عن أبي رمثة التيمي رضي الله عنه قال: رأيتُ رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم وعليه ثَوْبَانِ أَخْضَرَانِ.
Dari Abu Rimṡah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Aku melihat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memakai dua baju hijau."
Explore hadith collections with Arabic matn, translation, authenticity grade, takhrij, and wisdom notes.
عن أبي رمثة التيمي رضي الله عنه قال: رأيتُ رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم وعليه ثَوْبَانِ أَخْضَرَانِ.
Dari Abu Rimṡah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Aku melihat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memakai dua baju hijau."
عن كعب بن مالك رضي الله عنه قال: رأيتُ رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يأكلُ بثلاثِ أَصَابِعَ، فإذا فَرَغَ لَعِقَهَا.
Dari Ka'ab bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Aku pernah melihat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- makan dengan tiga jarinya. Apabila sudah selesai, beliau menjilatinya."
عن أبي قتادة الأنصاري وابن أبي أوفى رضي الله عنهما مرفوعاً: «سَاقِي القَوْمِ آخِرُهُمْ شُرْبًا».
Dari Abu Qatādah Al-Anṣāri dan Ibnu Abi Aufa -raḍiyallāhu 'anhumā- secara marfū', "Orang yang memberi minum kepada satu kaum adalah orang yang paling akhir minum."
عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: سَقَيْتُ النبيَّ صلى الله عليه وسلم مِنْ زَمْزَمَ، فَشَرِبَ وهو قَائِمٌ. عن النَّزَّالِ بنِ سَبْرَةَ رضي الله عنه قال: أَتَى عَلِيٌّ رضي الله عنه بَابَ الرَّحَبَةِ، فَشَرِبَ قَائِمًا، وقال: إِنِّي رأيتُ رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَعَلَ كَمَا رَأَيْتُمُونِي فَعَلْتُ. عن عمرو بن شُعّيْبٍ، عن أبيه، عن جَدِّهِ رضي الله عنه قال: رأيتُ رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَشْرَبُ قَائِمًا وقَاعِدًا.
Dari Ibnu Abbas -raḍiyallāhu 'anhumā-, ia berkata, "Aku memberi minum kepada Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dari air Zamzam, lalu beliau pun meminumnya sambil berdiri." Dari An-Nazzāl bin Sabrah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Ali -raḍiyallāhu 'anhu- mendatangi pintu Ar-Rahabah (pintu di Kufah) lalu ia minum sambil berdiri dan berkata, "Aku pernah melihat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melakukan ini sebagaimana kalian melihatku melakukannya." Dari Amru bin Syu'aib dari bapaknya dari kakeknya -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Aku pernah melihat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- minum sambil berdiri dan sambil duduk."
عن أم ثابتٍ كَبْشَةَ بنتِ ثابتٍ أُخْتِ حَسَّانَ بنِ ثابتٍ رضي الله عنهما ، قالت: دَخَلَ عَلَيَّ رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَشَرِبَ مِنْ فِي قِرْبَةٍ مُعَلَّقَةٍ قائمًا، فقُمتُ إلى فِيها فَقَطَعْتُهُ.
Dari Ummu Ṡābit, Kabsyah binti Ṡābit saudari Hassân ibnu Ṡābit -raḍiyallāhu 'anhumā-, dia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengunjungiku. Beliau minum dari bibir geriba (kantong minum dari kulit) yang tergantung sambil berdiri. Aku pun memotong bibir geriba bekas minum beliau.
عَنْ أَبِي ذَرٍّ، جُنْدُبِ بْنِ جُنَادَةَ، وَأَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ، مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْت، وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقْ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ».
Abu Żarr Jundub bin Junādah dan Abu Abdirrahman Mu'āż bin Jabal -raḍiyallāhu 'anhumā-, mereka meriwayatkan dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda, "Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Kerjakan amal kebajikan setelah (tergelincir) dalam dosa, niscaya ia akan menghapusnya. Perlakukanlah manusia dengan akhlak yang baik."
1- Karunia Allah ﷻ kepada para hamba berupa rahmat-Nya, ampunan-Nya, dan maaf-Nya. 2- Hadis ini mencakup tiga jenis hak: hak Allah dengan bertakwa, hak diri sendiri dengan mengerjakan kebajikan setelah berbuat dosa, dan hak orang lain melalui interaksi sosial yang baik. 3- Dorongan untuk mengerjakan amal baik setelah berbuat dosa, dan bahwa akhlak baik termasuk ketakwaan. Hanya saja, ia disebutkan secara terpisah karena butuh untuk dijelaskan.
عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رضي الله عنه قَالَ: كُنْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ، فَأَصْبَحْتُ يَوْمًا قَرِيبًا مِنْهُ وَنَحْنُ نَسِيرُ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ أَخْبِرْنِي بِعَمَلٍ يُدْخِلُنِي الجَنَّةَ وَيُبَاعِدُنِي عَنِ النَّارِ، قَالَ: «لَقَدْ سَأَلْتَنِي عَنْ عَظِيمٍ، وَإِنَّهُ لَيَسِيرٌ عَلَى مَنْ يَسَّرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ، تَعْبُدُ اللَّهَ وَلاَ تُشْرِكْ بِهِ شَيْئًا، وَتُقِيمُ الصَّلاَةَ، وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ، وَتَصُومُ رَمَضَانَ، وَتَحُجُّ البَيْتَ» ثُمَّ قَالَ: «أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى أَبْوَابِ الخَيْرِ: الصَّوْمُ جُنَّةٌ، وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ، وَصَلاَةُ الرَّجُلِ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ» قَالَ: ثُمَّ تَلاَ: «{تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ}، حَتَّى بَلَغَ {يَعْمَلُونَ}» ثُمَّ قَالَ: «أَلاَ أُخْبِرُكَ بِرَأْسِ الأَمْرِ كُلِّهِ وَعَمُودِهِ، وَذِرْوَةِ سَنَامِهِ؟» قُلْتُ: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ: «رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ، وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ، وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الجِهَادُ» ثُمَّ قَالَ: «أَلاَ أُخْبِرُكَ بِمَلاَكِ ذَلِكَ كُلِّهِ؟» قُلْتُ: بَلَى يَا نَبِيَّ اللهِ، فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ قَالَ: «كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا» فَقُلْتُ: يَا نَبِيَّ اللهِ، وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ؟ فَقَالَ: «ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ، وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ».
Mu'āż bin Jabal -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Aku pernah bersama Nabi ﷺ dalam suatu perjalanan. Suatu hari saat kami berjalan, aku mendekat dari beliau. Lantas aku berkata, "Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku amalan yang dapat memasukkanku ke surga dan menjauhkanku dari neraka." Beliau bersabda, "Sungguh, engkau telah menanyakan perkara besar. Tetapi, hal itu akan mudah bagi orang yang dimudahkan Allah Ta'ala untuk melakukannya. Amalan itu adalah engkau beribadah kepada Allah tanpa menyekutukan sesuatu pun dengan-Nya, menegakkan salat, membayar zakat, berpuasa Ramadan, dan berhaji ke Baitullah." Beliau melanjutkan, "Maukah aku tunjukkan kepadamu pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai, sedekah merupakan penghapus dosa sebagaimana air memadamkan api, dan salatnya seseorang di tengah malam." Lalu beliau membaca (firman Allah), "Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya ... hingga firman-Nya, "...apa yang mereka kerjakan." (QS. As-Sajdah: 16) Lantas beliau bertanya, "Maukah aku beritahukan kepadamu seluruh pokok agama, tiangnya, dan puncaknya?" Aku menjawab, "Tentu, wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "Pokok agama adalah Islam (dua kalimat syahadat), tiangnya adalah salat, dan puncaknya adalah jihad." Selanjutnya beliau bertanya, "Maukah aku beritahukan kepadamu kunci semua perkara ini?" Aku menjawab, "Tentu, wahai Nabi Allah." Lantas beliau memegang lidahnya dan bersabda, "Jagalah ini!" Aku bertanya, "Wahai Nabi Allah, apakah kita akan disiksa karena apa yang kita ucapkan?" Beliau menjawab, "Semoga ibumu kehilangan kamu (ungkapan pengingkaran). Bukankah manusia itu tidak akan tersungkur dalam neraka di atas mukanya -atau di atas hidungnya- melainkan karena hasil panen lidah mereka?!"
1- Keseriusan para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- terhadap ilmu. Oleh karena itu, mereka banyak bertanya kepada Nabi ﷺ tentang hal itu. 2- Dalamnya pemahaman para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- karena mereka mengetahui bahwa amal perbuatan adalah sebab masuk surga. 3- Pertanyaan yang dilontarkan oleh Mu'āż -raḍiyallāhu 'anhu- adalah pertanyaan besar karena sebenarnya merupakan rahasia kehidupan dan keberadaan makhluk. Semua manusia ataupun jin yang ada di dunia ini akan berakhir di antara surga atau neraka. Itulah sebabnya pertanyaan ini menjadi besar. 4- Faktor masuk surga ada pada pelaksanaan kelima rukun Islam, yaitu dua kalimat syahadat, salat, zakat, puasa, dan haji. 5- Fondasi agama sekaligus tugas paling penting dan kewajiban paling tinggi adalah menauhidkan Allah dengan beribadah kepada-Nya saja, tanpa menyekutukan-Nya. 6- Luasnya rahmat Allah pada hamba-hamba-Nya, yaitu Allah membukakan bagi mereka pintu-pintu kebaikan agar mereka memperbanyak bekal berupa sebab-sebab pahala dan ampunan dosa. 7- Keutamaan beribadah dengan amalan sunah setelah menunaikan kewajiban. 8- Kedudukan salat dalam Islam seperti kedudukan tiang yang menjadi tumpuan tenda. Islam akan hilang dengan hilangnya salat sebagaimana tenda akan ambruk dengan ambruknya tiangnya. 9- Kewajiban menjaga lisan dari semua yang dapat membahayakan manusia dalam agamanya. 10- Menahan lisan dan mengontrolnya adalah sumber seluruh kebaikan.
عن أبي بَكرة رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: «إِذَا الْتَقَى الْمُسْلِمَانِ بِسَيْفَيْهِمَا فَالْقَاتِلُ وَالْمَقْتُولُ فِي النَّارِ»، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ هَذَا الْقَاتِلُ، فَمَا بَالُ الْمَقْتُولِ؟ قَالَ: «إِنَّهُ كَانَ حَرِيصًا عَلَى قَتْلِ صَاحِبِهِ».
Abu Bakrah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Apabila dua muslim berhadap-hadapan dengan pedangnya, maka yang membunuh dan yang dibunuh di neraka." Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, pembunuh ini (wajar masuk neraka), lantas bagaimana dengan yang dibunuh?" Beliau bersabda, "Karena dia juga berambisi ingin membunuh rekannya."
1- Siksa bagi orang yang bertekad melakukan kemaksiatan dalam hatinya dan telah melakukan sebab-sebabnya. 2- Peringatan keras terhadap upaya membunuh kaum muslimin dan ancaman neraka pada pelakunya. 3- Peperangan di antara kaum muslimin dengan sebab yang benar tidak masuk dalam ancaman ini, misalnya memerangi pemberontak dan pelaku kerusakan. 4- Pelaku dosa besar tidak serta merta kafir dengan hanya melakukannya karena Nabi ﷺ menyebut dua orang yang saling membunuh itu sebagai muslim. 5- Apabila dua orang muslim berhadap-hadapan dengan menggunakan alat apa saja yang dapat membunuh, lalu salah satunya membunuh yang lain maka keduanya sama-sama masuk neraka, sedangkan penyebutan pedang di dalam hadis ini adalah sebagai contoh.
عَنْ أَبِي العَبَّاسِ سَهْلِ بْنِ سَعِدٍ السَّاعِدِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِي اللَّهُ وَأَحَبَّنِي النَّاسُ، فَقَالَ: «ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبُّكَ اللَّهُ، وَازْهَدْ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبُّكَ النَّاسُ».
Abul-'Abbās Sahl bin Sa'ad as-Sā'idiy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Ada seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ dan berkata, "Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amalan yang jika aku lakukan, maka aku akan dicintai Allah dan dicintai manusia." Beliau bersabda, "Zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah akan mencintaimu dan zuhudlah dengan apa yang dimiliki manusia, maka manusia akan mencintaimu."
1- Keutamaan zuhud terhadap dunia, yaitu seseorang meninggalkan segala sesuatu yang tidak bermanfaat bagi akhiratnya. 2- Zuhud memiliki tingkatan yang lebih tinggi daripada warak, karena makna warak adalah meninggalkan sesuatu yang dirasa akan membahayakan, sementara zuhud meninggalkan segala sesuatu yang tidak bermanfaat untuk akhirat. 3- As-Sindi mengatakan, "Sesungguhnya dunia ini disukai oleh manusia. Siapa saja yang ingin merebutnya dari mereka, niscaya akan mereka benci lantaran hal tersebut. Sebaliknya, siapa saja yang membiarkan mereka bersama yang mereka sukai, maka akan disukai oleh mereka lantaran hal itu."
عَنِ النَّوَّاسِ بْنِ سِمْعَانَ الْأَنْصَارِيِّ رضي الله عنه قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْبِرِّ وَالْإِثْمِ، فَقَالَ: «الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ، وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ، وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ».
An-Nawwās bin Sim'ān Al-Anṣāriy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang kebajikan dan dosa. Beliau bersabda, "Kebajikan itu adalah akhlak baik. Sedangkan dosa adalah apa yang bergejolak di dalam dadamu dan engkau tidak suka ada orang lain yang melihat kamu melakukannya."
1- Anjuran memiliki akhlak mulia karena akhlak baik termasuk perkara kebajikan yang paling agung. 2- Kebenaran dan kebatilan tidak akan samar bagi orang mukmin karena ia dapat mengetahui kebenaran dengan cahaya yang ada dalam hatinya sekaligus bisa menghindar dari kebatilan dan mengingkarinya. 3- Di antara tanda perbuatan dosa adalah kegundahan hati, hati bergolak, dan tidak mau dilihat orang. 4- As-Sindiy berkata, "Ini berlaku pada perkara-perkara yang samar, yaitu perkara-perkara yang seseorang tidak memiliki ilmu untuk menentukan salah satunya. Adapun perkara yang diperintahkan dalam syariat dan tidak ada dalil yang menyelisihinya secara jelas dalam hal itu, maka itu adalah kebajikan. Kemudian perkara yang dilarang seperti itu adalah dosa. Tidak diperlukan pada keduanya untuk bertanya pada hati serta ketenteramannya." 5- Hadis ini ditujukan kepada orang yang memiliki fitrah lurus, bukan yang memiliki fitrah terbalik, yaitu yang tidak mengenal kebaikan dan tidak pula mengingkari kemungkaran kecuali yang dirasuki oleh hawa nafsunya. 6- Aṭ-Ṭībiy berkata, "Disebutkan, kebajikan dalam hadis ini ditafsirkan dengan banyak makna. Di sebagian tempat ditafsirkan dengan sesuatu yang membuat hati merasa tenang. Di tempat lain ditafsirkan dengan keimanan, dan di tempat lainnya lagi dengan sesuatu yang dapat mendekatkan kepada Allah. Sedangkan di sini ditafsirkan dengan akhlak baik. Lalu akhlak baik ditafsirkan dengan bersabar terhadap gangguan, sedikit marah, bermuka ceria dan berkata baik. Semuanya berdekatan secara makna."