عن عبد الله بن بُحَيْنَةَ رضي الله عنه وكان من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم «أن النبي صلى الله عليه وسلم صلَّى بهم الظهر فقام في الركعتين الأُولَيَيْنِ، ولم يَجْلِسْ، فقام الناس معه، حتى إذا قضى الصلاة وانتظر الناس تسليمه: كَبَّرَ وهو جالس فسجد سجدتين قبل أن يُسَلِّمَ ثُمَّ سَلَّمَ».
Dari Abdullah bin Buḥainah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia termasuk sahabat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- salat Zuhur bersama para sahabat, beliau berdiri di dua rakaat pertama dan tidak duduk (tasyahud awal). Orang-orang pun ikut berdiri bersama beliau. Hingga tatkala beliau telah menyelesaikan salat dan orang-orang menunggu salam, beliau bertakbir dalam keadaan duduk lalu sujud dua kali sebelum salam. Kemudian beliau salam."
عن عبد الله بن عَبَّاس رضي الله عنهما قال: أقبلْتُ راكبا على حِمار أَتَانٍ، وأنا يومئذ قد نَاهَزْتُ الاحْتِلامَ، ورسول الله صلى الله عليه وسلم يصلِّي بالناس بِمِنًى إلى غير جِدار، مررتُ بين يدي بعض الصفّ، فنزلت، فأرسلتُ الأَتَانَ تَرْتَعُ، ودخلتُ في الصفّ، فلم يُنْكِرْ ذلك عليَّ أحد.
Dari Abdullah bin Abbas -radhiyallahu 'anhumā-, ia berkata, "Aku pernah datang dengan mengendarai keledai betina. Saat itu aku sudah melewati masa baligh, dan ketika Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sedang mengimami orang-orang di Mina tanpa ada dinding (di hadapan beliau). Aku pun lewat di satu barisan lalu turun. Aku biarkan keledai merumput dan aku masuk ke dalam barisan. Tidak ada seorang pun yang mengingkari perbuatanku itu."
عَن ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ إِذَا افْتَتَحَ الصَّلَاةَ، وَإِذَا كَبَّرَ لِلرُّكُوعِ، وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ، رَفَعَهُمَا كَذَلِكَ أَيْضًا، وَقَالَ: «سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، رَبَّنَا وَلَكَ الحَمْدُ»، وَكَانَ لاَ يَفْعَلُ ذَلِكَ فِي السُّجُودِ.
Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua pundak ketika mengawali salat dan ketika bertakbir untuk rukuk. Ketika mengangkat kepala dari rukuk, beliau juga mengangkat kedua tangannya seperti itu dan mengucapkan, "Sami'allāhu liman ḥamidah, rabbanā wa lakal-ḥamdu (Allah mendengar orang yang memuji-Nya, wahai Tuhan kami, bagimu segala pujian)." Namun, beliau tidak melakukan hal itu ketika sujud.
Di antara hikmah mengangkat kedua tangan dalam salat ialah sebagai hiasan bagi salat dan pengagungan kepada Allah Ta'ala.
Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau mengangkat kedua tangannya pada tempat yang keempat, sebagaimana pada riwayat Abu Ḥumaid As-Sā'idiy dalam Sunan Abu Daud dan lainnya, yaitu ketika bangkit dari tasyahud awal dalam salat yang berjumlah tiga rakaat dan empat rakaat.
Juga diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau mengangkat kedua tangannya sejajar telinga tanpa sentuhan, sebagaimana pada riwayat Mālik bin Al-Ḥuwairiṡ dalam Aṣ-Ṣaḥīḥain: "Sesungguhnya Rasulullah ﷺ mengangkat kedua tangannya sampai sejajar telinga apabila bertakbir."
Penggabungan antara bacaan tasmik dan tahmid khusus bagi imam dan orang yang salat sendiri. Adapun makmum, maka cukup membaca: rabbanā walakal-ḥamdu.
Bacaan "rabbanā walakal-ḥamdu" setelah rukuk diriwayatkan secara sahih dari Nabi ﷺ dengan empat redaksi; ini adalah salah satunya. Diutamakan agar seseorang mempelajari redaksi-redaksi tersebut, lalu membacanya silih berganti dalam salatnya.
عَنِ ابْنَ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ: عَلَّمَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَكَفِّي بَيْنَ كَفَّيْهِ، التَّشَهُّدَ، كَمَا يُعَلِّمُنِي السُّورَةَ مِنَ القُرْآنِ: «التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ، وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ».
وفي لفظ لهما: «إِنَّ اللهَ هُوَ السَّلَامُ، فَإِذَا قَعَدَ أَحَدُكُمْ فِي الصَّلَاةِ فَلْيَقُلْ: التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِينَ، فَإِذَا قَالَهَا أَصَابَتْ كُلَّ عَبْدٍ لِلَّهِ صَالِحٍ فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، ثُمَّ يَتَخَيَّرُ مِنَ الْمَسْأَلَةِ مَا شَاءَ».
Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Rasulullah ﷺ mengajariku doa tasyahud, sedangkan telapak tanganku ada di antara dua telapak tangan beliau, sebagaimana beliau mengajariku surah dalam Al-Qur`an: At-taḥiyyātu lillāh, waṣ-ṣalawātu waṭ-ṭayyibāt. As-salāmu 'alaika ayyuhan-nabiyyu wa raḥmatullāhi wa barakātuh. As-salāmu 'alainā wa 'alā 'ibādillāhiṣ-ṣāliḥīn. Asyhadu an lā ilāha illallāh wa asyhadu anna muḥammadan 'abduhu wa rasūluh (Segala ucapan selamat, salat dan kebaikan hanya milik Allah. Semoga keselamatan terlimpah kepadamu, wahai Nabi, dan rahmat Allah serta berkah-Nya. Semoga keselamatan terlimpah pada kami dan hamba-hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya)."
Dalam redaksi Bukhari dan Muslim lainnya: "Sesungguhnya Allah Yang Maha Pemberi keselamatan. Ketika salah seorang kalian duduk dalam salat, ucapkanlah, 'At-taḥiyyātu lillāh, waṣ-ṣalawātu waṭ-ṭayyibāt. As-salāmu 'alaika ayyuhan-Nabiyyu wa raḥmatullāhi wa barakātuh. As-salāmu 'alainā wa 'alā 'ibādillāhiṣ-ṣāliḥīn.' Ketika ia membacanya, doa itu mencakup semua hamba Allah yang saleh di langit maupun di bumi. Selanjutnya membaca: 'Asyhadu allā ilāha illallāh wa asyhadu anna muḥammadan 'abduhu wa rasūluh.' Kemudian ia memilih permintaan sesukanya."
1- Tempat tasyahud ini ialah ketika duduk setelah sujud yang terakhir di setiap salat, juga setelah rakaat kedua pada salat yang berjumlah tiga dan empat rakaat.
2- Kewajiban membaca doa tasyahud ketika duduk tasyahud dan dibolehkan membaca tasyahud apa saja di antara lafaz-lafaz tasyahud yang diajarkan Nabi ﷺ.
3- Boleh berdoa di dalam salat dengan semua doa yang diinginkan selama tidak mengandung dosa.
4- Anjuran memulai dengan diri sendiri di dalam doa.
عن أبي جُهَيْمِ بْنِ الْحَارِثِ بْنِ الصِّمَّةِ الأنصاري رضي الله عنه مرفوعاً: «لو يعلم المار بين يدي الْمُصَلِّي ماذا عليه لكان أن يَقِفَ أربعين خيرا له من أن يَمُرَّ بين يديه».
قال أَبُو النَّضْرِ: لا أدري: قال أربعين يوما أو شهرا أو سنة.
Dari Abu Juhaim bin Al-Hāriṡ bin Aṣ-Ṣimmah al-Anṣāri -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Seandainya orang yang lewat di depan orang salat itu mengetahui dosa yang dilakukannya,sungguh berdiri selama empat puluh lebih baik baginya daripada lewat di depannya." Abu An-Naḍar berkata, "Aku tidak tahu ia mengatakan empat puluh hari atau bulan atau tahun."
عن أبي سعيد الْخُدْرِيِّ رضي الله عنه مرفوعًا: (إذا صلَّى أحدكم إلى شيء يَسْتُرُهُ من الناس، فأراد أحد أن يَجْتَازَ بين يديه فَلْيَدْفَعْهُ، فإن أبى فَلْيُقَاتِلْهُ؛ فإنما هو شيطان).
Dari Abu Sa'īd al-Khudri -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Apabila salah seorang dari kalian salat menghadap sesuatu yang ia jadikan sutrah (pembatas) dari orang lain, lalu seseorang ingin lewat di depannya hendaknya ia mencegah orang itu. Jika ia enggan dicegah, hendaknya ia memeranginya. Sesungguhnya orang itu adalah setan."
عن أبي قَتَادَةَ الأنصاري رضي الله عنه «أن رسول الله صلى الله عليه وسلم خرج حاجًّا، فخرجوا معه، فصرف طائفة منهم -فيهم أبو قَتَادَةَ- وقال: خذوا ساحِل البحر حتى نَلْتَقِيَ. فأخذوا ساحل البحر، فلما انصرفوا أحرموا كلهم، إلا أبا قَتَادَةَ فلم يُحرم، فبينما هم يسيرون إذ رأوا حُمُرَ وَحْشٍ، فحمل أبو قَتَادَةَ على الْحُمُرِ، فَعَقَرَ منْها أَتَانَاً، فنزلنا فأكلنا من لحمها، ثم قلنا: أنأكل لحم صيد، ونحن محرمون؟ فحملنا ما بقي من لحمها فأدركنا رسول الله صلى الله عليه وسلم ، فسألناه عن ذلك؟ فقال: منكم أحد أمره أن يحمل عليها، أو أشار إليها؟ قالوا: لا، قال: فكلوا ما بقي من لحمها»، وفي رواية: «قال: هل معكم منه شيء؟ فقلت: نعم، فناولته الْعَضُدَ ، فأكل منها».
Dari Abu Qatādah Al-Anṣāri -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pergi melaksanakan haji, lalu para sahabat pun ikut bersamanya. Lantas sekelompok sahabat -di antaranya Abu Qatādah- berangkat. Beliau berkata, "Ambillah jalur pantai sampai kita bertemu." Mereka pun menempuh pantai. Setelah rombongan pergi, mereka pun melakukan ihram kecuali Abu Qatādah. Dia tidak melakukan ihram. Saat mereka berjalan, tiba-tiba mereka melihat keledai-keledai liar. Seketika Abu Qatādah menyerang keledai itu lalu menyembelihnya. Kami pun berhenti lalu menyantap dagingnya. Lantas kami bertanya, "Bolehkah kita makan daging buruan padahal kita sedang melaksanakan ihram?" Kami pun membawa sisa dagingnya kemudian bertemu dengan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Kami bertanya mengenai hal itu kepada beliau. Beliau bertanya, "Apakah ada seseorang di antara kalian yang menyuruhnya untuk memburu keledai atau memberi isyarat kepada keledai itu?" Mereka menjawab, "Tidak." Beliau bersabda, "Makanlah sisa dagingnya." Dalam riwayat lain disebutkan, "Apakah kalian membawa sisanya?" Aku jawab, "Ya." Lantas aku menyodorkan lengan atas (keledai) kepada beliau lalu beliau pun menyantapnya."
عن أبي مسعود عُقبة بن عَمْرو الأنصاري البَدْري رضي الله عنه مرفوعاً: «إن الشمس والقمر آيتان من آيات الله، يُخَوِّفُ الله بهما عباده، وإنهما لا يَنْخَسِفَان لموت أحد من الناس، فإذا رأيتم منها شيئا فَصَلُّوا، وَادْعُوا حتى ينكشف ما بكم»
Dari Abu Mas'ūd Uqbah bin 'Amru Al-Anṣāri Al-Badri -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Allah menakut-nakuti hamba-hamba-Nya dengan keduanya. Sesungguhnya keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seorang manusia. Jika kalian mendapati gerhana, maka salatlah dan berdoalah hingga lenyap apa yang menimpa kalian (gerhana)!"
عن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه قال: خَسَفَت الشمس على زمان رسول الله صلى الله عليه وسلم . فقام فَزِعًا، ويخشى أن تكون الساعة، حتى أتى المسجد، فقام، فصلى بأطول قيام وسجود، ما رأيته يفعله في صلاته قطُّ، ثم قال: إن هذه الآيات التي يُرْسِلُهَا الله عز وجل : لا تكون لموت أحد ولا لحياته، ولكن الله يُرْسِلُهَا يُخَوِّفُ بها عباده، فإذا رأيتم منها شيئا فَافْزَعُوا إلى ذكر الله و دُعَائِهِ وَاسْتِغْفَارِهِ.
Dari Abu Musa al-Asy'arī -raḍiyallāhu 'anhu- menuturkan, "Gerhana matahari terjadi di zaman Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Maka beliau bangkit dalam kondisi takut dan khawatir akan datangnya kiamat, hingga beliau tiba di masjid. Beliau berdiri lalu mengerjakan salat dengan berdiri dan sujud yang paling lama, yang mana sebelumnya aku tidak pernah melihat beliau melakukannya dalam salat beliau. Kemudian beliau bersabda, "Sesungguhnya ayat-ayat yang Allah -'Azzā wa Jallā- kirimkan ini terjadi bukan karena kematian atau kehidupan seseorang, akan tetapi Allah mengirimkannya untuk menakut-nakuti para hamba-Nya. Maka apabila kalian melihat sesuatu darinya, bersegeralah berzikir pada Allah, berdoa dan memohon ampunan pada-Nya."
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْعُو وَيَقُولُ: «اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ القَبْرِ، وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ، وَمِنْ فِتْنَةِ المَحْيَا وَالمَمَاتِ، وَمِنْ فِتْنَةِ المَسِيحِ الدَّجَّالِ».
وفِي لَفْظٍ لِمُسْلِمٍ: «إِذَا فَرَغَ أَحَدُكُمْ مِنَ التَّشَهُّدِ الْآخِرِ، فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللهِ مِنْ أَرْبَعٍ: مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ biasa berdoa dengan membaca, "Allāhumma innī a'ūżu bika min 'ażābil-qabri, wa min 'ażābin-nār, wa min fitnatil-maḥyā wal-mamāt, wa min fitnatil-masīḥ ad-dajjāl (Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur, azab neraka, fitnah ketika hidup dan mati, dan dari fitnah Almasih Dajal)." Dalam lafaz Muslim lainnya, "Apabila salah seorang kalian telah selesai dari doa tasyahud akhir, hendaklah ia berlindung kepada Allah dari empat perkara: azab neraka Jahanam, azan kubur, fitnah ketika hidup dan mati, dan dari keburukan Almasih Dajal."
1- Doa perlindungan ini termasuk di antara doa yang penting dan universal karena mencakup permohonan perlindungan dari seluruh keburukan dunia dan akhirat.
2- Adanya azab kubur secara valid.
3- Bahaya fitnah serta pentingnya memohon perlindungan kepada Allah dan berdoa agar selamat darinya.
4- Menetapkan bahwa Dajal akan keluar dengan membawa fitnah yang besar.
5- Anjuran membaca doa ini setelah doa tasyahud akhir.
6- Anjuran berdoa setelah melakukan amal saleh.