عن عائشة رضي الله عنها والمغيرة بن شعبة رضي الله عنه : أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يقوم من الليل حتى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ فقلت له: لم تَصْنَعُ هذا يا رسول الله، وقد غفر اللهُ لك ما تقدم من ذنبك وما تأخر؟ قال: «أَفَلَا أحب أن أكونَ عبدا شَكُورًا».
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- dan Mugīrah Ibn Syu'bah -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwa dahulunya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- shalat malam sampai kedua kakinya bengkak. Aku pun bertanya kepadanya, "Kenapa engkau lakukan sampai seperti ini wahai Rasulullah, padahal telah diampuni dosa-dosamu yang terdahulu dan yang akan datang?" Beliau menjawab, "Tidakkah bolehkah aku senang bila menjadi hamba yang bersyukur!".
عَن أَبِي بُرْدَةَ بْنِ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: وَجِعَ أَبُو مُوسَى وَجَعًا شَدِيدًا، فَغُشِيَ عَلَيْهِ وَرَأْسُهُ فِي حَجْرِ امْرَأَةٍ مِنْ أَهْلِهِ، فَلَمْ يَسْتَطِعْ أَنْ يَرُدَّ عَلَيْهَا شَيْئًا، فَلَمَّا أَفَاقَ، قَالَ: أَنَا بَرِيءٌ مِمَّنْ بَرِئَ مِنْهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَرِئَ مِنَ الصَّالِقَةِ وَالحَالِقَةِ وَالشَّاقَّةِ.
Abu Burdah bin Abu Musa -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Abu Mūsā -raḍiyallāhu 'anhu- mengalami sakit keras hingga pingsan sementara kepalanya di pangkuan salah satu istrinya sehingga ia tidak bisa melarangnya sedikit pun. Setelah sadar, dia berkata, "Aku berlepas diri dari orang yang Rasulullah ﷺ berlepas diri darinya. Sesungguhnya Rasulullah ﷺ berlepas diri dari wanita yang berteriak histeris, mencukur rambut, dan yang merobek-robek pakaian (ketika terjadi musibah)."
1- Larangan merobek pakaian, mencukur rambut, dan berteriak mengangkat suara saat terjadi musibah karena itu semua termasuk dosa besar.
2- Bersedih dan menangis tanpa disertai ratapan dan teriakan hukumnya tidak haram karena tidak bertentangan dengan sikap sabar terhadap ketetapan Allah, bahkan itu adalah sikap kasih sayang.
3- Diharamkannya marah terhadap ketetapan Allah yang menyakitkan, baik dengan ucapan maupun perbuatan.
4- Kewajiban sabar ketika musibah terjadi.
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رضي الله عنهما أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ أَكَلَ ثُومًا أَوْ بَصَلًا، فَلْيَعْتَزِلْنَا -أَوْ قَالَ: فَلْيَعْتَزِلْ- مَسْجِدَنَا، وَلْيَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ»، وَأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُتِيَ بِقِدْرٍ فِيهِ خَضِرَاتٌ مِنْ بُقُولٍ، فَوَجَدَ لَهَا رِيحًا، فَسَأَلَ فَأُخْبِرَ بِمَا فِيهَا مِنَ البُقُولِ، فَقَالَ قَرِّبُوهَا إِلَى بَعْضِ أَصْحَابِهِ كَانَ مَعَهُ، فَلَمَّا رَآهُ كَرِهَ أَكْلَهَا، قَالَ: «كُلْ فَإِنِّي أُنَاجِي مَنْ لاَ تُنَاجِي».
ولِمُسْلِمٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ أَكَلَ مِنْ هَذِهِ الْبَقْلَةِ، الثُّومِ - وقَالَ مَرَّةً: مَنْ أَكَلَ الْبَصَلَ وَالثُّومَ وَالْكُرَّاثَ فَلَا يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا، فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَتَأَذَّى مِمَّا يَتَأَذَّى مِنْهُ بَنُو آدَمَ».
Jābir bin Abdillah -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Siapa yang memakan bawang putih atau bawang merah, hendaknya ia menjauhi kami -atau hendaknya ia menjauhi masjid kami- dan duduk saja di rumahnya." Suatu waktu, Nabi ﷺ pernah disuguhi periuk berisi sayuran hijau, beliau pun mencium baunya lalu menanyakannya. Beliau lantas diberitahu isinya yang terdiri dari sayuran. Maka beliau bersabda, "Dekatkanlah." Yaitu kepada seorang sahabat yang bersamanya. Ketika sahabat itu melihat beliau tidak mau memakannya, beliau bersabda memberitahunya, "Makanlah, sesungguhnya aku berbicara dengan orang yang tidak engkau ajak bicara."
1- Larangan datang ke masjid bagi orang yang telah makan bawang putih, bawang merah, atau bawang prei.
2- Hukum makanan ini disamakan dengan semua yang memiliki aroma tidak sedap yang dapat mengganggu orang salat seperti aroma rokok, tembakau, dan semisalnya.
3- 'Illat (sebab) pelarangan ini ialah aroma. Jika aroma tidak sedapnya telah hilang karena sering dimasak atau lainnya maka hukum makruhnya menjadi hilang.
4- Dimakruhkannya semua makanan ini bagi orang yang wajib menghadiri salat di masjid agar ia tidak tertinggal salat berjemaah di masjid. Hal itu selama ia tidak memakannya sebagai siasat untuk menggugurkan kewajiban menghadiri salat berjemaah karena hal ini hukumnya haram.
5- Nabi ﷺ tidak makan bawang putih dan semisalnya, bukan karena mengharamkannya, tetapi karena beliau berbicara kepada Jibril -'alaihissalām-.
6- Indahnya cara pengajaran Nabi ﷺ, yaitu beliau menggandengkan hukum dengan penjelasan sebabnya agar hati audiens merasa tenang karena mengetahui hikmahnya.
7- Al-Qāḍī berkata, "Ulama mengiaskan hal ini dengan tempat-tempat berkumpul untuk salat selain masjid seperti lapangan salat hari raya, salat jenazah dan perkumpulan-perkumpulan ibadah lainnya. Demikian pula perkumpulan ilmu, zikir, pesta dan semisalnya. Akan tetapi ini tidak berlaku pada pasar dan yang semisalnya."
8- Para ulama berkata, "Hadis ini mengandung dalil larangan masuk masjid bagi orang yang memakan bawang putih dan semisalnya, walaupun masjid kosong, karena masjid tempat para malaikat, dan juga berdasarkan keumuman makna hadis-hadis yang ada."
عن جابر بن عبد الله رضي الله عنهما «أن النبي صلى الله عليه وسلم صَلَّى على النَّجَاشِيِّ، فكنت في الصفّ الثاني، أو الثالث».
Dari Jābir bin Abdullah -raḍiyallāhu 'anhumā-, "Bahwasanya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melaksanakan salat (gaib) untuk Najasyi. Saat itu aku berada di saf kedua atau ketiga."
عن أبي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قال: «صلَّى بنا رسول الله صلى الله عليه وسلم إحدى صَلاتَيْ الْعَشِيِّ -قال ابن سِيرِينَ وسمَّاها أبو هُرَيْرَةَ، ولكن نسيت أنا- قال: فصلَّى بنا ركعتين، ثم سلَّم، فقام إلى خَشَبَةٍ مَعْرُوضَةٍ في المسجد، فَاتَّكَأَ عليها كأنه غضبان ووضع يده اليُمنى على اليُسرى، و شَبَّكَ بين أصابعه، وخرجت السَّرَعَانُ من أبواب المسجد فقالوا: قَصُرَتِ الصلاة -وفي القوم أبو بكر وعمر- فهابا أن يكلماه، وفي القوم رجل في يديه طُول، يقال له: ذو اليدين فقال: يا رسول الله، أنسيت؟ أم قَصُرَتِ الصلاة؟ قال: لم أَنْسَ وَلَمْ تُقْصَرْ، فقال: أكما يقول ذو اليدين؟ فقالوا: نعم، فتقدَّم فصلَّى ما ترك، ثم سلَّمَ، ثم كبَّر وسجد مثل سجوده أو أطول، ثم رفع رأسه فكبَّر، ثم كبَّر وسجد مثل سجوده أو أطول، ثم رفع رأسه وكبَّر، فربما سألوه: ثم سلّم؟ قال: فَنُبِّئْتُ أن عِمْرَانَ بْنَ حُصَيْنٍ قال: ثم سلَّمَ».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah melaksanakan salah satu salat dari dua salat sore -Ibnu Sirin berkata, "Abu Hurairah menyebutkannya namun aku lupa-. Abu Hurairah berkata, "Beliau salat bersama kami dua rakaat, kemudian salam. Lantas beliau bangkit menuju sebatang kayu yang membentang di dalam masjid. Beliau bersandar ke kayu tersebut, sepertinya sedang marah, dan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri serta menganyam jari-jari beliau. Orang-orang cepat pergi keluar dari pintu-pintu masjid sambil mengatakan, "salat telah diqasar (diringkas)." Di tengah-tengah mereka ada Abu Bakar dan Umar, namun keduanya enggan bicara kepada beliau. Di antara mereka juga ada seorang laki-laki yang tangannya panjang. Orang itu dijuluki Żul Yadain (yang punya dua tangan), lalu Ia berkata, "Wahai Rasulullah, apakah Anda lupa atau salat memang diqasar?" Beliau menjawab, "Aku tidak lupa dan salat juga tidak diqasar." Lalu beliau bertanya, "Apakah benar seperti yang dikatakan Żul Yadain?" Orang-orang menjawab, "Ya." Lantas beliau maju dan mengerjakan rakaat salat yang beliau tinggalkan, kemudian salam. Kemudian beliau bertakbir dan sujud seperti sujud beliau tadinya atau lebih lama. Kemudian mengangkat kepala dan bertakbir. Kemudian bertakbir lagi dan sujud seperti sujud beliau tadinya atau lebih lama. Kemudian mengangkat kepala dan bertakbir." Barangkali mereka bertanya, "Apakah kemudian beliau salam?" Maka aku diberitahu bahwa 'Imrān bin Ḥuṣain berkata, "Kemudian beliau salam."
عن رفاعة بن رافع الزرقي رضي الله عنه قال: جاء جبريل إلى النبي صلى الله عليه وسلم قال: ما تَعُدُّونَ أهل بدر فيكم؟ قال: «من أفضل المسلمين» أو كلمة نحوها. قال: وكذلك من شهد بدرا من الملائكة.
Dari Rifā'ah bin Rāfi' Az-Zarqi -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Jibril datang kepada Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, ia berkata, "Apa kedudukan Ahli Badar di antara kalian?" Beliau menjawab, "Mereka adalah kaum muslimin yang paling utama" atau kalimat yang seperti itu. Lantas Jibril berkata, "Demikian juga para malaikat yang mengikuti perang Badar."
عن جابر بن عبد الله رضي الله عنهما قال: كان جِذْعٌ يقوم إليه النبي صلى الله عليه وسلم يعني في الخطبة - فلما وُضعَ المنبر سمعنا للجِذْعِ مثل صوت العِشَارِ، حتى نزل النبي صلى الله عليه وسلم فوضع يده عليه فَسَكَنَ. وفي رواية: فلما كان يوم الجمعة قعد النبي صلى الله عليه وسلم على المنبر، فصاحت النخلة التي كان يخطب عندها حتى كادت أن تَنْشَقُّ، وفي رواية: فصاحت صِيَاحَ الصبي، فنزل النبي صلى الله عليه وسلم حتى أخذها فَضَمَّها إليه، فجعلت تَئِنُّ أَنِينَ الصبي الذي يُسَكَّتُ حتى اسْتَقَرَّتْ، قال: «بَكَتْ على ما كانت تسمع من الذِّكْرِ».
Dari Jābir bin Abdillah -raḍiyallāhu 'anhumā-, ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- biasa berdiri di atas sebatang pohon (kurma) ketika berkhotbah. Setelah dibuatkan mimbar, kami mendengar sesuatu pada batang pohon (kurma) tersebut seperti suara binatang yang bunting sehingga Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- turun lalu meletakan tangannya padanya. Setelah itu, batang pohon itu pun diam." Dalam satu riwayat disebutkan, "Ketika hari Jum'at, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- duduk di atas mimbar, lalu batang kurma yang biasa beliau berkhotbah di atasnya berteriak, sehingga batang kurma itu hampir terbelah. " Dalam riwayat lain disebutkan, "Lalu batang kurma itu berteriak seperti teriakan anak kecil. Lantas Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- turun sehingga memegangnya lalu memeluknya. Setelah itu, mulailah batang kurma itu mengerang seperti erangan anak kecil yang sedang diredakan (tangisannya) sampai ia terdiam. Beliau bersabda, "Ia menangis karena zikir yang dulu biasa ia dengar."
عن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «لا يُلْدَغُ المؤمنُ من جُحْرٍ واحد مرتين».
Dari Abu Hurairah –raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Apabila seseorang berkata, 'Celakalah manusia,' maka ia adalah orang yang paling celaka di antara mereka.”
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «بين النفختين أربعون» قالوا: يا أبا هريرة أربعون يومًا؟ قال: أَبَيْتُ. قالوا: أربعون سنة؟ قال: أَبَيْتُ. قالوا: أربعون شهرا؟ قال: أَبَيْتُ. «ويَبْلَى كل شيء من الإنسان إلا عَجْبُ الذَّنَب، فيه يُرَكَّبُ الخلق، ثم يُنْزِلُ الله من السماء ماء فَيَنْبُتُونَ كما يَنْبُتُ الْبَقْلُ».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Jarak antara dua tiupan sangkakala itu empat puluh.” Ada yang bertanya, "Wahai Abu Hurairah, empat puluh hari?" Abu Hurairah menjawab, "Aku enggan menjawab." Lalu mereka bertanya, "Empat puluh tahun?" Dia menjawab, "Aku tidak peduli." Lalu mereka bertanya, "Empat puluh bulan?" Dia menjawab, "Aku enggan menjawab." Dan semua bagian manusia akan hancur kecuali tulang ekor. Darinya (tulang ekor) manusia dibangkitkan. Kemudian Allah menurunkan hujan dari langit, lalu mereka tumbuh seperti tumbuhnya sayuran.”
عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: "يُصَلُّونَ لكم، فإن أصابوا فلكم، وإن أخطأوا فلكم وعليهم".
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Mereka (para penguasa) mengimami salat kalian. Jika (salat) mereka benar, kalian (dan mereka) mendapatkan bagian pahalanya. Namun jika mereka salah kalian tetap mendapatkan pahala dan mereka mendapatkan dosa."