عَنِ العَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ رَضيَ اللهُ عنهُ قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، عَلِّمْنِي شَيْئًا أَسْأَلُهُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ. قَالَ: «سَلِ اللَّهَ العَافِيَةَ»، فَمَكَثْتُ أَيَّامًا ثُمَّ جِئْتُ فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، عَلِّمْنِي شَيْئًا أَسْأَلُهُ اللَّهَ. فَقَالَ لِي: «يَا عَبَّاسُ، يَا عَمَّ رَسُولِ اللهِ، سَلِ اللَّهَ العَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ».
Al-'Abbās bin Abdul Muṭṭalib -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Aku berkata, "Wahai Rasulullah! Ajarkanlah kepadaku sesuatu yang akan aku minta kepada Allah ﷻ." Beliau menjawab, "Mintalah kepada Allah keafiatan." Aku lantas diam beberapa hari, kemudian menemui beliau lagi dan berkata, "Wahai Rasulullah! Ajarkanlah aku sesuatu yang aku minta kepada Allah." Beliau berkata kepadaku, "Wahai ‘Abbās, wahai paman Rasulullah! Mintalah kepada Allah keafiatan di dunia dan akhirat."
1- Pengulangan Nabi ﷺ dengan jawaban yang sama kepada Al-'Abbās ketika diminta sekali lagi menunjukkan bahwa keafiatan adalah permintaan terbaik hamba kepada Tuhannya.
2- Menjelaskan keutamaan keafiatan; bahwa di dalamnya terkumpul kebaikan dunia dan akhirat.
3- Kegigihan para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- untuk menambah ilmu dan kebaikan.
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: «أَتَى رجل مِنَ المسلمين رسولَ صلى الله عليه وسلم وهو في المسجد فَنَادَاهُ: يا رسول الله، إنِّي زَنَيْتُ، فَأَعْرَضَ عنه، فَتَنَحَّى تِلْقَاءَ وَجْهِهِ فَقَالَ: يا رسول الله، إنِّي زَنَيْت، فأعرض عنه، حَتَّى ثَنَّى ذلك عليه أَرْبَعَ مَرَّاتٍ.
فَلَمَّا شَهِدَ عَلَى نَفْسِهِ أَرْبع شهادات: دَعَاهُ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم ، فَقَالَ: أَبِكَ جُنُونٌ؟ قَالَ: لا، قَالَ: فَهَلْ أُحْصِنْت؟ قَالَ: نَعَمْ، فَقَالَ رَسُولُ الله: اذْهَبُوا بِهِ فَارْجُمُوهُ».
قَالَ ابْنُ شِهَابٍ: فَأَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ. سَمِعَ جَابِرَ بنَ عَبْدِ الله يَقُولُ: «كُنْت فِيمَنْ رَجَمَهُ، فَرَجَمْنَاهُ بِالمُصَلَّى، فَلَمَّا أَذْلَقَتْهُ الْحِجَارَةُ هَرَبَ، فَأَدْرَكْنَاهُ بِالحَرَّةِ، فَرَجَمْنَاهُ».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Seorang lelaki Muslim datang kepada Rasulullah - ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- saat beliau di masjid. Lantas orang itu menyeru beliau, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah berzina." Beliau berpaling darinya. Orang itu pun berpindah ke hadapan beliau lalu berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah berzina." Beliau pun berpaling darinya hingga orang itu mengulang perkataannya empat kali. Setelah orang itu bersaksi terhadap dirinya empat kali, Rasulullah - ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pun memanggilnya lalu bertanya, "Apakah engkau gila?" Orang itu menjawab, "Tidak." Beliau bertanya, "Apakah engkau sudah menikah?" Orang itu menjawab, "Ya." Rasulullah bersabda, "Bawalah oleh kalian orang ini lalu rajamlah." Ibnu Syihāb berkata, Abu Salamah bin Abdurrahman memberitahuku bahwa dia mendengar Jābir bin Abdullah mengatakan, "Aku termasuk orang yang merajamnya. Kami merajamnya di lapangan tempat salat. Saat (lemparan) batu membuatnya kesakitan, ia pun kabur lalu kami menemukannya di lorong kampung. Kami pun merajamnya."
عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما قال: «أَجْرَى النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ما ضُمِّرَ مِن الْخَيْل: مِنْ الْحَفْيَاءِ إلَى ثَنِيَّةِ الوَداع، وَأَجْرَى ما لَمْ يُضَمَّرْ: مِنْ الثَّنِيَّةِ إلَى مسجد بني زُرَيْقٍ. قَال ابن عمر: وَكنْتُ فِيمَن أَجْرى. قَالَ سفيان: مِن الْحَفْيَاء إلى ثَنِيَّة الوداع: خمسة أمْيال، أو سِتَّة، ومن ثَنِيَّة الوداع إلى مسجد بني زُرَيْقٍ: مِيلٌ».
Dari Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā-, ia berkata, "Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memacu kuda yang sudah dirampingkan dari Al-Hafya ke Ṡaniyyatil Wadā', dan memacu kuda yang tidak dikuruskan dari Ṡaniyyatil Wadā' ke masjid Bani Zuraiq. Ibnu Umar berkata, "Aku termasuk orang yang memacu (kuda)." Sufyān berkata, "Dari Al-Ḥafya ke Ṡaniyyatil Wadā' berjarak lima atau enam mil, dan dari Ṡaniyyatil Wadā' ke masjid Bani Zuraiq berjarak satu mil'."
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ««إذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ طَعَامًا فَلا يَمْسَحْ يَدَهُ حَتَّى يَلْعَقَهَا، أَوْ يُلْعِقَهَا».
Dari Ibnu Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- bahwa Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Apabila salah seorang di antara kalian telah selesai makan, maka janganlah ia mengusap (membersihkan) jari-jarinya hingga ia menjilatinya atau menjilatkannya (ke orang lain)."
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضيَ اللهُ عنهما قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا جَمَعَ اللهُ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرْفَعُ لِكُلِّ غَادِرٍ لِوَاءٌ، فَقِيلَ: هَذِهِ غَدْرَةُ فُلَانِ بْنِ فُلَانٍ».
Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Apabila Allah telah mengumpulkan orang-orang terdahulu hingga yang terakhir kelak pada hari Kiamat, maka akan diangkat bendera bagi setiap pengkhianat, lalu dikatakan, 'Ini adalah pengkhianatan polan bin polan.'"
1- Haramnya khianat dan ia termasuk dosa besar karena di dalamnya terdapat ancaman yang keras ini.
2- Khianat yang memiliki ancaman ini mencakup semua orang yang mengamanahimu terkait darah, kehormatan, rahasia atau harta lalu engkau mengkhianatinya dan menyalahi prasangkanya tentang keamanahanmu.
3- Al-Qurṭubiy berkata, "Ini adalah penyampaian beliau kepada bangsa Arab sesuai dengan yang biasa mereka lakukan, yaitu mereka mengangkat bendera putih bagi pemenuhan janji ataupun amanah, dan mengangkat bendera hitam bagi perbuatan ingkar janji untuk mencela orang-orang yang khianat. Hadis ini menunjukkan terjadinya hal semisal itu bagi orang yang berkhianat agar ia dikenal dengan karakternya kelak hari Kiamat sehingga penduduk mahsyar mencelanya."
4- Ibnu Ḥajar berkata, "Di dalamnya ada pelajaran bahwa manusia pada hari Kiamat akan dipanggil dengan nama ayahnya, sebagaimana dalam hadis: Ini adalah pengkhianatan polan bin polan."
عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رضي الله عنه أَنَّهُ اسْتَشَارَ النَّاسَ فِي إمْلاصِ الْمَرْأَةِ، فَقَالَ الْمُغِيرَةُ بْنُ شُعْبَةَ: «شَهِدْت النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَضَى فِيهِ بِغُرَّةٍ- عَبْدٍ أَوْ أَمَةٍ- فَقَالَ: ائتني بِمَنْ يَشْهَدُ مَعَك، فَشَهِدَ مَعَهُ مُحَمَّدُ بْنُ مَسْلَمَةَ».
Dari Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwasanya dia bermusyawarah dengan para sahabat tentang orang yang menggugurkan janin wanita hamil. Al-Mugīrah bin Syu'bah berkata, "Aku pernah menyaksikan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menetapkan hukum dalam perkara tersebut dengan memerdekakan budak -laki-laki atau perempuan-. Lantas Umar berkata, "Bawalah untukku orang yang bersaksi bersamamu." Selanjutnya Muhammad bin Maslamah menjadi saksi bersamanya.
عن عَبْدُ الله بْنُ عَبَّاسٍ رضي الله عنه قال: «استَفْتَى سعد بن عُبَادَةَ رسول الله في نَذْرٍ كان على أمِّه، تُوُفِّيَتْ قبل أَنْ تقضيَهُ، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : فاقْضِهِ عنها».
Dari Abdullah bin Abbās -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Sa'ad bin 'Ubādah pernah meminta fatwa kepada Rasulullah tentang nazar ibunya yang meninggal dunia sebelum menunaikannya? Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Tunaikanlah atas namanya!"
عن سلمة بن الأكوع رضي الله عنه قال: «أَتَى النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم عَيْنٌ مِنْ الْمُشْرِكِينَ، وَهُوَ فِي سَفَرِهِ، فَجَلَسَ عِنْدَ أَصْحَابِهِ يَتَحَدَّثُ، ثُمَّ انْفَتَلَ، فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم : اُطْلُبُوهُ وَاقْتُلُوهُ فَقَتَلْتُهُ، فَنَفَّلَنِي سَلَبَهُ».
فِي رِوَايَةٍ «فَقَالَ: مَنْ قَتَلَ الرَّجُلَ؟ فَقَالُوا: ابْنُ الأَكْوَعِ فَقَالَ: لَهُ سَلَبُهُ أَجْمَعُ».
Dari Salamah bin Al-Akwa' -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Seorang mata-mata kaum musyrikin mendatangi Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- saat beliau berada dalam perjalanan. Orang itu duduk bersama sahabat-sahabat beliau dan berbincang-bincang, kemudian pergi. Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Kejar dan bunuhlah ia!" Maka aku membunuhnya. Lantas beliau memberikan harta rampasannya kepadaku." Dalam riwayat lain, "Beliau bertanya, "Siapa yang membunuh orang itu?" Mereka menjawab, "Ibnu al-Akwa'." Maka beliau bersabda, "Ia berhak memiliki harta rampasannya, semuanya."
عن أبي هُرَيْرة رضي الله عنه قال: «اقْتَتَلَتْ امْرَأَتَانِ مِنْ هُذَيْلٍ، فرمَت إحداهما الأخرى بحجر، فَقَتَلَتْهَا وَمَا فِي بَطْنِهَا فَاخْتَصَمُوا إلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَضَى رسول الله: أَنَّ دِيَةَ جَنِينِهَا غُرَّةٌ- عَبْدٌ، أَوْ وَلِيدَةٌ- وَقَضَى بِدِيَةِ المرأة على عَاقِلَتِهَا، وَوَرَّثَهَا وَلَدَهَا وَمَنْ مَعَهُمْ، فَقَامَ حَمَلُ بنُ النَّابِغَةِ الهُذَلِيُّ، فَقَالَ: يا رسول الله، كيف أغرم من لا شَرِبَ وَلا أَكَلَ، وَلا نَطَقَ وَلا اسْتَهَلَّ، فَمِثْلُ ذَلِكَ يُطَلُّ؟ فقال رَسول الله صلى الله عليه وسلم : «إنما هذا من إخوان الكُهَّان» من أجْل سَجْعِهِ الَّذِي سَجَعَ.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, “Ada dua orang wanita dari kabilah Hużail bertengkar. Salah seorang dari mereka melempar yang lain dengan batu, hingga ia dan janin dalam kandungannya mati. Lalu mereka (kabilah Hużail) mengajukan masalah itu kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, maka Rasulullah memutuskan bahwa diat janin dalam kandungannya adalah (memerdekakan) budak laki-laki atau perempuan. Dan beliau memutuskan bahwa diat perempuan tersebut harus dibayar oleh kerabat perempuan pembunuh (dari pihak bapaknya), lalu beliau memutuskan pewarisan diat itu kepada anak-anak dan ahli waris perempuan yang terbunuh tersebut. Maka berdirilah Ḥamal bin Nābigah al-Hużali seraya berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana bisa saya harus membayarkan diat janin yang tidak makan dan tidak minum, tidak bicara dan tidak menangis, padahal hal seperti ini mestinya tidak ada diatnya!?” Maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Orang ini adalah saudaranya tukang tenung." Beliau menjulukinya demikian lantaran omongan bersajak yang ia ucapkan.
عن أبي بكرة رضي الله عنه قال: قال النبي صلى الله عليه وسلم: «أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ؟» ثَلَاثًا، قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ: «الْإِشْرَاكُ بِاللهِ، وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ» وَجَلَسَ وَكَانَ مُتَّكِئًا، فَقَالَ: «أَلَا وَقَوْلُ الزُّورِ»، قَالَ: فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى قُلْنَا: لَيْتَهُ سَكَتَ.
Abu Bakrah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Nabi ﷺ bersabda, "Maukah aku beri tahukan kepada kalian tentang dosa-dosa besar yang paling besar?" Beliau mengulanginya tiga kali. Para sahabat menjawab, "Tentu, wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "Yaitu menyekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua." Lalu beliau duduk, sebelumnya beliau bersandar, seraya bersabda, "Ingatlah, juga perkataan dusta dan kesaksian palsu." Beliau terus-menerus mengulanginya sampai kami berkata, "Andai saja beliau diam (berhenti)."
1- Dosa yang paling besar ialah menyekutukan Allah karena Nabi menjadikannya sebagai dosa besar paling pertama dan paling besar. Hal ini diperkuat oleh firman Allah Ta'ala: "Sungguh, Allah tidak mengampuni kesyirikan kepada-Nya dan mengampuni selain itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya."
2- Besarnya hak kedua orang tua karena Nabi menggandengkannya dengan hak Allah Ta'ala.
3- Dosa terbagi menjadi besar dan kecil. Dosa besar adalah setiap dosa yang mengandung hukuman dunia seperti had dan laknat atau ancaman akhirat seperti ancaman masuk neraka. Dosa besar juga bertingkat-tingkat, sebagiannya lebih berat dari yang lain dalam pengharamannya. Sedangkan dosa kecil adalah semua dosa selain dosa besar.