عَنْ حُذَيْفَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَا تَقُولُوا: مَا شَاءَ اللهُ وَشَاءَ فُلَانٌ، وَلَكِنْ قُولُوا: مَا شَاءَ اللهُ ثُمَّ شَاءَ فُلَانٌ».
Ḥużaifah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Janganlah kalian mengatakan, ‘Atas kehendak Allah dan kehendak polan’, tapi katakanlah, ‘Atas kehendak Allah kemudian kehendak polan.'"
1- Pengharaman ucapan: "Atas kehendak Allah dan kehendakmu" dan lafaz-lafaz semisal yang mengandung penyambungan kepada Allah menggunakan huruf "waw", karena termasuk syirik dalam lafaz dan ucapan.
2- Dibolehkan mengucapkan: "Atas kehendak Allah kemudian kehendakmu" dan lafaz-lafaz semisal yang mengandung penyambungan kepada Allah menggunakan huruf "ṡumma", karena hal terlarang itu tidak ada di dalamnya.
3- Penetapan adanya kehendak bagi Allah serta penetapan adanya kehendak bagi hamba. Kehendak hamba mengikuti kehendak Allah Ta'ala.
4- Larangan menjadikan makhluk sebagai sekutu Allah dalam kehendak, walaupun dalam bentuk lafaz.
5- Apabila penuturnya meyakini bahwa kehendak hamba sama seperti kehendak Allah ﷻ dalam hal cakupan dan keumumannya, atau meyakini bahwa hamba tersebut memiliki kehendak yang berdiri sendiri, maka hukumnya syirik besar. Adapun kalau dia meyakini bahwa ia di bawah itu, maka hukumnya syirik kecil.
عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال: "لأن أحلف بالله كاذبًا أحب إليَّ من أن أحلف بغيره صادقًا".
Dari Abdullah bin Mas'ud -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Aku bersumpah dengan nama Allah padahal dusta lebih aku sukai daripada bersumpah dengan selain-Nya meskipun jujur."
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قال: قال رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم: «إِنَّ اللهَ يَغَارُ، وَإِنَّ الْمُؤْمِنَ يَغَارُ، وَغَيْرَةُ اللهِ أَنْ يَأْتِيَ الْمُؤْمِنُ مَا حَرَّمَ عَلَيْهِ».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Allah itu cemburu dan orang beriman juga cemburu. Kecemburuan Allah terjadi jika seorang mukmin melakukan apa yang diharamkan Allah kepadanya."
Mewaspadai murka dan siksa Allah ketika perkara-perkara yang diharamkan-Nya dilanggar.
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ، شِبْرًا بِشِبْرٍ، وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ، حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِي جُحْرِ ضَبٍّ لَاتَّبَعْتُمُوهُمْ» قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: «فَمَنْ؟».
Abu Sa'īd Al-Khudriy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Sungguh, kalian akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta. Bahkan, seandainya mereka masuk lubang kadal gurun, kalian pasti akan mengikuti mereka." Kami bertanya, "Wahai Rasulullah! Apakah mereka adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani?" Beliau bersabda, "Lalu siapa lagi?"
1- Salah satu bukti sahih kenabian beliau, yaitu beliau mengabarkan hal tersebut sebelum terjadi, lalu ia terjadi seperti yang beliau kabarkan.
2- Larangan bagi kaum muslimin untuk meniru orang kafir, baik dalam akidah, ibadah, perayaan, atau pakaian khusus mereka.
3- Menerangkan perkara-perkara yang bersifat maknawi (abstrak) dengan perumpamaan-perumpamaan yang indrawi termasuk metode pengajaran dalam Islam.
4- Ḍabb (kadal gurun) ialah binatang yang menempati lubang sangat gelap dan berbau busuk. Ia termasuk hewan reptil yang banyak ditemukan di gurun. Alasan penyebutan lubang kadal gurun secara spesifik ialah karena sangat sempit dan buruk. Kendati demikian keadaannya, ternyata -karena mengikuti jejak mereka dan meniru jalan mereka-, seandainya mereka masuk ke tempat yang seperti itu sempit dan jeleknya, mereka pasti akan mengikuti mereka. Hanya kepada Allah tempat memohon pertolongan.
عن أبي هريرة رضي الله عنه مرفوعًا: «إِذَا لَبِسْتُم، وَإِذَا تَوَضَّأتُم، فَابْدَأُوا بَأَيَامِنُكُم».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Apabila kalian memakai pakaian dan apabila kalian berwudu, maka mulailah dengan (organ tubuh) bagian kanan kalian!"
عَن عَائِشَةَ أُمِّ المؤْمِنين رضي الله عنها زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَتْهُ قَالَتْ: جَاءَتْنِي امْرَأَةٌ مَعَهَا ابْنَتَانِ تَسْأَلُنِي، فَلَمْ تَجِدْ عِنْدِي غَيْرَ تَمْرَةٍ وَاحِدَةٍ، فَأَعْطَيْتُهَا فَقَسَمَتْهَا بَيْنَ ابْنَتَيْهَا، ثُمَّ قَامَتْ فَخَرَجَتْ، فَدَخَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَحَدَّثْتُهُ، فَقَالَ: «مَنْ يَلِي مِنْ هَذِهِ البَنَاتِ شَيْئًا، فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ، كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ».
Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, istri Nabi ﷺ, meriwayatkan, Seorang perempuan datang menemuiku bersama dua putrinya untuk meminta makanan. Tetapi ia tidak menemukan sesuatu padaku kecuali sebutir kurma. Maka aku memberikan kurma tersebut kepadanya, lalu ia membaginya di antara kedua putrinya. Kemudian ia bangun lalu pergi keluar bersama kedua putrinya. Lalu Nabi ﷺ masuk dan aku menceritakannya. Maka Nabi ﷺ bersabda, "Siapa yang mengurus urusan anak-anak perempuan, lalu ia berbuat baik kepada mereka, maka anak-anak tersebut akan menjadi pelindungnya dari neraka."
1- Mengurus anak perempuan termasuk amal kebajikan paling utama yang dapat menjauhkan dari api neraka.
2- Anjuran bersedekah sesuai kemampuan, meskipun sedikit.
3- Besarnya kasih sayang kedua orang tua kepada anak-anaknya.
4- Menjelaskan keadaan rumah tangga Rasulullah ﷺ, dan rezeki beliau itu apa adanya.
5- Menjelaskan keutamaan sikap mengutamakan orang lain dan hal itu merupakan sifat utama orang beriman. Dalam hal ini, Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- mendahulukan perempuan tersebut dan kedua putrinya atas dirinya sendiri. Hal itu menunjukkan kedermawanan dan kemuliaannya, padahal ia sangat membutuhkan.
6- Karunia berupa anak perempuan disebut ujian karena menanggung mereka mendatangkan kesulitan dan lelah, atau karena sebagian orang tidak menyukainya, atau karena umumnya mereka tidak memiliki sumber penghasilan dan penghidupan.
7- Islam datang untuk mencabut kebiasaan-kebiasaan buruk jahiliah, di antaranya Islam mewasiatkan untuk memperhatikan anak perempuan.
8- Pahala ini akan diperoleh meskipun yang ada hanya satu anak perempuan, sebagaimana tertera dalam sebagian riwayat.
عن ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما أنه سَمِعَ رَجُلًا يَقُولُ: لَا وَالْكَعْبَةِ، فَقَالَ ابْنُ عُمَرَ: لَا يُحْلَفُ بِغَيْرِ اللَّهِ، فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ».
Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwa dia mendengar seseorang berkata, "Tidak, demi Ka'bah!" Lantas Ibnu Umar berkata, "Janganlah engkau bersumpah atas nama selain Allah, karena aku telah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, 'Siapa saja yang bersumpah atas nama selain Allah, maka ia telah berbuat kekafiran atau kemusyrikan'."
1. Pengagungan melalui sumpah adalah hak Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-, sehingga seseorang tidak boleh bersumpah kecuali atas nama Allah dan sifat-sifat-Nya.
2- Antusiasme para sahabat untuk melakukan amar makruf nahi mungkar, khususnya ketika kemungkaran itu terkait dengan kesyirikan atau kekufuran.
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ» وَضَمَّ أَصَابِعَهُ.
Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang mengurus dua orang anak perempuan sampai balig, ia akan datang pada hari Kiamat dalam keadaan aku bersamanya (seperti ini)." Sembari beliau menggandengkan jari-jarinya.
1- Besarnya pahala orang yang mengurus nafkah dan pendidikan anak-anak perempuan hingga mereka menikah atau balig, demikian juga saudari-saudari perempuan.
2- Pahala mengurus anak-anak perempuan lebih besar daripada pahala mengurus anak laki-laki karena hal seperti ini tidak disebutkan untuk anak laki-laki. Faktornya adalah nafkah anak perempuan dan pemeliharaan mereka lebih besar dari urusan anak laki-laki; karena anak perempuan itu dijaga, tidak mengurus langsung urusan mereka dan tidak dapat bertindak seperti tindakan anak laki-laki. Selain itu, orang tua tidak berharap mendapatkan tambahan kekuatan dari anak perempuan untuk melawan musuh, maupun mengharumkan namanya, meneruskan nasabnya dan lain sebagainya sebagaimana harapannya pada anak laki-laki. Sebab itu, untuk mengurus mereka membutuhkan kesabaran dan ketulusan dari orang yang menafkahi mereka disertai niat baik, sehingga pahalanya besar dan pada hari Kiamat kelak ia akan membersamai Nabi ﷺ.
3- Tanda balig pada anak perempuan: genap berusia lima belas tahun, atau mengalami haid walaupun belum lima belas tahun, atau tumbuhnya bulu kemaluan -yaitu bulu kasar di seputar kemaluan-, atau mimpi basah, yaitu keluarnya mani saat tidur.
4- Al-Qurṭubiy berkata, "Makna 'sampai keduanya balig' adalah sampai keadaan keduanya dapat mandiri. Pada perempuan, hal itu terjadi saat mereka berkumpul dengan suami mereka. Sehingga makna 'sampai mereka balig' adalah bukan sampai ia haid dan dibebani dengan kewajiban syariat. Sebab ada kemungkinan ia menikah sebelum itu, sehingga ia dapat mandiri dengan suaminya dan tidak perlu diurus lagi oleh walinya. Sebagaimana ada kemungkinan anak perempuan telah haid tetapi sedikit pun belum dapat mandiri dalam urusannya, seandainya ia ditinggal maka ia akan terlantar dan urusannya berantakan. Bahkan, ia pada kondisi ini lebih patut untuk dijaga dan harus ada yang mengurusnya agar penjagaannya sempurna sampai ada yang tertarik menikahinya. Atas dasar ini, ulama kita mengatakan: kewajiban nafkah tidak gugur dari ayah seorang anak perempuan dengan kondisi balignya, tetapi ia gugur dengan adanya suami yang tinggal bersamanya."
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu jika kalian melakukannya maka kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian!"
1- Masuk surga tidak akan terwujud kecuali dengan keimanan.
2- DI antara bentuk kesempurnaan iman ialah seorang muslim mencintai bagi saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya.
3- Anjuran menebarkan salam kepada kaum muslimin karena di dalamnya terdapat penebaran cinta dan rasa aman di antara umat manusia.
4- Ucapan salam tidak diberikan kecuali pada seorang muslim, berdasarkan ucapan Nabi ﷺ, "Di antara kalian."
5- Memberi salam akan menghilangkan sikap saling boikot dan permusuhan.
6- Urgensi cinta di antara kaum muslimin karena ia merupakan bagian dari kesempurnaan iman.
7- Disebutkan dalam hadis lain bahwa lafaz salam yang sempurna ialah, "As-salāmu 'alaikum waraḥmatullāhi wabarakātuh." Boleh juga dicukupkan dengan "As-salāmu 'alaikum".
عن أبي إدريس الخولاني رحمه الله قال: دَخَلْتُ مَسْجِدَ دِمَشقَ، فَإِذَا فَتًى بَرَّاق الثَنَايَا وَإِذَا النَّاس مَعَه، فَإِذَا اخْتَلَفُوا فِي شَيءٍ، أَسْنَدُوهُ إِلَيهِ، وَصَدَرُوا عَنْ رَأْيِهِ، فَسَأَلْتُ عَنْهُ، فَقِيل: هَذَا مُعَاذ بْنُ جَبَلٍ رضي الله عنه فَلَمَّا كان مِنَ الغَدِ، هَجَّرتُ، فَوَجَدتُه قَدْ سَبِقَنِي بِالتَهْجِير، وَوَجَدتُهُ يُصَلِّي، فَانتَظَرتُهُ حَتَّى قَضَى صَلاَتَه، ثُمَّ جِئتُهُ مِن قِبَلِ وَجْهِهِ، فَسَلَّمْتُ عَلَيه، ثُمَّ قُلتُ: وَالله إِنِّي لَأُحِبُّكَ لِلَّه، فَقَال: آلله؟ فَقُلتُ: آلله، فقال: آللهِ؟ فقُلْتُ: آلله، فَأَخَذَنِي بَحَبْوَةِ رِدَائِي، فَجَبَذَنِي إِلَيه، فَقَال: أَبْشِر! فَإِنِّي سَمِعتُ رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: «قَالَ الله -تعَالَى-: وَجَبَت مَحَبَّتِي لِلمُتَحَابِّين فِيَّ، وَالمُتَجَالِسِينَ فِيَّ، وَالمُتَزَاوِرِينَ فِيَّ، وَالمُتَبَاذِلِينَ فِيَّ».
Dari Abu Idrīs Al-Khaulāni -raḥimahullāh- ia berkata, "Aku pernah masuk masjid Damaskus. Ternyata ada seorang pemuda yang giginya mengkilat dan orang-orang mengerumuninya. Apabila mereka berbeda pendapat, mereka menyerahkan dan meminta pertimbangannya. Lantas aku bertanya tentang pemuda itu lalu dijawab bahwa dia adalah Mu'āż bin Jabal -raḍiyallāhu 'anhu-. Pada esok harinya, pagi-pagi aku datang ke masjid tetapi pemuda itu datang lebih pagi daripadaku dan aku mendapatinya sedang salat. Aku menunggunya sampai selesai dan mendatanginya dari arah depan. Aku mengucapkan salam lalu berkata kepadanya, "Demi Allah, aku mencintaimu karena Allah." Dia berkata, "Apakah demi Allah?" Aku jawab, "Iya, demi Allah." Dia bertanya, "Apakah benar demi Allah?" Aku jawab, "Iya, demi Allah." Lantas ia menarik ujung selendangku untuk mendekatkanku kepadanya seraya berkata, "Bergembiralah! Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Allah -Ta'ālā- berfirman, 'Kecintaan-Ku pasti diperoleh oleh orang yang saling mencintai karena-Ku,saling berkumpul karena-Ku, saling mengunjungi karena-Ku, dan saling memberi karena-Ku'."