عن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه عن النبيِّ -صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم- أَنَّهُ قَالَ: «الخَاِزنُ المسلم الأمين الَّذِي يُنْفِذُ ما أُمِرَ بِهِ فَيُعْطِيهِ كَامِلاً مُوَفَّراً طَيِّبَةً بِهِ نَفسُهُ فَيَدْفَعُه إلى الَّذِي أُمِرَ لَهُ بِهِ، أَحَدُ المُتَصَدِّقِين».
وفي رواية: «الذي يُعطِي مَا أُمِرَ به».
Dari Abu Musa al-Asy'ari -raḍiyallāhu 'anhu- dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, "Seorang bendahara muslim yang terpercaya dan melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya, kemudian memberikan harta yang disimpannya dengan utuh dan penuh dengan senang hati, lalu menyalurkan harta tersebut kepada siapa yang diperintahkan untuk diberi, maka ia termasuk salah satu dari dua orang yang bersedekah." Dalam riwayat lain disebutkan, "Yang memberikan apa yang telah diperintahkan kepadanya."
عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: كان أخوانِ على عهد النبي صلى الله عليه وسلم وكان أحدُهما يأتي النبي صلى الله عليه وسلم والآخر يَحتَرِف، فَشَكَا الُمحتَرِف أَخَاه للنبي صلى الله عليه وسلم فقال: «لعَلَّك تُرزَقُ بِهِ».
Dari Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Ada dua orang bersaudara pada masa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Salah satunya datang kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- (untuk belajar), dan yang lainnya bekerja. Lantas orang yang bekerja itu mengadukan saudaranya kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Maka beliau bersabda, "Bisa jadi kamu diberi rezeki karenanya."
عَنْ أَبِي مُوسَى رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ: إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيرِ: إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً».
Abu Musa -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Perumpamaan teman bergaul yang saleh dan teman bergaul yang buruk adalah bagaikan penjual minyak wangi dan pandai besi. Penjual minyak wangi itu antara dia akan memberimu atau engkau akan membeli darinya, atau paling tidak engkau bisa mendapatkan darinya aroma yang wangi. Sedangkan pandai besi, bisa jadi dia akan membakar pakaianmu atau engkau akan mendapatkan aroma tidak sedap darinya."
1- Boleh membuat permisalan untuk memudahkan pendengar dalam memahami perkataan.
2- Anjuran dan dorongan agar bergaul dengan pelaku ketaatan dan kebaikan serta menjauhi pelaku kerusakan dan orang-orang yang berakhlak buruk.
عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما «أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يُسَبِّحُ على ظَهرِ رَاحِلَتِه حَيثُ كان وَجهُهُ، يُومِئُ بِرَأسِهِ، وكَان ابنُ عُمرَ يَفعَلُهُ».
وفي رواية: «كان يُوتِرُ على بَعِيرِه».
ولمسلم: «غَيرَ أنَّه لا يُصَلِّي عَليهَا المَكتُوبَة».
وللبخاري: «إلا الفَرَائِض».
Dari Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā-, "Bahwasanya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah salat di atas kendaraannya ke arah manapun wajah beliau menghadap. Beliau memberi isyarat dengan kepalanya. Dan Ibnu Umar juga melakukannya."
Dalam riwayat lain dinyatakan, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- salat witir di atas untanya."
Sementara redaksi imam Muslim menyatakan, "Hanya saja beliau tidak pernah salat fardu di atas kendaraannya."
Dan redaksi imam Bukhari, "Kecuali salat fardu."
عن سمرة بن جندب رضي الله عنه قال: لقد كنت على عَهْدِ رسولِ الله صلى الله عليه وسلم غُلاما، فكنت أحفظ عنه، فما يمنعني من القول إلا أن هاهنا رِجَالًا هم أَسَنُّ مِنِّي.
Dari Samurah bin Jundub -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Pada masa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- aku masih muda belia. Aku hafal apa yang disampaikan oleh Rasulullah. Tidak ada yang menghalangiku untuk berbicara, kecuali karena di sana ada orang-orang yang lebih tua dariku."
عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما أَنَّ النَّبِيَّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- قَالَ: «أراني في المنام أَتَسَوَّكُ بِسِوَاكٍ، فجاءني رجلان، أحدهما أكبر من الآخر، فَنَاوَلْتُ السِّوَاكَ الأصغرَ، فقيل لي: كَبِّرْ، فَدَفَعْتُهُ إلى الأكبر منهما».
Dari Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhu-, dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, "Aku bermimpi sedang bersiwak dengan sepotong kayu siwak. Tiba-tiba ada dua orang mendatangiku, salah satu dari mereka lebih tua dari yang lain. Aku memberikan kayu siwak kepada orang yang lebih muda. Lantas dikatakan kepadaku, "Dahulukan yang lebih tua!" Aku pun memberikannya kepada orang yang lebih tua."
عائشة رضي الله عنها قالت: «فَتَلْتُ قَلَائِدَ هَدْيِ رسولِ الله صلى الله عليه وسلم ، ثم أَشْعَرْتُها وَقَلَّدَهَا -أو قَلَّدْتُها-، ثم بعث بها إلى البيت، وأقام بالمدينة، فما حَرُمَ عليه شيءٌ كان له حِلًّا».
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Aku memintal kalung-kalung hadyu (hewan kurban) Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu aku menandainya dan beliau memasangkannya -atau aku memasangkannya-, setelah itu beliau mengirimkannya ke Baitullah, dan beliau sendiri tetap diam di Madinah. Tidak ada yang haram bagi beliau sesuatu yang sebelumnya halal."
عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ المؤْمِنين رَضيَ اللهُ عنها قَالَتْ: جَاءَتْنِي مِسْكِينَةٌ تَحْمِلُ ابْنَتَيْنِ لَهَا، فَأَطْعَمْتُهَا ثَلَاثَ تَمَرَاتٍ، فَأَعْطَتْ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا تَمْرَةً، وَرَفَعَتْ إِلَى فِيهَا تَمْرَةً لِتَأْكُلَهَا، فَاسْتَطْعَمَتْهَا ابْنَتَاهَا، فَشَقَّتِ التَّمْرَةَ الَّتِي كَانَتْ تُرِيدُ أَنْ تَأْكُلَهَا بَيْنَهُمَا، فَأَعْجَبَنِي شَأْنُهَا، فَذَكَرْتُ الَّذِي صَنَعَتْ لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: «إِنَّ اللهَ قَدْ أَوْجَبَ لَهَا بِهَا الْجَنَّةَ، أَوْ أَعْتَقَهَا بِهَا مِنَ النَّارِ».
Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan, Aku pernah didatangi oleh seorang wanita miskin sambil membawa kedua anak perempuannya, lalu aku memberinya tiga butir kurma. Lalu wanita itu memberikan satu butir kurma kepada masing-masing anaknya dan satu lagi diangkatnya ke mulutnya untuk dimakan. Namun, kedua putrinya itu memintanya, sehingga ia membagi dua kurma yang hendak dimakannya itu untuk mereka berdua. Keadaan wanita itu membuatku takjub, sehingga aku memberitahukan perbuatannya itu kepada Rasulullah ﷺ. Lantas beliau bersabda, "Sesungguhnya Allah telah menetapkan surga untuk wanita itu atau membebaskannya dari neraka karena perbuatannya tersebut."
1- Keutamaan sedekah walaupun sedikit karena menunjukkan kejujuran seorang mukmin dalam keimanannya kepada Tuhannya serta keyakinannya terhadap janji dan karunia-Nya.
2- Besarnya kasih sayang ibu kepada anak-anaknya dan kekhawatirannya terhadap keselamatan mereka.
3- Keutamaan mendahulukan orang lain atas diri sendiri, kasih sayang kepada anak kecil, serta kebaikan dan kelembutan yang lebih kepada anak perempuan; bahwa hal tersebut adalah sebab masuk surga dan pembebasan dari api neraka.
4- Tidak selayaknya seseorang merasa enggan untuk bersedekah dengan sesuatu yang sedikit karena menganggapnya tidak berarti. Justru orang yang bersedekah seharusnya bersedekah sesuai kemampuannya, sedikit ataupun banyak.
5- Di dalamnya terdapat gambaran tentang rumah tangga Nabi ﷺ serta bagaimana kehidupan beliau dan keluarganya. Di rumah mereka tidak ada sesuatu yang dapat dimakan kecuali satu atau tiga butir kurma.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «السَّاعِي عَلَى الأَرْمَلَةِ وَالمِسْكِينِ، كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، أَوِ القَائِمِ اللَّيْلَ الصَّائِمِ النَّهَارَ».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Nabi ﷺ bersabda, "Orang yang berusaha untuk memberi nafkah kepada janda dan orang miskin seperti orang yang berjihad fi sabilillah, atau seperti orang yang salat sepanjang malam dan puasa sepanjang siang."
1- Anjuran saling tolong-menolong dan membantu kebutuhan orang-orang lemah.
2- Ibadah mencakup semua amal saleh, termasuk membantu janda dan orang miskin.
3- Ibnu Hubairah berkata, "Maksud hadis ini adalah bahwa Allah Ta'ala mengumpulkan untuknya pahala orang yang berpuasa, salat malam, dan berjihad sekaligus. Hal itu karena dia menggantikan posisi suami janda tersebut... dan membantu orang miskin yang tidak mampu mengurusi dirinya dengan memberi kelebihan makanannya dan bersedekah dengan kekuatannya, sehingga manfaatnya setara dengan puasa, qiamulail dan jihad."
عن أبي هريرة رضي الله عنه مرفوعًا: «أن رجلا زَارَ أخًا له في قرية أخرى، فأَرْصَدَ الله تعالى على مَدْرَجَتِهِ مَلَكًا، فلما أتى عليه، قال: أين تريد؟ قال: أريد أخًا لي في هذه القرية، قال: هل لك عليه من نعمةٍ تَرُبُّهَا عليه؟ قال: لا، غيرَ أني أَحْبَبْتُهُ في الله تعالى ، قال: فإني رسولُ الله إليك بأنَّ الله قد أَحَبَّكَ كما أَحْبَبْتَهُ فيه».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Bahwasanya seorang lelaki mengunjungi saudaranya di kampung lain. Lalu Allah -Ta'ālā- mengutus seorang malaikat untuk mengawasinya di jalan. Ketika malaikat itu bertemu dengannya, ia bertanya, "Engkau mau kemana?" Orang itu menjawab, "Aku ingin menemui saudaraku di kampung ini." Malaikat bertanya, "Apakah ada satu keuntungan yang ingin engkau dapatkan darinya?" Orang itu menjawab, "Tidak. Hanya saja aku mencintainya karena Allah -Ta'ālā-." Malaikat berkata, "Sesungguhnya aku adalah utusan Allah (untuk mengabarkan) kepadamu bahwa Allah telah mencintaimu sebagaimana engkau mencintainya karena-Nya."