan keadaan serta yang paling bermanfaat bagi setiap orang di antara mereka.
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «إِنَّ أَثْقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا، وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَتُقَامَ، ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيُصَلِّيَ بِالنَّاسِ، ثُمَّ أَنْطَلِقَ مَعِي بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إِلَى قَوْمٍ لَا يَشْهَدُونَ الصَّلَاةَ، فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ بِالنَّارِ».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Salat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah salat Isya dan salat Subuh. Andaikata mereka mengetahui keutamaan yang terkandung dalam keduanya, pasti mereka menghadirinya meskipun dengan cara merangkak. Sungguh aku sangat ingin menyuruh seseorang mengumandangkan ikamah, kemudian aku menyuruh seseorang untuk mengimami salat orang-orang, kemudian aku berangkat bersama dengan beberapa orang yang membawa kayu bakar menuju orang-orang yang tidak menghadiri salat, lalu membakar rumah-rumah mereka dengan api."
1- Bahaya tidak menghadiri salat berjemaah di masjid.
2- Orang-orang munafik tidak meniatkan pada ibadah mereka kecuali ria dan sumah sehingga mereka tidak menghadiri salat kecuali pada waktu terlihat oleh orang lain.
3- Besarnya pahala salat Isya dan Subuh secara berjemaah sehingga keduanya pantas didatangi walaupun dengan merangkak.
4- Memelihara salat Isya dan Subuh adalah keselamatan dari kemunafikan, sedangkan tidak menghadirinya termasuk ciri-ciri orang munafik.
عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ: رَأَى سَعْدٌ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ لَهُ فَضْلًا عَلَى مَنْ دُونَهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «هَلْ تُنْصَرُونَ وَتُرْزَقُونَ إِلَّا بِضُعَفَائِكُمْ».
Muṣ'ab bin Sa'ad meriwayatkan, Sa'ad -raḍiyallāhu 'anhu- pernah menganggap dirinya memiliki keutamaan di atas sahabat lainnya, maka Nabi ﷺ bersabda, "Tidaklah kalian diberi pertolongan dan rezeki melainkan dengan sebab orang-orang yang lemah di antara kalian."
1- Dorongan bersikap tawaduk dan tidak mengangkat diri di atas orang lain.
2- Ibnu Ḥajar berkata, "Jika orang yang kuat lebih unggul dengan keutamaan sifat beraninya, maka orang yang lemah lebih unggul dengan keutamaan doa dan keikhlasannya."
3- Anjuran berbuat baik kepada orang miskin serta menunaikan hak mereka karena hal tersebut adalah sebab adanya rahmat dan pertolongan Allah.
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ((إن أمتي يُدْعَون يوم القيامة غُرًّا مُحَجَلِّين من آثار الوُضُوء)). فمن اسْتَطَاع منكم أن يُطِيل غُرَّتَه فَليَفعل.
وفي لفظ لمسلم: ((رأَيت أبا هريرة يتوضَّأ، فغسل وجهه ويديه حتى كاد يبلغ المنكبين، ثم غسل رجليه حتى رَفَع إلى السَّاقين، ثم قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: إنَّ أمتي يُدْعَون يوم القيامة غُرًّا مُحَجَّلِين من آثار الوُضُوء)) فمن استطاع منكم أن يطيل غُرَّتَه وتَحْجِيلَه فَليَفعَل.
وفي لفظ لمسلم: سمعت خليلي صلى الله عليه وسلم يقول: ((تَبْلُغ الحِليَة من المؤمن حيث يبلغ الوُضُوء)).
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Sesungguhnya pada hari kiamat umatku akan dipanggil dengan wajah bercahaya lagi berseri-seri karena bekas air wudu.” Maka barang siapa di antara kalian mampu memperpanjang cahayanya hendaklah ia lakukan. Dalam lafal riwayat Muslim disebutkan: “Aku melihat Abu Hurairah berwudu, lalu ia membasuh muka dan kedua tangannya hingga hampir sampai kedua bahunya, kemudian ia membasuh kedua kakinya hingga kedua betis. Kemudian ia berkata, Aku pernah mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Sesungguhnya pada hari kiamat umatku akan dipanggil dengan wajah bercahaya dan berseri-seri karena bekas air wudu." Maka barang siapa di antara kalian mampu memperpanjang cahayanya hendaklah ia lakukan.” Dalam lafal lain riwayat Muslim: Aku telah mendengar kekasihku -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Perhiasan (cahaya) seorang Mukmin adalah sejauh mana air wudunya sampai."
عن أبي هريرة رضي الله عنه مرفوعًا: «إِنَّ الله تَعَالى يَقُول يَوْمَ القِيَامَة: أَيْنَ المُتَحَابُّونَ بِجَلاَلِي؟ اليَوم أُظِلُّهُم فِي ظِلِّي يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلِّي».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Sesungguhnya Allah -Ta'ālā- berfirman pada hari kiamat, "Di manakah orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Hari ini aku menaungi mereka dalam naungan-Ku di hari tidak ada naungan selain naungan-Ku."
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذْ سَمِعَ وَجْبَةً، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «تَدْرُونَ مَا هَذَا؟» قَالَ: قُلْنَا: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: «هَذَا حَجَرٌ رُمِيَ بِهِ فِي النَّارِ مُنْذُ سَبْعِينَ خَرِيفًا، فَهُوَ يَهْوِي فِي النَّارِ الْآنَ حَتَّى انْتَهَى إِلَى قَعْرِهَا».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Kami pernah sedang bersama Rasulullah ﷺ, tiba-tiba beliau mendengar sebuah gemuruh. Nabi ﷺ lalu bertanya, "Apakah kalian tahu suara apa ini?" Kami menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui." Beliau bersabda, "Ini adalah batu yang dilemparkan ke dalam neraka sejak tujuh puluh tahun, ia jatuh ke dalam neraka sekarang hingga berakhir di dasarnya.”
1- Anjuran mempersiapkan diri untuk hari Akhir dengan amal saleh dan waspada terhadap Jahanam.
2- Anjuran agar menyandarkan ilmu kepada Allah Ta'ala pada perkara yang tidak diketahui manusia.
3- Seorang pengajar hendaknya memacu perhatian dan konsentrasi para pembelajar sebelum menjelaskan suatu pelajaran agar lebih mudah memahamkan mereka.
عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ رضي الله عنه: أَنَّ رَجُلًا أَكَلَ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشِمَالِهِ، فَقَالَ: «كُلْ بِيَمِينِكَ»، قَالَ: لَا أَسْتَطِيعُ، قَالَ: «لَا اسْتَطَعْتَ»، مَا مَنَعَهُ إِلَّا الْكِبْرُ، قَالَ: فَمَا رَفَعَهَا إِلَى فِيهِ.
Salamah bin Al-Akwa' -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Ada seorang pria yang makan di hadapan Rasulullah ﷺ dengan tangan kirinya. Maka beliau berkata, “Makanlah dengan tangan kananmu!” Orang itu menjawab, “Aku tak bisa.” Nabi pun berkata, “Semoga engkau benar-benar tidak bisa.” Padahal tidak ada yang menghalanginya untuk itu kecuali kesombongannya, maka ia pun tak mampu mengangkat tangannya ke mulutnya.
1- Kewajiban makan menggunakan tangan kanan dan haramnya makan menggunakan tangan kiri.
2- Orang yang angkuh untuk menjalankan hukum-hukum syariat patut mendapatkan hukuman.
3- Pemuliaan Allah kepada Nabi Muhammad ﷺ dengan mengabulkan doa beliau.
4- Pensyariatan amar makruf nahi mungkar di semua kondisi, sampai pada saat makan.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang mengajak kepada petunjuk (kebajikan), maka ia mendapatkan pahala yang semisal dengan pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Sebaliknya, siapa yang mengajak kepada kesesatan, maka ia menanggung dosa yang semisal dengan dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun."
1- Keutamaan berdakwah pada petunjuk, sedikit maupun banyak. Orang yang berdakwah akan mendapatkan pahala yang semisal dengan pahala orang yang mengamalkannya. Hal ini merupakan bukti karunia dan kebaikan Allah yang besar nan sempurna.
2- Bahaya dakwah kepada kesesatan, baik sedikit maupun banyak, karena pelakunya akan menanggung dosa yang sama dengan dosa orang yang melakukannya.
3- Balasan sejenis dengan perbuatan. Siapa yang mengajak kepada kebaikan akan mendapatkan pahala yang semisal dengan pahala orang yang mengerjakannya, dan siapa yang mengajak kepada keburukan akan menanggung dosa yang semisal dengan dosa orang yang melakukannya.
4- Seorang muslim harus berhati-hati jangan sampai diikuti dalam keburukan lantaran melakukan kemaksiatan secara terang-terangan di hadapan orang banyak, karena ia akan mendapatkan dosa sebab orang lain mengikutinya, walaupun ia tidak pernah menganjurkan mereka melakukannya.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بن مسعودٍ رضي الله عنه قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «إِنَّ مِنْ شِرَارِ النَّاسِ مَنْ تُدْرِكُهُ السَّاعَةُ وَهُمْ أَحْيَاءٌ، وَمَنْ يَتَّخِذُ الْقُبُورَ مَسَاجِدَ».
Abdullah bin Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Sungguh, termasuk sejelek-jelek manusia adalah orang yang masih hidup saat hari Kiamat tiba dan orang yang menjadikan kuburan sebagai masjid."
1- Pengharaman membangun masjid di atas kuburan karena akan menjadi sarana menuju kesyirikan.
2- Pengharaman salat di kuburan walaupun tanpa ada bangunan di atasnya karena masjid adalah nama tempat bersujud walaupun tidak ada bangunannya.
3- Orang yang menjadikan kuburan orang saleh sebagai masjid dengan menjadikannya tempat salat adalah sejelek-jelek makhluk walaupun ia berdalih dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala.