عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ، عَلَى العَبْدِ وَالحُرِّ، وَالذَّكَرِ وَالأُنْثَى، وَالصَّغِيرِ وَالكَبِيرِ مِنَ المُسْلِمِينَ، وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ.
Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhuma- berkata, "Rasulullah ﷺ mewajibkan zakat fitrah berupa satu ṣā' kurma atau satu ṣā' gandum kepada hamba sahaya dan orang merdeka, laki-laki dan perempuan, serta anak kecil dan orang besar dari umat Islam. Beliau memerintahkan agar ia ditunaikan sebelum orang-orang keluar melaksanakan salat."
1- Zakat fitrah setelah Ramadan wajib ditunaikan untuk anak kecil dan orang besar, orang merdeka dan hamba sahaya; ia dibebankan kepada wali dan majikan. Zakat fitrah ditunaikan seseorang untuk dirinya dan anak-anaknya serta semua orang yang wajib ia nafkahi.
2- Zakat fitrah tidak diwajibkan dari janin, tetapi dianjurkan.
3- Menjelaskan apa yang ditunaikan dalam zakat fitrah, yaitu bahan makanan pokok sehari-hari.
4- Kewajiban menunaikan zakat fitrah sebelum salat hari raya. Diutamakan agar dilakukan di pagi hari raya. Tetapi boleh bila ditunaikan satu atau dua hari sebelum hari raya.
عن أبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ مُسْلِمَةٍ تُسَافِرُ مَسِيرَةَ لَيْلَةٍ إِلَّا وَمَعَهَا رَجُلٌ ذُو حُرْمَةٍ مِنْهَا».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Seorang wanita muslimah tidak boleh melakukan perjalanan satu malam kecuali harus didampingi seorang laki-laki yang memiliki ikatan mahram dengannya."
1- Ibnu Ḥajar berkata, "Seorang wanita tidak boleh melakukan perjalanan tanpa mahram. Hukum tersebut adalah ijmak di selain haji dan umrah serta keluar dari negeri syirik. Tetapi, ada sebagian ulama menjadikannya sebagai syarat wajib haji."
2- Kesempurnaan syariat Islam dan perhatiannya untuk menjaga dan melindungi perempuan.
3- Beriman kepada Allah dan hari Akhir mengharuskan tunduk kepada syariat Allah dan mematuhi batasan-batasannya.
4- Mahram seorang wanita adalah suaminya atau orang-orang yang haram menikahinya secara permanen karena adanya ikatan kekerabatan, persusuan atau pernikahan dan merupakan seorang muslim yang balig, berakal dan terpercaya karena tujuan persyaratan mahram ialah untuk melindungi dan menjaga perempuan serta mengurus urusannya.
5- Al-Baihaqiy berkata tentang riwayat-riwayat yang ada seputar jarak perjalanan yang tidak boleh dilakukan perempuan kecuali harus didampingi seorang mahram, "Kesimpulannya, semua yang disebut perjalanan jauh (safar) maka dilarang bagi perempuan tanpa suami atau mahram, baik perjalanan tiga hari, dua hari, satu hari, satu barīd (sejarak sekitar 44 km), atau lainnya. Hal itu berdasarkan riwayat Ibnu 'Abbās yang bersifat mutlak dan merupakan riwayat Muslim yang paling akhir, yaitu: Seorang perempuan tidak boleh melakukan perjalanan jauh kecuali harus didampingi seorang mahram. Ini mencakup semua yang disebut safar (perjalanan jauh)." Sedangkan hadis ini sesuai dengan keadaan penanya dan negerinya.
عن عائشة وأم سلمة رضي الله عنهما «أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يُدْرِكُهُ الفجر وهو جُنٌبٌ من أهله، ثم يغتسل ويصوم ».
Dari Aisyah dan Ummu Salamah -raḍiyallāhu 'anhumā-, "Bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah mendapati waktu fajar (Subuh) dalam keadaan junub karena usai berhubungan intim dengan istrinya, kemudian beliau mandi dan berpuasa."
عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال: «نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن صوم يومين: الفطر والنحر، وعن اشْتِمَالِ الصَّمَّاءِ، وأن يَحْتَبِيَ الرجل في الثوب الواحد، وعن الصلاة بعد الصبح والعصر».
Dari Abu Sa'īd Al-Khudri -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang puasa pada dua hari, yaitu hari raya Idulfitri dan hari raya Idul Adha; juga (melarang) menutupi seluruh badan dengan satu kain (tanpa ada celah untuk tangan); dan duduk dengan menegakkan lutut sambil menutup punggung dan badan dengan satu pakaian; serta beliau juga melarang salat setelah Subuh dan Asar."
عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما قال: «نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الْوِصَالِ، قالوا: إنك تواصل؟ قال: إني لَسْتُ كَهَيْئَتِكُمْ، إني أُطْعَمُ وَأُسْقَى».
وفي رواية أبي سعيد الخدري رضي الله عنه : «فَأَيُّكُمْ أراد أن يواصل فليواصل إلى السَّحَرِ».
Dari Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- secara marfū', Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang puasa wiṣāl (puasa terus menerus tanpa berbuka). Orang-orang berkata, “Namun, bukankah anda melakukan puasa wiṣāl?”. Beliau bersabda, “Sungguh aku tidak sama seperti keadaan kalian, karena aku diberi makan dan minum. Maka siapa saja dari kalian yang ingin melanjutkan puasa maka hendaklah dia melanjutkannya hingga waktu sahur.”
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمٌ، فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ، فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ، فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللهُ وَسَقَاهُ».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang lupa, padahal dia sedang berpuasa, lalu makan atau minum, maka hendaklah dia meneruskan puasanya, karena Allahlah yang telah memberinya makan dan minum."
1- Sahnya puasa orang yang makan atau minum karena lupa.
2- Orang yang makan atau minum karena lupa saat berpuasa tidak berdosa karena hal itu tidak dilakukan atas dasar pilihannya.
3- Sifat lembut Allah kepada hamba-Nya, memberi kemudahan kepada mereka, dan menghilangkan kesulitan dan kesusahan dari mereka.
4- Puasa orang yang berpuasa tidak batal dengan salah satu pembatal puasa kecuali jika terpenuhi tiga syarat:
Pertama: Tahu. Jika dia tidak tahu maka puasanya tidak batal.
Kedua: Ingat. Jika lupa maka puasanya tetap sah dan ia tidak wajib mengkada.
Ketiga: Kemauan sendiri dan tidak dipaksa, yaitu ia melakukan pembatal itu dengan pilihannya sendiri.
عن محمد بن عباد بن جعفر قال: «سألت جابر بن عبد الله رضي الله عنهما : أَنَهَى النبي صلى الله عليه وسلم عن صوم يوم الجمعة ؟ قال: نعم».
وفي رواية: «وَرَبِّ الْكَعْبَة».
Dari Muhammad bin ‘Abbād bin Ja’far, ia berkata, “Aku bertanya kepada Jābir bin ‘Abdillah, Apakah Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang untuk berpuasa pada hari Jumat? Ia menjawab, "Iya.” Dan Imam Muslim menambahkan, “Demi Rabb Ka’bah (Allah).”
عَنْ أَبِي عُبَيْدٍ، مَوْلَى ابْنِ أَزْهَرَ، قَالَ: شَهِدْتُ العِيدَ مَعَ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، فَقَالَ: هَذَانِ يَوْمَانِ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صِيَامِهِمَا: يَوْمُ فِطْرِكُمْ مِنْ صِيَامِكُمْ، وَاليَوْمُ الآخَرُ تَأْكُلُونَ فِيهِ مِنْ نُسُكِكُمْ.
Abu Ubaid, mantan budak milik Ibnu Azhar, meriwayatkan, Aku menghadiri salat hari raya bersama Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu-, lalu ia berkata, "Dua hari ini adalah hari yang dilarang oleh Rasulullah ﷺ untuk berpuasa padanya; hari berbuka dari puasa kalian (Idulfitri) dan hari lainnya saat kalian makan sembelihan kalian (Iduladha)."
1- Pengharaman puasa di hari Idulfitri dan Iduladha serta hari-hari tasyrik karena hukumnya mengikuti hari Iduladha, kecuali bagi jemaah haji yang tidak mendapatkan hewan hadyu maka ia boleh berpuasa di hari-hari tasyrik.
2- Ibnu Ḥajar berkata, "Konon, faedah penamaan dua hari tersebut ialah petunjuk tentang hikmah kewajiban berbuka pada keduanya, yaitu sebagai pemisah dari puasa dan memperlihatkan selesainya puasa dengan berbuka di hari setelahnya. Sedangkan yang satunya (Iduladha) adalah untuk memakan daging hewan yang disembelih dalam rangka beribadah."
3- Di dalam khotbahnya, khatib dianjurkan menyampaikan hukum-hukum yang berkaitan dengan waktu itu dan memperhatikan momen.
4- Perintah memakan sebagian daging hewan kurban.
عن عبد الله بن حنين أن عبد الله بن عباس رضي الله عنهما ، وَالْمِسْوَرِ بْنِ مَخْرَمَةَ رضي الله عنهما اختلفا بِالْأَبْوَاءِ:
فقال ابن عباس: يغسل الْمُحْرِمُ رأسه.
وقال الْمِسْوَر: لا يغسل رأسه.
قال: فأرسلني ابن عباس إلى أبي أيوب الأنصاري رضي الله عنه فوَجَدْتُهُ يغتسل بين الْقَرْنَيْنِ، وهو يستر بثوب، فَسَلَّمْتُ عليه، فقال: من هذا؟ فقلت: أنا عبد الله بن حُنَيْنٍ، أرسلني إليك ابن عباس، يسألك: كيف كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يغسل رأسه وهو مُحرِمٌ؟ فوضع أبو أيوب يده على الثوب، فَطَأْطَأَهُ، حتى بَدَا لي رأسه، ثم قال لإنسان يَصُبُّ عليه الماء: اصْبُبْ، فَصَبَّ على رأسه، ثم حَرَّكَ رأسه بيديه، فأقبل بهما وَأَدْبَرَ. ثم قال: هكذا رأيته صلى الله عليه وسلم يغتسل».
وفي رواية: «فقال المسور لابن عباس: لَا أُمَارِيكَ أبدًا».
Dari Abdullah bin Ḥunain, bahwa Abdullah bin ‘Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- dan Al-Miswar bin Makhramah -raḍiyallāhu 'anhumā- berbeda pendapat ketika keduanya berada di Abwā`. Ibnu ‘Abbās berkata, "Orang yang sedang ihram membasuh kepalanya." Sedangkan Al-Miswar berkata, "Orang yang sedang ihram tidak boleh membasuh kepalanya." Ia (Abdullah bin Ḥunain) berkata, Maka Ibnu 'Abbās mengutusku untuk menemui Abu Ayyūb Al-Anṣāri -raḍiyallāhu 'anhu-. Lalu Aku jumpai dia sedang mandi di antara dua kayu dan berlindung di balik baju. Maka aku memberi salam kepadanya. Dia bertanya, "Siapa itu?" Aku jawab, "Aku Abdullah bin Ḥunain, Ibnu 'Abbās mengutusku kepadamu untuk menanyakan, bagaimana dahulu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- membasuh kepala ketika beliau sedang ihram?" Maka Abu Ayyub menyingkap kain penutup dengan tangannya sehingga kepalanya nampak olehku, lalu dia berkata kepada seseorang yang bertugas menyiramkan air kepadanya, "Siramkan air itu." Maka orang itu menyiramkan air ke kepalanya, lalu dia menggosok kepalanya dengan kedua tangannya, ia menarik tangannya ke depan dan ke belakang, Kemudian ia berkata, "Begitulah aku pernah melihat beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mandi." Dan dalam suatu riwayat disebutkan, “Lalu Al-Miswar berkata kepada Ibnu ‘Abbās, Aku tidak akan mendebatmu selamanya.”
عن جابرٍ رضي الله عنه قال: قدِمنا مع رسولِ الله صلى الله عليه وسلم ، ونحنُ نقولُ: لبيك بالحجِّ، فأمرَنا رسولُ الله صلى الله عليه وسلم فجعلناها عُمرةً.
Dari Jābir -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Kami datang bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sambil mengucapkan, "Labbaika Bil Hajj" (kami menyambut panggilan-Mu untuk berhaji). Lantas Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkan kami, lalu kami pun merubah haji tersebut menjadi umrah."