عن أبي هريرة رضي الله عنه «أن نبي الله صلى الله عليه وسلم رأى رجلا يَسُوقُ بَدَنَةً، فقال: اركبها، قال: إنها بَدَنَةٌ، قال اركبها، فرأيته رَاكِبَهَا، يُسَايِرُ النبي صلى الله عليه وسلم ».
وفي لفظ: قال في الثانية، أو الثالثة: «اركبها وَيْلَكَ أو وَيْحَكَ».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwasanya Nabiyullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah melihat seorang lelaki menggiring unta. Beliau bersabda, "Tunggangilah!" Orang itu berkata, "Unta ini Budnah (unta yang digemukkan untuk kurban). Beliau bersabda, "Tunggangilah!" Selanjutnya aku lihat orang itu menungganginya mengiringi Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. "Dalam redaksi lain disebutkan, "Beliau bersabda untuk kedua atau ketiga kalinya, "Tunggangilah! Celakalah engkau," atau "celakalah engkau."
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الخُدْرِيِّ رضي الله عنه قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَشَدَّ حَيَاءً مِنَ العَذْرَاءِ فِي خِدْرِهَا، فَإِذَا رَأَى شَيْئًا يَكْرَهُهُ عَرَفْنَاهُ فِي وَجْهِهِ.
Abu Sa'īd Al-Khudriy -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Nabi ﷺ lebih pemalu daripada gadis yang masih di tempat pingitannya. Apabila beliau melihat sesuatu yang tidak disukai, kami mengetahui hal itu di muka beliau."
1- Menjelaskan sifat malu yang dimiliki oleh Nabi ﷺ, dan itu merupakan akhluk agung.
2- Sifat malu Nabi ﷺ ini terjadi selama larangan-larangan Allah tidak dilanggar. Apabila larangan Allah dilanggar, beliau ﷺ akan marah dan memerintahkan sahabat-sahabatnya serta melarang mereka.
3- Anjuran untuk berperangai dengan sifat malu karena sifat malu dapat membawa seseorang untuk mengerjakan yang baik dan meninggalkan yang buruk.
عن أبي سفيان صخر بن حرب رضي الله عنه قال: قال هِرَقل: فماذا يَأمُرُكُم -يعني: النبي صلى الله عليه وسلم- قال أبو سفيان: قلت: يقول: «اعبدُوا الله وَحدَه لاَ تُشرِكُوا بِهِ شَيئًا، وَاترُكُوا ما يَقُول آبَاؤُكُم، ويَأمُرُنَا بِالصَّلاَة، والصِّدق، والعَفَاف، والصِّلَة».
Dari Abu Sufyān Ṣakhr bin Ḥarb -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Heraklius bertanya, 'Apa yang diperintahkan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kepada kalian?' Abu Sufyān menjawab, "Aku katakan, beliau bersabda, 'Sembahlah Allah semata tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, tinggalkanlah apa yang dikatakan oleh bapak-bapak kalian,' dan beliau memerintahkan kami untuk salat dan jujur, memelihara kehormatan diri dan silaturahmi."
عن عبد الله بن عباس رضي الله عنهما قال: قَدِم عُيَينَة بن حِصنٍ، فَنزَل على ابنِ أَخِيه الحُرِّ بن قَيسٍ، وكان من النَّفَر الذين يُدنِيهِم عمر رضي الله عنه ، وكان القُرَّاء أصحاب مَجلِس عُمر رضي الله عنه ومُشاوَرَتِه كُهُولا كانوا أو شُبَّانًا، فقال عيينة لابن أَخِيه: يَا ابن أخي، لك وَجْه عند هذا الأمير فَاسْتَأذِن لِي عليه، فَاسْتَأذَن فَأَذِن لَه عُمر، فَلَمَّا دَخَل قال: هي يا ابن الخطَّاب، فَوالله مَا تُعطِينَا الجَزْلَ ولا تَحكُمُ فِينَا بِالعَدلِ، فغضب عمر رضي الله عنه حَتَّى هَمَّ أَنْ يُوقِعَ بِه، فقال له الحُرُّ: يا أمير المؤمنين، إنَّ الله تعالى قال لِنَبِيِّه صلى الله عليه وسلم : {خذ العفو وأمر بالعرف وأعرض عن الجاهلين}، وإِنَّ هذا مِن الجَاهِلِين، والله مَا جَاوَزَها عُمر حِين تَلاَهَا، وكان وَقَّافًا عند كِتَاب الله تعالى .
Dari Abdullah bin 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- ia berkata, "Uyainah bin Ḥishn datang lalu menginap di tempat anak saudara, yaitu Al-Ḥurr bin Qais, dan ia merupakan salah seorang yang dekat dengan Umar. Umar mengangkat orang-orang yang pandai membaca Al-Qur`ān sebagai kawan dan orang yang diajak musyawarah di majlisnya, baik yang tua maupun yang masih muda usianya. 'Uyainah berkata kepada anak saudaranya, "Wahai anak saudaraku, kamu adalah orang yang dekat dengan Amirul Mukminin, maka mintalah izin kepadanya agar aku dapat menemuinya." Anak saudaranya tersebut memintakan izin dan Umar pun mengizinkannya. Ketika 'Uyainah masuk, ia berkata, "Wahai Ibnu Al-Khaṭṭab, demi Allah, engkau tidak berbuat banyak terhadap kami dan engkau tidak menetapkan hukum kepada kami dengan adil." Umar pun marah hingga hampir saja dia memukulnya. Al-Ḥurr berkata kepada Umar, "Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah -Ta'ālā- telah berfirman kepada Nabi-Nya -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Berikanlah maaf, perintahkanlah untuk berbuat baik, dan berpalinglah dari orang-orang jahil." Sesungguhnya orang ini termasuk orang-orang yang jahil. Demi Allah, Umar tidak mengabaikan ayat itu ketika dia membacanya. Sebab, Umar adalah orang yang sangat teliti terhadap Al-Qur`ān."
عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «سَتَكُونُ أَثَرَةٌ وَأُمُورٌ تُنْكِرُونَهَا» قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ فَمَا تَأْمُرُنَا؟ قَالَ: «تُؤَدُّونَ الحَقَّ الَّذِي عَلَيْكُمْ، وَتَسْأَلُونَ اللَّهَ الَّذِي لَكُمْ».
Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda, "Akan ada (penguasa) yang mementingkan diri sendiri serta perkara-perkara yang kalian ingkari." Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah! Apa yang engkau perintahkan kepada kami?" Beliau menjawab, "Tunaikanlah hak yang menjadi kewajiban kalian dan mohonlah kepada Allah apa yang menjadi hak kalian."
1- Hadis ini termasuk bukti kenabian Muhammad ﷺ, yaitu beliau mengabarkan sesuatu yang akan terjadi pada umat beliau lalu terjadi seperti yang beliau kabarkan.
2- Boleh mengabari seseorang tentang ujian yang diperkirakan akan menimpanya agar ia dapat mempersiapkan diri, sehingga ketika ujian itu datang ia bersabar dan mengharapkan pahala.
3- Berpegang pada Kitab dan Sunnah adalah solusi dari fitnah dan perselisihan.
4- Anjuran untuk tetap mendengar dan taat kepada para penguasa menurut yang makruf dan tidak memberontak kepada mereka sekalipun mereka melakukan suatu kezaliman.
5- Menerapkan sifat hikmah (kebijkasanaan) dan mengikuti Sunnah di zaman fitnah.
6- Seseorang wajib melaksanakan hak yang menjadi kewajibannya walaupun ia mengalami sebagian bentuk kezaliman.
7- Di dalamnya terdapat dalil untuk kaidah: Mengambil keburukan dan mudarat yang paling ringan.
عَن سَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ سَأَلَ اللهَ الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ بَلَّغَهُ اللهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ، وَإِنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ».
Sahl bin Ḥunaif -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Siapa yang memohon mati syahid kepada Allah dengan tulus, Allah akan menyampaikannya ke tingkatan syuhada, walaupun ia meninggal di atas tempat tidurnya."
1- Niat yang jujur serta melakukan apa yang sanggup adalah sebab menggapai pahala dan ganjaran yang diinginkan, walaupun ia belum melakukan perbuatan yang diinginkan tersebut.
2- Anjuran untuk berjihad dan meminta mati syahid di jalan Allah ﷻ.
3- Pemuliaan Allah Ta'ala kepada umat ini, yaitu Allah memberi mereka tingkatan paling tinggi dalam surga dengan amal yang sedikit.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَا يَزَالُ البَلاَءُ بِالمُؤْمِنِ وَالمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Cobaan akan senantiasa menimpa orang beriman laki-laki dan perempuan pada diri, anak, dan hartanya hingga dia berjumpa dengan Allah Ta'ala (meninggal) dalam keadaan tidak memiliki dosa."
1- Di antara bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman ialah Allah menghapuskan dosa-dosa mereka di dunia dengan musibah dan ujian-ujian dunia.
2- Musibah saja akan menggugurkan dosa dengan syarat adanya keimanan. Adapun jika seorang hamba bersabar dan tidak murka maka ia akan diberi pahala.
3- Anjuran agar bersabar di semua urusan, baik yang ia sukai maupun yang tidak ia sukai. Seseorang bersabar hingga ia menunaikan apa yang diwajibkan oleh Allah dan bersabar hingga ia menjauhi apa yang diharamkan oleh Allah dengan mengharap pahala dari Allah dan takut terhadap siksa-Nya.
4- Pada sabda beliau "orang beriman laki-laki dan perempuan", tambahan kata "perempuan" menunjukkan tambahan penekanan bagi perempuan. Jadi, walau hanya dikatakan "orang beriman", perempuan juga telah masuk di dalamnya karena musibah itu tidak khusus bagi laki-laki. Ketika musibah menimpa seorang perempuan, ia juga dijanjikan dengan ganjaran yang seperti itu, yaitu pengguguran dosa dan kesalahan.
5- Di antara hal yang meringankan musibah yang menimpa seorang hamba berkali-kali ialah keutamaan yang diperoleh dari musibah tersebut.
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضيَ اللهُ عنهما: أنَّهُ قَالَ لعَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ: أَلَا أُرِيكَ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟ قُلْتُ: بَلَى، قَالَ: هَذِهِ الْمَرْأَةُ السَّوْدَاءُ، أَتَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَتْ: إِنِّي أُصْرَعُ وَإِنِّي أَتَكَشَّفُ، فَادْعُ اللهَ لِي، قَالَ: «إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الْجَنَّةُ، وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللهَ أَنْ يُعَافِيَكِ» قَالَتْ: أَصْبِرُ، قَالَتْ: فَإِنِّي أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللهَ أَنْ لَا أَتَكَشَّفَ، فَدَعَا لَهَا.
Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Ia pernah berkata kepada Aṭā’ bin Abi Rabāḥ, “Maukah engkau kutunjukkan seorang wanita yang termasuk penghuni surga?” Aṭā’ menjawab, “Iya.” Ibnu 'Abbās berkata, “Wanita berkulit hitam ini. Ia pernah datang kepada Nabi ﷺ dan mengadu, ‘Sesungguhnya aku menderita penyakit ayan. Saat kambuh, auratku terbuka. Mohonkanlah kepada Allah agar aku disembuhkan.’ Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Jika engkau mau, bersabarlah niscaya engkau akan mendapat surga. Namun jika engkau tetap ingin didoakan, aku akan berdoa kepada Allah agar menyembuhkanmu.’ Wanita itu menjawab, ‘Aku akan bersabar.’ Namun ia menambahkan, ‘Hanya saja, auratku terbuka saat penyakitku kambuh. Mohonkanlah kepada Allah agar auratku tidak terbuka.’ Lalu Rasulullah pun mendoakannya.”
1- Sabar terhadap ujian di dunia menyebabkan masuk surga.
2- An-Nawawi berkata, "Di dalam hadis ini terdapat petunjuk bahwa penyakit ayan diberikan pahala paling sempurna."
3- Sifat malu dan kehati-hatian para wanita sahabat serta kegigihan mereka untuk menutup diri -semoga Allah meridai mereka-. Lihatlah wanita ini, hal paling besar yang ia khawatirkan adalah apabila sebagian tubuhnya tersingkap.
4- Ibnu Hajar berkata, "Mengambil hal yang berat lebih utama daripada mengambil rukhsah (keringanan) bagi orang yang mengetahui dirinya mampu dan tidak merasa lemah untuk menjalankannya."
5- Ibnu Hajar berkata, "Hadis ini mengandung pelajaran bahwa mengobati berbagai macam penyakit dengan doa dan bersandar kepada Allah lebih manjur daripada pengobatan dengan obat-obatan. Pengaruh doa dan respons tubuh terhadapnya lebih besar dibanding pengaruh obat fisik. Namun, hal itu hanya akan manjur dengan dua syarat: pertama, dari pihak orang yang sakit, yaitu niat yang tulus; dan kedua, dari pihak yang mengobati, yaitu kekuatan doa serta kekuatan hatinya yang dilandasi takwa dan tawakal. Wallāhu a'lam."
6- Ibnu Hajar berkata, "Hadis ini mengandung dalil bolehnya tidak berobat."
عن عائشة رضي الله عنها أَنَّها سَأَلَت رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الطَّاعُون، فَأَخبَرَها أَنَّه كَان عَذَابًا يَبعَثُه الله تعالى على من يشاء، فَجَعَلَه الله تعالى رحمَة للمؤمنين، فليس من عبدٍ يقع في الطَّاعُون فَيَمكُث فِي بَلَدِه صَابِرًا مُحتَسِبًا يعلَم أَنَّه لايُصِيبُه إِلاَّ مَا كتَب الله له إلا كان له مِثلُ أجرِ الشَّهيدِ.
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- bahwa dirinya pernah bertanya kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengenai ṭā'ūn (wabah penyakit). Beliau memberitahunya bahwa ṭā'ūn adalah azab yang dikirimkan oleh Allah -Ta'ālā- kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, dan Allah -Ta'ālā- menjadikannya rahmat bagi orang-orang Mukmin. Tidak ada seorang pun hamba yang terkena ṭā'ūn (wabah penyakit) lalu dia menetap di negerinya dalam keadaan sabar dan mengharap pahala Allah, dan dia mengetahui bahwa tidak ada yang menimpanya selain apa yang telah ditetapkan oleh Allah kepadanya, maka baginya seperti pahala orang yang mati syahid.
عن أبي هريرة رضي الله عنه مرفوعًا: «يقول الله تعالى : ما لِعَبدِي المُؤمن عِندِي جَزَاء إِذَا قَبَضتُ صَفِيَّه مِنْ أَهلِ الدُّنيَا ثُمَّ احْتَسَبَه إِلاَّ الجنَّة».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Allah -Ta'ālā- berfirman, "Tidak ada balasan (yang pantas) dari-Ku bagi hamba-Ku yang beriman, apabila Aku mewafatkan orang yang dicintainya dari penghuni dunia, kemudian dia rida dengan musibah tersebut, melainkan Surga."