عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: {كنتم خير أمة أُخْرِجَتْ للناس} قال: "خَيْرُ النَّاسِ للنَّاسِ يَأتُونَ بهم في السَّلاسِلِ في أعْنَاقِهِمْ حتى يَدْخُلُوا في الإسلام".
وعنه أيضا رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «عَجِبَ الله عز وجل مِنْ قوم يَدْخُلُونَ الجنة في السَّلاسِلِ».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, ”Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia.” Ia berkata, "Sebaik-baik manusia (yang berjasa) kepada manusia lainnya adalah manusia yang menawan mereka dengan belenggu yang melilit di leher mereka sehingga mereka masuk Islam.”
Dan dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- juga, dari Nabi -ṣalallahu'alaihi wasalam-, beliau bersabda, “Allah -'Azzā wa Jallā- takjub terhadap suatu kaum yang masuk Surga dalam keadaan terbelenggu.”
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضيَ اللهُ عنه أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «أَحَبُّ الْبِلَادِ إِلَى اللهِ مَسَاجِدُهَا، وَأَبْغَضُ الْبِلَادِ إِلَى اللهِ أَسْوَاقُهَا».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid, dan tempat yang paling dibenci Allah adalah pasar."
1- Besarnya kehormatan dan kedudukan masjid karena merupakan tempat yang banyak disebut nama Allah di dalamnya.
2- Anjuran untuk berdiam di masjid serta sering datang ke sana demi mendapatkan cinta dan rida Allah, dan anjuran meminimalisir datang ke pasar kecuali untuk suatu keperluan demi menjauhkan diri dari terjerumus ke dalam sebab-sebab murka Allah.
3- An-Nawawi berkata, "Masjid adalah tempat turunnya rahmat, sedangkan pasar adalah kebalikannya."
عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «إِنَّ الْمُقْسِطِينَ عِنْدَ اللهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ، عَنْ يَمِينِ الرَّحْمَنِ عَزَّ وَجَلَّ، وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِينٌ، الَّذِينَ يَعْدِلُونَ فِي حُكْمِهِمْ وَأَهْلِيهِمْ وَمَا وَلُوا».
Abdullah bin 'Amr -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya orang-orang yang adil itu berada di sisi Allah di atas mimbar-mimbar dari cahaya di samping kanan Ar-Raḥmān ﷻ, sementara kedua tangan-Nya ialah kanan. Mereka itulah yang berlaku adil di dalam kekuasaan, keluarga, dan semua urusan yang mereka pegang."
1- Keutamaan dan anjuran bersifat adil.
2- Sifat adil berlaku umum, yaitu mencakup semua kepemimpinan dan keputusan di antara manusia, bahkan termasuk adil di antara istri, anak-anak dan lainnya.
3- Menjelaskan kedudukan orang-orang yang adil pada hari Kiamat.
4- Perbedaan kedudukan orang-orang beriman pada hari Kiamat, masing-masing sesuai amalnya.
5- Metode targib (motivasi) termasuk di antara metode dakwah yang dapat memotivasi orang yang didakwahi untuk melakukan ketaatan.
عَنْ أَبِي حَازِمٍ قَالَ: قَاعَدْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ رضي الله عنه خَمْسَ سِنِينَ، فَسَمِعْتُهُ يُحَدِّثُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمُ الأَنْبِيَاءُ، كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ، وَإِنَّهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدِي، وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ» قَالُوا: فَمَا تَأْمُرُنَا؟ قَالَ: «فُوا بِبَيْعَةِ الأَوَّلِ فَالأَوَّلِ، أَعْطُوهُمْ حَقَّهُمْ، فَإِنَّ اللَّهَ سَائِلُهُمْ عَمَّا اسْتَرْعَاهُمْ».
Abu Ḥāzim meriwayatkan, Aku belajar kepada Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- selama lima tahun, aku pernah mendengarnya meriwayatkan dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda, "Dahulu Bani Israil dipimpin oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal, ia akan digantikan oleh nabi yang lain. Akan tetapi, sungguh tidak ada nabi lagi sesudahku. Sepeninggalku akan ada khalifah-khalifah dan jumlahnya banyak." Para sahabat bertanya, "Lalu apa yang engkau perintahkan kepada kami?" Beliau menjawab, "Tunaikanlah baiat yang telah diberikan kepada (khalifah) yang paling pertama kemudian yang berikutnya. Penuhilah hak mereka dan mintalah kepada Allah apa yang menjadi hak kalian, karena sesungguhnya Allah akan menanyai mereka tentang apa yang mereka pimpin."
1- Rakyat harus memiliki seorang nabi atau khalifah yang mengurus urusannya dan mengarahkannya pada jalan yang lurus.
2- Tidak ada lagi nabi setelah nabi kita Muhammad ﷺ.
3- Peringatan terhadap perbuatan melawan orang yang sah menjadi pemimpin melalui cara yang dibenarkan syariat.
4- Tidak boleh memberi baiat kepada dua khalifah dalam waktu yang bersamaan.
5- Besarnya tanggung jawab seorang imam (pemimpin), yaitu Allah Ta'ala akan menanyainya tentang rakyatnya.
6- Ibnu Ḥajar berkata, "Mengedepankan perkara agama di atas perkara dunia, yaitu beliau ﷺ memerintahkan agar menunaikan hak pemimpin secara penuh karena hal itu akan menjunjung agama serta meredam fitnah dan keburukan, dan penundaan meminta hak tidak berarti menggugurkannya karena Allah telah menjanjikan bahwa Dia akan menyelamatkannya dan akan memberikan haknya secara penuh walaupun nanti di negeri akhirat."
7- Salah satu tanda kenabian beliau ﷺ, yaitu terbukti banyak khalifah setelah beliau yang silih berganti memimpin umat, ada yang baik dan ada juga yang buruk.
عن عائشة رضي الله عنها قَالَتْ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ -صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم- يقُولُ في بيتي هَذَا: «اللهم من وَلِيَ من أمر أمتي شيئًا فَشَقَّ عليهم، فَاشْقُقْ عليه، ومن وَلِيَ من أمر أمتي شيئًا فَرَفَقَ بهم، فَارْفُقْ به».
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, dia berkata, Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda di rumahku ini, "Ya Allah, siapa saja yang mengurusi urusan umatku (meskipun kecil), lalu ia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dirinya. Dan barangsiapa yang mengurusi urusan umatku (meskipun kecil), lalu ia bersikap lemah lembut kepada mereka, maka perlakukanlah ia dengan lemah lembut."
عَنْ جَرِيرٍ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ يُحْرَمِ الرِّفْقَ يُحْرَمِ الْخَيْرَ».
Jarīr -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Siapa yang dihalangi dari memiliki sifat kelembutan, maka dia terhalang dari seluruh kebaikan."
1- Keutamaan sifat lembut serta anjuran berperangai dengannya dan celaan terhadap sifat kasar.
2- Kelembutan menjadi sebab terbentuknya kebaikan dunia dan akhirat serta keluasan cakupannya, sedangkan sifat kasar menjadi sebab adanya kebalikannya.
3- Kelembutan lahir dari akhlak baik dan kedamaian, sedangkan sifat kasar lahir dari amarah dan kekasaran, oleh karena itu Nabi ﷺ memberikan pujian yang tinggi terhadap kelembutan
4- Sufyān Aṡ-Ṡauriy -raḥimahullāh- berkata kepada murid-muridnya, "Tahukah kalian apa itu kelembutan? Yaitu engkau meletakkan urusan pada tempatnya; keras pada tempatnya, lembut pada tempatnya, pedang pada tempatnya, dan cambuk pada tempatnya."
عن أنس رضي الله عنه قَالَ: كُنْتُ أمشي مَعَ رسول الله صلى الله عليه وسلم وَعَلَيْهِ بُرْد نَجْرَانيٌّ غَلِيظُ الحَاشِيَةِ، فأدْرَكَهُ أعْرَابِي فَجَبذَهُ بِرِدَائِهِ جَبْذَة شَديدة، فَنَظَرْتُ إِلَى صَفْحَةِ عَاتِقِ النَّبيِّ صلى الله عليه وسلم وَقَدْ أثَّرَتْ بِهَا حَاشِيَة الرِّدَاءِ مِنْ شِدَّةِ جَبْذَتِه، ثُمَّ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ، مُر لِي مِنْ مَالِ اللهِ الَّذِي عِنْدَكَ. فَالتَفَتَ إِلَيْهِ، فَضَحِكَ ثُمَّ أَمَرَ لَهُ بِعَطَاءٍ.
Anas -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Aku pernah berjalan bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sementara beliau mengenakan selendang buatan negeri Najran yang kasar tepinya. Lalu seorang badui mengejar beliau dan menarik selendang beliau dengan keras. Aku lihat di permukaan pundak beliau terdapat bekas tepi selendang, karena kerasnya tarikan orang badui itu. Lantas orang itu berkata, 'Wahai Muhammad! Perintahkanlah agar aku diberikan harta Allah yang ada padamu!' Beliau lalu menoleh padanya sembari tersenyum, kemudian beliau memerintahkan untuk memberinya pemberian."
عن ابن مسعود رضي الله عنه مرفوعاً: «ألا أخبركم بمن يحرم على النار؟ أو بمن تحرم عليه النار؟ تحرم على كل قريب هَيِّنٍ لَيِّنٍ سهل».
Dari Abdullah bin Mas'ud -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Apakah kalian (ingin) aku kabari tentang orang yang diharamkan atas neraka? Atau tentang orang yang neraka diharamkan atasnya? Neraka diharamkan atas setiap orang yang dekat, rendah hati, lembut dan memudahkan (orang lain)."
عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ المُؤْمِنينَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ أَحْيَا اللَّيْلَ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ، وَجَدَّ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ.
Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Rasulullah ﷺ dahulu, apabila telah masuk sepuluh malam terakhir (bulan Ramadan) beliau menghidupkan malam, membangunkan keluarganya, serta bersungguh-sungguh dan mengencangkan ikatan sarung."
1- Anjuran untuk memanfaatkan waktu-waktu mulia dengan amal saleh.
2- An-Nawawiy berkata, "Di dalam hadis ini terdapat anjuran meningkatkan ibadah di sepuluh malam terakhir Ramadan serta anjuran menghidupkan malamnya dengan ibadah."
3- Seharusnya seorang hamba antusias mengajak keluarganya beribadah dan bersabar pada mereka.
4- Mengerjakan kebaikan membutuhkan tekad, sabar dan perjuangan.
5- An-Nawawiy berkata, "Ulama berbeda pendapat tentang makna "mengencangkan ikatan sarung". Sebagian mengatakan yaitu bersungguh-sungguh dalam beribadah lebih dari kebiasaan beliau ﷺ di waktu lainnya. Artinya: sungguh-sungguh dalam beribadah. Dikatakan: syadadtu lihāżāl-amri mi`zarī; artinya: Aku bersungguh-sungguh dan fokus untuknya. Yang lain mengatakan: Itu adalah kiasan menjauhi istri agar fokus beribadah."
عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما قال: كان على ثَقَلِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم رَجُلٌ يُقالُ له كِرْكِرَةٌ، فماتَ، فقال رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : «هو في النَّارِ». فذهبوا ينظرونَ إليهِ، فَوَجَدُوا عَبَاءَةً قَدْ غَلَّهَا
Dari Abdullah Ibn 'Amru -raḍiyallāhu 'anhumā-, dia berkata, "Dahulunya ada seseorang yang bekerja untuk Nabi dipanggil Kirkiroh meninggal dunia. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, 'Dia di neraka.' Para sahabat pun pergi untuk melihat keadaannya lalu mereka dapati padanya pakaian (mantel) hasil rampasan perang yang diambilnya dengan diam-diam."