عن أنس رضي الله عنه مرفوعاً: «يَتْبَعُ الميتَ ثلاثةٌ: أهْلُه ومَالُه وعَمَلُه، فيرجع اثنان ويَبْقى واحد: يرجع أهْلُه ومَالُه، ويبقى عَمَلُه».
Dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu-, dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, "Mayat itu akan diikuti oleh 3 perkara: keluarga, harta dan amalnya. Dua perkara akan pulang kembali, dan yang satu akan tinggal (bersamanya). Keluarga dan hartanya akan kembali, dan yang tinggal adalah amalnya."
عَنْ صَفْوَانَ بْنِ مُحْرِزٍ قَالَ: قَالَ رَجُلٌ لِابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما كَيْفَ سَمِعْتَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: فِي النَّجْوَى؟ قَالَ: سَمِعْتُهُ يَقُولُ: «يُدْنَى الْمُؤْمِنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ، حَتَّى يَضَعَ عَلَيْهِ كَنَفَهُ، فَيُقَرِّرُهُ بِذُنُوبِهِ، فَيَقُولُ: هَلْ تَعْرِفُ؟ فَيَقُولُ: أَيْ رَبِّ أَعْرِفُ، قَالَ: فَإِنِّي قَدْ سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، وَإِنِّي أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ، فَيُعْطَى صَحِيفَةَ حَسَنَاتِهِ، وَأَمَّا الْكُفَّارُ وَالْمُنَافِقُونَ، فَيُنَادَى بِهِمْ عَلَى رؤُوسِ الْخَلَائِقِ هَؤُلَاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى اللهِ».
Ṣafwān bin Muḥriz meriwayatkan, Ada seseorang berkata kepada Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā-, "Apa yang pernah engkau dengar dari Rasulullah ﷺ tentang najwā (pembicaraan tertutup)?" Ibnu Umar menjawab: Aku mendengar beliau bersabda, "Pada hari kiamat, orang mukmin didekatkan kepada Allah ﷻ lalu Dia meletakkan tabir-Nya kepadanya dan mengingatkannya dosa-dosanya. Allah bertanya, 'Apakah kamu mengetahuinya?' Dia menjawab, 'Tentu, wahai Tuhanku! Aku tahu.' Allah berfirman, 'Sungguh Aku telah menutupinya padamu di dunia dan sungguh hari ini Aku mengampuninya untukmu.' Lantas ia diberikan catatan kebaikan-kebaikannya. Adapun orang kafir dan munafik, mereka dipanggil di hadapan makhluk: Mereka itu adalah orang-orang yang mendustakan Allah."
1- Karunia dan rahmat Allah bagi orang-orang beriman dengan menutupi aib mereka di dunia dan akhirat.
2- Anjuran untuk menutupi aib seorang mukmin selama memungkinkan.
3- Seluruh perbuatan hamba dihitung oleh Tuhan mereka. Siapa yang mendapatkan kebaikan, hendaknya memuji Allah. Sebaliknya, siapa yang mendapatkan kebalikannya, janganlah ia mencela kecuali dirinya sendiri. Nasibnya ada di bawah kehendak Allah.
4- Ibnu Ḥajar berkata, "Kumpulan hadis-hadis yang ada menunjukkan pelaku maksiat dari kalangan orang beriman kelak pada hari Kiamat terbagi menjadi dua:
Pertama: Pelaku yang kemaksiatannya antara dia dengan Tuhannya. Hadis Ibnu Umar menunjukkan bahwa kelompok ini terbagi menjadi dua.
- Orang pertama: perbuatan maksiatnya ditutupi saat di dunia; kelompok ini yang akan ditutupi kelak pada hari Kiamat, sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadis secara tersurat (manṭūq).
- Orang kedua: perbuatan maksiatnya dilakukan terang-terangan. Makna tersirat (mafhūm) hadis ini menunjukkan sebaliknya.
Kedua: Pelaku yang kemaksiatannya antara dia dengan hamba. Mereka juga terbagi dua.
- Orang pertama: keburukannya lebih besar dari kebaikannya. Mereka itu akan masuk neraka, kemudian keluar dengan syafaat.
- Orang kedua: keburukan dan kebaikannya sama. Mereka itu tidak akan masuk surga sampai dilakukan saling kisas di antara mereka.
عَن أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يُسَلِّمُ الرَّاكِبُ عَلَى المَاشِي، وَالمَاشِي عَلَى القَاعِدِ، وَالقَلِيلُ عَلَى الكَثِيرِ».
وَلِلبُخَارِي: «يُسَلِّمُ الصَّغِيرُ عَلَى الكَبِيرِ، وَالمَارُّ عَلَى القَاعِدِ، وَالقَلِيلُ عَلَى الكَثِيرِ».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, "Hendaklah yang berkendara mengucapkan salam kepada yang berjalan kaki, dan yang berjalan kaki mengucapkan salam kepada yang duduk, dan yang berjumlah sedikit mengucapkan salam kepada yang berjumlah banyak."
1- Anjuran memberi salam seperti yang disebutkan dalam hadis ini. Akan tetapi, ketika orang yang berjalan kaki memberi salam kepada yang berkendara dan praktik lainnya sebagaimana yang telah disebutkan, hukumnya boleh, namun itu menyelisihi yang utama.
2- Menebarkan salam dengan mengikuti tata cara yang disebutkan dalam hadis termasuk sebab cinta dan keakraban.
3- Apabila mereka setara serta memiliki kondisi yang sama terkait hal yang disebutkan, maka yang terbaik di antara mereka ialah yang memulai salam.
4- Kesempurnaan syariat ini dalam menjelaskan semua yang dibutuhkan oleh manusia.
5- Mengajarkan adab salam dan memberi setiap orang haknya masing-masing.
عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: أَلَسْتُمْ فِي طَعَامٍ وَشَرَابٍ مَا شِئْتُمْ؟ لَقَدْ رَأَيْتُ نَبِيَّكُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا يَجِدُ مِنَ الدَّقَلِ مَا يَمْلَأُ بِهِ بَطْنَهُ.
An-Nu'mān bin Basyīr -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata, "Bukankah kalian berada dalam limpahan makanan dan minuman apa saja sesuka kalian? Sungguh, aku pernah melihat Nabi kalian ﷺ tidak menemukan kurma jelek sekali pun untuk mengganjal perutnya."
1- Menjelaskan kondisi zuhud yang menjadi sifat Nabi ﷺ.
2- Anjuran untuk bersikap zuhud terhadap dunia dan menguranginya serta meneladan Nabi ﷺ.
3- Mengingatkan umat Islam tentang nikmat yang mereka dapatkan dan anjuran untuk mensyukurinya.
عن أبي مسعود عقبة بن عمرو الأنصاري البدري رضي الله عنه قال: لما نزلت آية الصدقة كنَّا نُحَامِلُ على ظُهُورِنَا، فجاء رجل فتصدق بشيء كثير، فقالوا: مُراءٍ، وجاء رجل آخر فتصدق بصاع، فقالوا: إن الله لَغَنيٌّ عن صاع هذا!؛ فنزلت: (الذين يلمزون المطوعين من المؤمنين في الصدقات والذين لا يجدون إلا جهدهم).
Dari Abu Mas'ūd 'Uqbah bin 'Amru Al-Anṣāri Al-Badri -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Ketika turun ayat perintah bersedekah, kami (bekerja) mengangkut (hasil sedekah) dengan punggung kami. Maka seseorang datang menyedekahkan sesuatu dalam jumlah banyak. Mereka (orang-orang munafik) berkata, "Ini orang yang ria (pamer)." Seorang lain datang lalu menyedekahkan satu ṣā'. Mereka berkata, "Allah tidak membutuhkan ṣā' orang ini." Maka turunlan ayat, "(Orang-orang munafik) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang Mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak punya (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya."
عن أبي عبد الله خباب بن الأرت رضي الله عنه قال: شكونا إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو مُتَوَسِّدٌ بُرْدَةً له في ظِلِّ الكعبة، فقلنا أَلاَ تَسْتَنْصِرُ لنا، ألا تدعو الله لنا؟ فقال: «قد كان من قبلكم يُؤخذ الرجل فيُحفر له في الأرض، فيُجعل فيها، ثمَّ يُؤتى بالمِنْشَارِ فيوضع على رأسه فيُجعل نصفين، ويُمشط بأمشاطِ الحديد ما دون لحمه وعظمه، ما يَصُدُّهُ ذلك عن دينه، والله لَيُتِمَّنَّ الله هذا الأمر حتى يسير الراكب من صنعاء إلى حضرموت لا يخاف إلا الله والذئب على غَنَمِه، ولكنكم تستعجلون». وفي رواية: «هو مُتَوَسِّدٌ بُرْدَةً، وقد لقينا من المشركين شدة».
Dari Abu Abdillah Khabbāb bin Al-Aratt -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Suatu saat kami pernah mengadu kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di mana beliau sedang berbantal jubahnya di naungan bayangan Ka'bah. Kami berkata, "Tidakkah engkau meminta pertolongan Allah. Tidakkah engkau berdoa kepada Allah?" Maka beliau menjawab, "Sungguh pernah terjadi pada orang-orang sebelum kalian ada seorang yang diculik, lalu dibuatkan lubang di tanah, kemudian dijebloskan ke dalamnya, lalu didatangkan gergaji dan diletakkan di bagian kepalanya (selanjutnya dibelah) hingga (tubuhnya) menjadi dua bagian. Selain itu dia pun disayat dengan sisir dari besi yang diletakkan antara daging dan tulangnya, tetapi semua siksaan itu tidak memalingkan dia dari agamanya. Demi Allah, sungguh Allah senantiasa menyempurnakan agama ini hingga seorang penunggang unta berjalan dari Ṣan'ā` sampai Haḍramaut tidak merasa takut kecuali kepada Allah, dan tidak khawatir srigala memangsa kambingnya. Tetapi sungguh kalian tergesa-gesa." Dalam sebuah riwayat, "Di mana beliau berbantal jubahnya dan kami telah menerima penganiayaan tak terhingga dari orang-orang musyrik."
عن عائشة رضي الله عنها أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يَنَام أول اللَّيل، ويقوم آخره فَيُصلِّي.
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, "Bahwasanya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- biasa tidur di awal malam dan bangun di akhirnya, lalu melaksanakan salat."
عن أنس بن مالك رضي الله عنه مرفوعاً: «يُؤتى بأنعم أهل الدنيا من أهل النار يوم القيامة، فَيُصْبَغُ في النار صَبْغَةً، ثم يقال: يا ابن آدم، هل رأيت خيرًا قطُّ؟ هل مَرَّ بك نَعِيمٌ قطُّ؟ فيقول: لا والله يا رب، وَيُؤْتَى بأشدِّ الناس بُؤسًا في الدنيا من أهل الجَنَّة، فَيُصْبَغُ صَبْغَةً في الجنَّة، فيقال له: يا ابن آدم، هل رأيت بُؤسًا قط؟ هل مَرَّ بك شِدَّةٌ قط؟ فيقول: لا والله، ما مَرَّ بي بُؤْسٌ قطٌّ، ولا رأيت شِدةً قَطُّ».
Dari Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', “Pada hari kiamat kelak akan dihadirkan orang yang paling merasakan nikmat di dunia dari kalangan penduduk neraka. Kemudian ia dicelupkan sekali ke dalam neraka lantas ditanyakan padanya, ‘Hai anak Adam, apakah kamu pernah melihat kebaikan, apakah kamu pernah merasakan kenikmatan?’
Ia menjawab, ‘Tidak, demi Allah wahai Rabb-ku.’
Dan akan dihadirkan pula orang yang paling sengsara di dunia dari kalangan penduduk surga lalu dicelupkan ke dalam surga dengan sekali celupan. Ditanyakan padanya, ‘Hai anak Adam, pernahkah kamu melihat satu penderitaan? Pernahkah kamu merasakan kesengsaraan?’
Ia menjawab, ‘Tidak, demi Allah, aku tidak pernah merasakan penderitaan sama sekali dan aku tak pernah melihat adanya kesengsaraan sedikitpun.”
عن أبي قتادة وأنس بن مالك رضي الله عنهما مرفوعاً: «إني لأقوم إلى الصلاة، وأريد أن أُطَوِّلَ فيها، فأسمع بكاء الصبي فأَتَجَوَّزُ في صلاتي كراهيةَ أن أَشُقَّ على أمه».
Dari Qatādah dan Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhumā- secara marfū', "Sesungguhnya aku berdiri untuk salat dan aku bermaksud hendak memanjangkannya, lalu aku mendengar tangisan seorang anak kecil, lalu aku ringankan salatku karena aku tak mau merisaukan ibunya."
عن عائشة رضي الله عنها قالت: يا رسولَ اللهِ، إِنَّ لِي جَارَيْنِ، فإلى أَيِّهِمَا أُهْدِي؟ قال: «إلى أَقْرَبِهِمَا مِنْكِ بَابًا».
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, dia bertanya, "Wahai Rasulullah, aku memiliki dua tetangga, kepada siapa aku beri hadiah?" Nabi menjawab, "Kepada yang paling dekat pintu rumahnya darimu."