عَن عَبدِ الله بنِ الشِّخِّير رضي الله عنه قَالَ: انْطَلَقْتُ في وَفدِ بَنِي عَامِرٍ إِلى رَسُولِ الله صلى الله عليه وسلم، فَقُلنا: أَنتَ سيّدُنَا، فقال: «السَّيدُ اللهُ»، قُلنا: وَأَفْضَلُنا فَضْلاً، وأعظَمُنا طَوْلاً، فقال: «قُولُوا بِقَولِكُم، أَو بَعضِ قولِكُم، وَلَا يَسْتَجْرِيَنَّكُم الشَّيطَانُ».
Abdullah bin Syikhīr -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, Aku ikut berangkat bersama utusan Bani 'Āmir yang menemui Rasulullah ﷺ, Kami berkata, "Engkau sayyid (tuan) kami." Beliau bersabda, "As-Sayyid sebenarnya adalah Allah." Kami berkata, "Engkau adalah yang paling utama dan paling besar kebaikannya di antara kami." Maka beliau bersabda, "Ucapkanlah kata-kata keseharian kalian, atau beberapa kata yang wajar, dan janganlah kalian terseret oleh setan."
1- Keagungan kedudukan Nabi ﷺ dalam diri para sahabatnya serta penghormatan mereka kepada beliau.
2- Larangan berlebihan dalam berkata-kata, serta sederhana dalam ucapan.
3- Menjaga tauhid dari semua perkataan dan perbuatan yang dapat merongrongnya.
4- Larangan berlebihan dalam pujian dan termasuk merupakan pintu masuk setan.
5- Nabi ﷺ adalah pimpinan umat manusia, sedangkan yang disebutkan dalam hadis ini masuk dalam konteks tawaduk dan kekhawatiran beliau akan munculnya sikap berlebihan.
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ، حِينَ بَعَثَهُ إِلَى الْيَمَنِ: «إِنَّكَ سَتَأْتِي قَوْمًا أَهْلَ كِتَابٍ، فَإِذَا جِئْتَهُمْ فَادْعُهُمْ إِلَى أَنْ يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لَكَ بِذَلِكَ، فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لَكَ بِذَلِكَ، فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لَكَ بِذَلِكَ، فَإِيَّاكَ وَكَرَائِمَ أَمْوَالِهِمْ، وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ، فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ حِجَابٌ».
Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda kepada Mu'āż bin Jabal ketika beliau mengutusnya ke Yaman, "Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum ahli kitab. Jika engkau telah sampai, maka ajaklah mereka agar bersyahadat (bersaksi) bahwa tiada Tuhan yang berhak diibadahi selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah. Jika mereka menaatimu dalam hal itu, beritahukan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan mereka untuk melakukan salat lima waktu sehari semalam. Jika mereka menaatimu dalam hal itu, beritahukan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan mereka membayar zakat, yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka lalu dibagikan kepada orang-orang fakir mereka. Dan jika mereka menaatimu dalam hal itu, maka hindarilah harta-harta berharga mereka saat menarik zakat! Dan takutlah terhadap doa buruk (kutukan) orang-orang yang terzalimi, karena sesungguhnya tiada penghalang antara doa tersebut dan Allah."
1. Makna syahadat lā ilāha illallāh yaitu mengesakan Allah dalam ibadah dan meninggalkan peribadatan kepada selain-Nya.
2. Makna syahadat Muḥammad rasūlullāh yaitu mengimani dan membenarkan beliau serta semua yang beliau bawa, dan meyakini bahwa beliau adalah utusan Allah yang paling terakhir kepada umat manusia.
3. Berbicara kepada orang berilmu dan orang yang memiliki syubhat tidak sama seperti berbicara kepada orang jahil, oleh karena itu Nabi ﷺ mengingatkan Mu'āż dalam sabda beliau, "Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum ahli kitab."
4. Urgensi seorang muslim memahami agamanya agar selamat dari syubhat para pengusung syubhat, yaitu dengan menimba ilmu.
5- Batalnya agama orang-orang Yahudi dan Nasrani setelah diutusnya Rasulullah ﷺ. Mereka tidak termasuk orang yang akan mendapatkan keselamatan kelak pada hari kiamat kecuali mereka masuk ke dalam agama Islam dan beriman kepada Nabi ﷺ.
عن أنس بن مالك رضي الله عنه مرفوعاً: أخبر النبي صلى الله عليه وسلم : "أنه يأتي فيسجد لربه ويحمده [لا يبدأ بالشفاعة أولا]، ثم يقال له: "ارفع رأسك وقل يُسمع، وسَلْ تُعط، واشفع تُشفَّع".
Dari Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū': "Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan bahwa beliau datang (pada hari kiamat) lalu bersujud kepada Rabbnya dan memuji-Nya (beliau tidak memulainya pertama kali dengan syafaat). Lantas dikatakan kepadanya: "Angkat kepalamu dan katakan, pasti engkau didengar; mintalah, pasti engkau diberi; dan mohonlah syafaat, pasti syafaat engkau diperkenankan."
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَدَاةَ الْعَقَبَةِ وَهُوَ عَلَى نَاقَتِهِ: «الْقُطْ لِي حَصًى» فَلَقَطْتُ لَهُ سَبْعَ حَصَيَاتٍ، هُنَّ حَصَى الْخَذْفِ، فَجَعَلَ يَنْفُضُهُنَّ فِي كَفِّهِ وَيَقُولُ: «أَمْثَالَ هَؤُلَاءِ فَارْمُوا» ثُمَّ قَالَ: «أَيُّهَا النَّاسُ، إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ، فَإِنَّما أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ».
Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda di pagi melontar jamrah aqabah, sedang beliau di atas untanya, "Pungutkan kerikil untukku." Lantas aku memungutkan tujuh kerikil untuk beliau. Kerikil itu seukuran kerikil katapel, lalu beliau mengusapnya di telapak tangannya seraya bersabda, "Seukuran kerikil-kerikil ini, lontarlah." Kemudian beliau bersabda, "Wahai manusia! Hindarilah sikap berlebihan dalam agama. Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah sikap berlebihan dalam agama."
1- Larangan sikap berlebihan dalam agama dan penjelasan akibat buruknya; bahwa ia menjadi sebab kebinasaan.
2- Mengambil pelajaran dari umat-umat sebelum kita untuk menghindari kesalahan mereka.
3- Anjuran mengikuti Sunnah.
عن حُصين بن عبد الرحمن قال: كنتُ عند سعيد بن جُبير فقال: أيكم رأى الكوكب الذي انقَضَّ البارحة؟ فقلتُ: أنا، ثم قلتُ: أما إني لم أكن في صلاة، ولكني لُدغْتُ، قال: فما صنعتَ؟ قلت: ارتقيتُ، قال: فما حَمَلك على ذلك؟ قلت: حديث حدَّثَناه الشعبي، قال: وما حدَّثَكم؟ قلتُ حدثنا عن بريدة بن الحُصيب أنه قال: "لا رُقْية إلا مِن عَيْن أو حُمَة"، قال: قد أحسَن مَن انتهى إلى ما سمع، ولكن حدثنا ابن عباس عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال:
"عُرضت عليّ الأُمم، فرأيتُ النبي ومعه الرَّهط والنبي ومعه الرجل والرجلان، والنبي وليس معه أحد، إذ رُفع لي سواد عظيم فظننتُ أنهم أمَّتي، فقيل لي: هذا موسى وقومه، فنظرتُ فإذا سواد عظيم، فقيل لي: هذه أمَّتك، ومعهم سبعون ألفا يدخلون الجنة بغير حساب ولا عذاب، ثم نهض فدخل منْزله، فخاض الناس في أولئك؛ فقال بعضهم: فلعلهم الذين صحِبوا رسول الله صلى الله عليه وسلم وقال بعضهم: فلعلهم الذين وُلِدُوا في الإسلام فلم يشركوا بالله شيئا، وذكروا أشياء، فخرج عليهم رسول الله صلى الله عليه وسلم فأخبروه، فقال: هم الذين لا يَسْتَرقون، ولا يَكْتَوُون، ولا يَتَطَيَّرون، وعلى ربهم يتوكلون، فقام عُكاشة بن مِحصَن فقال: ادع الله أن يجعلني منهم، قال: أنت منهم، ثم قام جل آخر فقال: ادع الله أن يجعلني منهم، فقال: سَبَقَك بها عكاشة".
Dari Ḥuṣain bin Abdirrahman, ia berkata, "Aku berada bersama Sa'īd bin Jubair lalu ia bertanya, 'Siapakah di antara kalian yang melihat planet jatuh tadi malam?' Aku jawab, 'Aku.' Lalu aku katakan, 'Adapun aku sedang tidak melaksanakan salat karena aku disengat.' Ia bertanya, 'Lantas apa yang kau lakukan?' Aku Jawab, 'Aku meruqyahnya.' Ia bertanya lagi, 'Apa yang mendorongmu melakukan itu?' Aku Jawab, 'Hadis yang diceritakan asy-Sya'bi kepada kami.' Ia bertanya, 'Apa yang dia ceritakan kepada kalian?' Aku jawab, 'Kami mendapatkan kabar dari Buraidah bin Al-Ḥuṣaib bahwasannya dia berkata, 'Tidak ada ruqyah kecuali dari penyakit 'Ain (karena pandangan mata hasad) atau demam.' Ia berkata, 'Sungguh telah berbuat baik orang yang berhenti sampai di dalil yang ia dengarkan. Akan tetapi Ibnu 'Abbās bercerita kepada kami dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahwa beliau bersabda, 'Telah diperlihatkan kepadaku umat-umat. Aku melihat seorang Nabi yang memiliki beberapa orang pengikut. Ada juga seorang Nabi yang memiliki satu dan dua orang pengikut saja. Bahkan ada seorang Nabi yang tidak memiliki pengikut sama sekali. Tiba-tiba satu kelompok besar orang diperlihatkan kepadaku hingga aku menduga bahwa mereka itu umatku. Lantas dikatakan kepadaku, 'Ini Mūsa bersama kaumnya.' Aku memandang, ternyata ada sekelompok besar manusia. Lantas dikatakan kepadaku, 'Ini umatmu dan bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang masuk Surga tanpa hisab dan azab.' Selanjutnya beliau bangkit dan masuk ke rumahnya sehingga orang-orang pun berbicara panjang lebar mengenainya. Sebagian mereka berkata, 'Mungkin saja mereka itu orang-orang yang selalu menyertai Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.' Sebagian lagi berkata, 'Barangkali mereka itu orang-orang yang dilahirkan dalam Islam lalu mereka tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun.' Mereka menyebutkan berbagai hal. Tiba-tiba Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menemui mereka lalu mengabarkannya. Beliau bersabda, "Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta diruqyah, tidak berobat dengan cara kay (sundutan besi panas), tidak pesimis dan mereka bertawakal kepada Allah.' Tiba-tiba 'Ukāsyah bin Miḥṣan berkata, 'Mohonlah kepada Allah agar menjadikanku bagian dari mereka.' Beliau bersabda, Engkau termasuk dari golongan mereka.' Lantas seorang lelaki lain berkata, 'Mohonlah kepada Allah agar menjadikanku bagian dari mereka.' Beliau bersabda, 'Ukāsyah telah mendahuluimu'."
عن جابر رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم سئل عن النُّشْرَةِ؟ فقال: هي من عمل الشيطان.
Jābir -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwasanya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah ditanya tentang nusyrah (praktik melepaskan sihir dengan sihir). Beliau menjawab, "Ia merupakan perbuatan setan."
Perintah bertanya kepada para ulama tentang hukum perkara yang tidak diketahui agar tidak terjatuh dalam larangan.
Larangan praktik nusyrah (yakni menolak sihir dengan jenis sihir yang lain), seperti yang dilakukan oleh orang-orang jahiliah, karena itu merupakan sihir, dan sihir hukumnya kufur.
Perbuatan setan seluruhnya diharamkan.
عَن عُمَرَ بنِ الخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قال: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ؛ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُولُوا: عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ».
Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda, "Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku sebagaimana orang-orang Nasrani berlebih-lebihan dalam memuji Isa bin Maryam. Sesungguhnya aku seorang hamba, maka katakanlah: Abdullah (hamba Allah) dan rasul-Nya."
1. Larangan melampaui batas syariat dalam menghormati dan memuji karena hal itu dapat mengantarkan kepada kesyirikan.
2. Apa yang diperingatkan oleh Nabi ﷺ telah terjadi di tengah umat ini; yaitu sebagian orang bersikap berlebihan kepada Rasulullah ﷺ, sebagian lainnya berlebihan kepada ahlubait, dan sebagian lagi berlebihan kepada para wali sehingga mereka jatuh dalam kesyirikan.
3. Rasulullah ﷺ menyifati dirinya bahwa beliau adalah hamba Allah, untuk menjelaskan bahwa beliau seorang hamba yang diciptakan dan dididik oleh Allah, dan tidak boleh menyematkan kepada beliau sesuatu yang merupakan kekhususan Allah.
4- Rasulullah ﷺ menyifati dirinya bahwa beliau adalah rasul Allah, untuk menjelaskan bahwa beliau seorang utusan Allah sehingga beliau wajib dibenarkan dan diikuti.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ، وَلاَ هَامَةَ وَلاَ صَفَرَ، وَفِرَّ مِنَ المَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنَ الأَسَدِ».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidak ada penyakit yang menular sendiri, tidak ada keyakinan sial dengan sebab burung, tidak pula (kesialan pada) burung hantu maupun (bulan) Safar. Larilah dari penderita kusta sebagaimana engkau lari dari singa."
1- Kewajiban tawakal dan bersandar kepada Allah sekaligus melakukan sebab-sebab yang disyariatkan.
2- Kewajiban mengimani ketetapan dan takdir Allah; bahwa sebab-sebab ada di tangan Allah, Dia yang menjalankannya atau mencabut pengaruhnya.
3- Mengingkari apa yang dilakukan oleh sebagian orang berupa membangun pesimisme dengan sebab warna, seperti hitam dan merah, ataupun dengan sebagian nomor, nama, orang dan penyandang cacat.
4- Larangan mendekati penderita penyakit kusta serta orang-orang yang menderita penyakit menular lainnya termasuk sebab sunatullah yang Dia tetapkan bahwa ia akan mewujudkan musababnya, sehingga sebab-sebab itu tidak berdiri sendiri, melainkan, jika berkehendak, Allah akan mencabut kekuatannya sehingga ia tidak berpengaruh sedikit pun. Sebaliknya, jika berkehendak, Allah akan menetapkannya sehingga ia akan berpengaruh.
ورُوي عن الحسن أنه قال: "لا يحل السحر إلا ساحر".
Diriwayatkan dari Al-Hasan bahwa ia berkata, "Sihir tidak bisa dilepaskan kecuali oleh penyihir (orang yang tahu ilmu sihir)."
عَنْ سَهْلُ بْنُ سَعْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَوْمَ خَيْبَرَ: «لَأُعْطِيَنَّ هَذِهِ الرَّايَةَ غَدًا رَجُلًا يَفْتَحُ اللَّهُ عَلَى يَدَيْهِ، يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيُحِبُّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ»، قَالَ: فَبَاتَ النَّاسُ يَدُوكُونَ لَيْلَتَهُمْ أَيُّهُمْ يُعْطَاهَا، فَلَمَّا أَصْبَحَ النَّاسُ غَدَوْا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّهُمْ يَرْجُو أَنْ يُعْطَاهَا، فَقَالَ: «أَيْنَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ؟» فَقِيلَ: هُوَ يَا رَسُولَ اللَّهِ يَشْتَكِي عَيْنَيْهِ، قَالَ: «فَأَرْسِلُوا إِلَيْهِ»، فَأُتِيَ بِهِ فَبَصَقَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي عَيْنَيْهِ وَدَعَا لَهُ، فَبَرَأَ حَتَّى كَأَنْ لَمْ يَكُنْ بِهِ وَجَعٌ، فَأَعْطَاهُ الرَّايَةَ، فَقَالَ عَلِيٌّ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أُقَاتِلُهُمْ حَتَّى يَكُونُوا مِثْلَنَا؟ فَقَالَ: «انْفُذْ عَلَى رِسْلِكَ حَتَّى تَنْزِلَ بِسَاحَتِهِمْ، ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى الإِسْلاَمِ، وَأَخْبِرْهُمْ بِمَا يَجِبُ عَلَيْهِمْ مِنْ حَقِّ اللَّهِ فِيهِ، فَوَاللَّهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا، خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ».
Sahal bin Sa'ad -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda di saat perang Khaibar, "Sungguh, aku akan berikan bendera ini besok kepada seseorang yang melalui tangannya Allah memberi kemenangan; orang itu mencintai Allah dan rasul-Nya serta ia dicintai oleh Allah dan rasul-Nya." Sahal menuturkan: Di malam harinya orang-orang larut membicarakan siapakah di antara mereka yang akan diserahi bendera tersebut. Memasuki pagi hari, mereka datang menemui Rasulullah ﷺ, semua berharap diserahi bendera. Rasulullah ﷺ lalu bersabda, "Mana Ali bin Abi Ṭālib?" Dikatakan, "Dia sedang sakit mata, wahai Rasulullah!" Rasulullah ﷺ bersabda, "Kirimlah utusan kepadanya." Lantas Ali dihadirkan, lalu Rasulullah ﷺ meludahi matanya dan mendoakannya. Seketika, Ali pun sembuh hingga seperti tidak pernah sakit sebelumnya. Lalu Rasulullah ﷺ memberikan bendera kepadanya. Ali berkata, "Wahai Rasulullah! Apakah aku memerangi mereka sampai mereka menjadi seperti kita?" Rasulullah ﷺ bersabda, "Berangkatlah dengan tenang hingga engkau berada di medan mereka. Kemudian ajaklah mereka masuk Islam dan beritahukan kepada mereka tentang hak Allah yang diwajibkan pada mereka di dalamnya. Demi Allah! Sungguh bila Allah memberi petunjuk pada satu orang melalui usahamu, itu lebih baik bagimu dari pada memiliki unta-unta merah."
1- Keutamaan Ali bin Abi Ṭālib -raḍiyallāhu 'anhu- dan kesaksian Rasulullah ﷺ untuknya tentang kecintaan Allah dan Rasulullah kepadanya serta kecintaannya kepada Allah dan Rasulullah.
2- Kegigihan para sahabat terhadap kebaikan dan persaingan mereka dalam mewujudkannya.
3- Perintah memperhatikan adab ketika perang dan meninggalkan sikap gegabah dan gaduh yang tidak dibutuhkan.
4- Di antara tanda kenabian Nabi ﷺ ialah berita tentang kemenangan atas orang-orang Yahudi serta kesembuhan kedua mata Ali bin Abi Ṭālib melalui tangan beliau dengan izin Allah.
5- Tujuan utama jihad ialah agar manusia masuk ke dalam Islam.
6- Dakwah dilakukan secara bertahap. Pertama kali meminta orang kafir agar masuk Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, kemudian diajak melaksanakan kewajiban-kewajiban Islam setelah itu.
7- Keutamaan berdakwah kepada Islam serta kebaikan yang terkandung di dalamnya bagi orang yang didakwahi serta orang yang berdakwah; orang yang didakwahi bisa mendapatkan petunjuk, sedangkan orang yang berdakwah diberi pahala yang besar.